Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 52 - Luka Yang Sama


__ADS_3

Ethan yang sudah disuntik obat penenang oleh Dokter hanya bisa bisa terdiam saat Louisa kini sudah menyentuhkan pedang itu ke lehernya, terasa dingin.


Namun, Ethan juga tak terlihat takut jika hari ini dia harus mati di tangan gadis kecil itu.


Ethan menyingkirkan alat bantu pernapasan yang menutupi mulut dan hidungnya, dengan sangat lirih dia berkata, "Aku merindukanmu ... Orang tuaku, kirim aku ke sana."


"Kau membunuh ayahku." Louisa kembali mendesis. "Dia mati karena kamu, seharusnya kamu meninggalkan kamu." Lanjutnya dengan suara yang bergetar.


Sementara di luar, Nyonya Agatha segera memanggil Simon agar menyelamatkan Ethan dari kemarahan Louisa.


Mendengar Louisa akan membunuh Ethan membuat Simon cemas sekaligus marah. "Jangan biarkan putriku jadi pembunuh, aku mohon," pinta Nyonya Agatha.


"Kau tetaplah di sini tapi jangan beri tahu siapapun di mana Louisa sekarang, atau mereka akan memberondong putri mu dengan peluru tanpa ampun," tegas Simon. "terutama Peter, jangan memberi tahu apapun padanya." Nyonya Agatha mengangguk mengerti.


Di kamar, Louisa menatap wajah lemah Ethan. Sekujur tubuh pria itu terluka. Kepala, dada, perut, kaki, semuanya diperban.


"Tunggu apa lagi?" tanya Ethan dengan suara yang hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.


Louisa menarik napas, segala kenangan bersama pria itu kembali terbayang dalam benaknya.


Louisa mencintainya, tetapi keinginan untuk membunuhnya juga sangat besar.


"Ada permintaan terakhir?" tanya Louisa dengan suara tercekat bahkan kini air mata kembali banjir di pipinya.


"Jadikan aku...." Ethan menarik napas panjang. "Orang pertama dan terkahir yang kau bunuh, berjanjilah!"


Louisa enggan menjawab, ia justru mengangkat pedangnya bak seorang algojo yang siap meng-eksekusi mati sang narapidana.


Sementara Ethan justru menatap Louisa tanpa berkedip, seolah ia ingin terus menatap gadis itu hingga ajal menjemputnya.


Louisa ditatap seperti itu merasa goyah, hatinya bergetar dan perasaan cinta pada pria itu justru kembali membuncah.


Tiba-tiba Louisa melempar pedangnya kemudian ia memeluk Ethan dan menangis di dada pria itu, tanpa perduli Ethan yang merintih sakit karena Louisa menekan lukanya.

__ADS_1


Ethan pun tak mempermasalahkan itu, ia membiarkan Louisa melakukan apapun yang gadis itu mau. Apakah membunuhnya atau menangis di pelukannya.


"Dia pergi," lirih Louisa di tengah isak tangisnya. Kedua tangannya memegang pundak Ethan bahkan meremas nya dengan kuat, seolah sebagai pelampiasan segala gejolak yang ada dalam dadanya saat ini. "Aku kehilangannya," bisik Louisa dengan pilu.


Ethan mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Louisa dengan lembut, ia mengusap kepala gadis itu seolah memberi tahu bahwa dia ada di sana untuknya.


Ethan sangat mengerti apa yang Louisa rasakan saat ini, rasa sakit yang begitu besar. Bahkan, siapapun yang kehilangan seorang Ayah pasti akan merasa bahwa hidupnya sudah selesai, dunia telah berakhir meski sebenarnya tidak.


Ethan membiarkan Louisa terus menangis, meski kini dadanya mulai terasa perih dan semakin sakit. Gadis itu menekan wajahnya di dada Ethan, seolah mencari tempat berlindung dari rasa sakit yang menghantam nya.


Bersamaan dengan itu, Simon masuk dan langsung menodongkan pistol pada Louisa. Namun, pria itu hanya bisa tercengang melihat Louisa yang justru kini menangis di pelukan Ethan. Bahkan, pedangnya kini tergeletak di lantai dan dalam keadaan bersih tanpa noda.


Ethan segera memberi isyarat agar Simon pergi, meski ragu tetapi Simon tetap pergi tentu setelah ia mengambil pedang yang dibawa oleh Louisa.


"Kau harus bertanggung jawab, Ethan!" geram Louisa, suaranya teredam dada Ethan. "Apa yang harus aku lakukan tanpa ayahku? Aku dan dan Mommy tidak bisa hidup tanpanya."


"Tapi kenapa kamu membuatnya pergi?"


"Kenapa kamu mengirimnya ke tempat yang sangat jauh?"


Mata Ethan sudah berkaca-kaca mendengar ungkapan hati Louisa, andai ia bisa mengurangi rasa sakit itu maka sudah pasti Ethan akan melakukannya.


Sementara itu, Nyonya Agatha juga sangat terkejut mendengar cerita Simon tentang Louisa yang menangis di pelukan Ethan.


"Aku rasa putri mu bukannya ingin membunuh Tuan Mayer, dia hanya mencari tempat untuk bersandar dan menumpahkan segala rasa sakitnya," kata Simon sembari meletakkan kembali pedangnya ke dinding.


Nyonya Agatha hanya bisa termangu, tak menyangka Louisa akan melakukan ini. Mungkin anak gadis nya itu ... Mencintai Ethan?


"Haruskah kita mengurus pemakaman suami mu sekarang, Nyonya Rae?" tanya Simon kemudian. "Aku rasa semakin cepat semakin baik."


"Tunggu sebentar lagi," kata Nyonya Agatha. "Tunggu Louisa."


...🦋...

__ADS_1


Menangis di pelukan orang yang seharusnya ia bunuh tentu saja adalah hal yang sangat tidak masuk akal, bahkan tak mungkin terbersit dalam benak siapapun.


Namun, itulah yang terjadi pada Louisa.


Saat menatap mata Ethan, entah kenapa ia amarah itu seolah menguap. Apalagi mengingat pria itu juga sudah kehilangan kedua orang tuanya karena ayah Louisa sendiri.


Setelah beberapa menit menangis hingga air matanya tak mau keluar lagi, dengan perlahan Louisa mengangkat kepalanya dari dada Ethan dan seketika ia terbelalak menyadari dada pria itu terluka bahkan kini perban itu sudah merah karena darah segar yang pasti keluar dari luka Ethan.


"Ya Tuhan, luka mu," gumam Louisa. Sementara Ethan hanya bisa meringis menahan sakit itu.


Louisa segera berlari keluar sambil berteriak Dokter. Saat Dokter datang, Louisa langsung memberi tahu bahwa luka Ethan kembali berdarah.


"To-tolong dia, Dokter," lirih Lousia ketakutan. Ia sungguh tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang menangis di dada Ethan sementara dada pria itu terluka.


Tak lama kemudian Peter dan pria itu tampak marah melihat Louisa ada di kamar rawat Ethan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Peter mendesis tajam, menampilkan ketidak sukaannya pada Louisa. "Apa kau ingin menyakiti Ethan? Kau membunuhnya, huh?" Peter sudah melangkah hendak menyerang Louisa tetapi Simon datang tepat waktu.


"Jangan membuat keributan di saat seperti ini," seru Simon mencegah tindakan Peter.


"Jika terjadi sesuatu dengan Ethan, aku akan melemparmu ke kandang buaya!" gertak Peter yang membuat nyali Louisa menciut.


"Kembali ke kamar mu, Nona Rae!" titah Simon tetapi Louisa menggeleng, ia mengintip pada Ethan yang kini kembali diobati oleh Dokter.


"Lukanya terbuka lagi," kata Dokter sembari membersihkan darah di dada Ethan.


Mendengar itu rasa takut Louisa semakin menjadi, apalagi ketika ia melihat Ethan yang terus merintih kesakitan setiap kali Dokter menyentuh lukanya.


"Sekarang, Nona Rae!" tegas Simon. "Atau aku akan menyeretmu!"


Louisa menatap Simon dengan tajam sebelum akhirnya pergi dari sana, membawa hati yang entah kenapa kini justru bimbang. Segala perasaannya sungguh tak menentu sekarang.


Apa yang terjadi dengannya?

__ADS_1


Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan pria itu?


__ADS_2