
"Bagaimana rasanya daging panggang ini?" tanya Nyonya Agatha sembari menambakan satu potong daging panggang ke piring Louisa.
"Enak, tapi sedikit asin," kata Louisa sambil meringis.
"Tapi ini pas untuk Daddy," sambung Tuan Bertrand.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Biar Mommy yang buka pintu," kata Nyonya Agatha.
Ia pun segera membuka pintu dan keningnya berkerut melihat seorang pria muda yang tersenyum ramah padanya. "Cari siapa?" tanya Nyonya Agatha.
"Hai, aku Jose," sapa pria itu sambil mengulurkan tangannya. "Aku yang tinggal di rumah sebelah, tetangga kalian." Jose menunjuk rumah yang berada tak jauh dari rumah Nyonya Agatha.
"Oh, bukankah kau yang berbicara dengan Louisa tadi?" tanya Nyonya Agatha saat mengingat wajah Jose.
"Benar sekali," jawab Jose. "Aku datang ingin memberikan ini untuk kalian, pudding."
"Kami sedang makan malam, kau bergabung?"
Jose tersenyum penuh arti dan mengangguk, sebab memang itu yang incar. Dekat dengan keluarga Louisa.
Nyonya Agatha membawa Jose masuk dan memperkenalkannya dengan Tuan Bertrand.
"Kau?" pekik Louisa.
"Hai," sapa Jose dengan sangat ramah.
"Apa kau datang ke sini untuk menagih uang cemilanku tadi?" celetuk Louisa yang membuat Jose tertawa.
"Tidak sama sekali, aku datang untuk memberikan pudding," kata Jose menjelaskan.
"Kalian saling mengenal?" tanya Tuan Bertrand yang tampak tak senang dengan kedatangan Jose, bahkan ia terlihat curiga pada pemuda itu.
"Kami bertemu di supermarket, Daddy," jawab Louisa.
"Bagaimana kau tahu kami tinggal di ?" tanya Tuan Bertrand lagi dengan dingin.
"Sebenarnya aku tinggal di perumahan ini, rumahku ada di sebelah kanan rumah kalian. Hanya selisih satu rumah," papar Jose yang masih menampilkan senyum ramahnya.
__ADS_1
"Silakan duduk, Jose," kata Nyonya Agatha sembari meletakkan piring kosong di depan pria itu.
"Terima kasih, kalian sangat ramah," kata Jose. "Jika kalian membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku."
"Kau baik sekali," kata Nyonya Agatha yang tak menaruh curiga sedikitpun.
"Itu sudah kewajiban, apalagi pada warga baru. Kami ingin menjalin hubungan yang baik."
Tuan Bertrand melirik Jose dengan sinis, semakin pria itu berbicara manis, semakin ia menaruh curiga padanya. Meskipun Tuan Bertrand tidak tahu kenapa ia harus curiga, tetapi instingnya berkata demikian. Apalagi setelah ia tertipu oleh Ethan.
"Oh ya, apa saja kegiatanmu, Lou? Apa kau sudah menemukan sekolah di sini?" tanya Jose sembari menikmati hidangan yang di suguhkan oleh Nyonya Agatha.
"Belum, aku sedang tidak ingin melanjutkan sekolah," kata Louisa sejujurnya.
"Oh, kenapa? Apa kau punya masalah? Mungkin aku bisa membantu."
"Silakan nikmati makan malamnya, Tuan Jose," sela Tuan Bertrand. "Kami tidak biasa banyak bicara saat makan." Lanjutnya.
Jose mengangguk mengerti, sementara Nyonya Agatha hanya bisa menatap sang suami dengan kening berkerut.
Setelah selesai makan malam, Jose pun pergi apalagi ia menyadari tatapan tidak suka Tuan Bertrand padanya.
Nyonya Agatha mengantarnya sampai ke pintu depan.
"Dia tetangga kita, bukan orang asing," kata Nyonya Agatha.
"Apa kau lupa bagaimana seseorang berpura-pura sebelumnya?" desis Tuan Bertrand. "Belajarlah dari masa lalu, Agatha! Jangan mudah percaya pada orang!"
"Apa maksudmu? Apakah Jose orang jahat?"
"Bisa saja," jawab Tuan Bertrand. "Apa kau tidak ingat bagaimana Ethan berpura-pura baik pada Louisa? Ternyata dia penjahat yang mengincar nyawa kita semua."
Louisa yang saat ini sedang memasukan sisa makanan ke kulkas langsung terhenyak saat mendengar kata-kata sang Ayah.
Hatinya kembali terasa sakit saat mengingat kembali bagaimana Ethan hampir menghabisi nyawa mereka. Namun, yang lebih sakit adalah ketika Louisa begitu percaya pada pria itu. Bahkan, Louisa juga mengungkapkan cinta padanya.
"Apa dia tertawa puas sekarang? Sedangkan kami hidup dalam trauma," seru batin Louisa yang kembali merasakan kemarahan yang membuncah.
"Semoga saja Tuhan menghukumnya atas semua kejahatan yang dia lakukan. Dia benar-benar monster!"
__ADS_1
...🦋...
"Aku pikir kau monster sejati, di mana monster itu tak punya hati apalagi simpati. Tapi kau ... memilikinya."
Ethan hanya menghela napas berat mendengar petuah bijak Simon itu.
"Dari pada menjadi seorang anggota mafia, sepertinya kau lebih cocok jadi pendeta," kekeh Ethan.
Saat ini Ethan dan Simon sedang menikmati sebotol bir di atap, menikmati angin malam yang dingin dan langit yang dipenuhi bintang serta malam yang terang oleh rembulan.
Ethan merebahkan diri, tatapannya lurus ke langit yang gemerlap itu. "Aku seperti melihat diriku di dalam dirinya," kata Ethan akhirnya.
"Dia bilang suka menari dan suka musik, bukankah hidup sebagai penari atau musisi jauh lebih baik dari pada hidup sebagai pembunuh?"
Simon terhenyak mendengar ucapan Ethan, ia menatap sang Don mafia itu dan tatapan Ethan tampak sayu.
"Kau perduli pada hidupnya?" tanya Simon dan Ethan mengangguk, ia mengakui rasa perduli itu memang ada dalam hatinya.
"Kenapa?" tanya Simon.
"Ayahnya memang salah, tapi dia tidak, kan?" Ethan kembali duduk tegak, ia meneguk kembali bir yang sisa sedikit itu. "Sejauh ini, aku tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah, Simon," kata Ethan setelah menghabiskan bir nya.
"Lalu bagaimana bisa aku membunuh Nona Rae? Dia sangat polos, dia apa adanya dan dia ... dia masih murni. Bahkan, dia pernah memperingatkan aku agar tidak melakukan tindakan kriminal. Nanti Tuhan murka dan aku bisa masuk neraka, katanya," kekeh Ethan.
Ia tertawa saat mengingat bagaimana gadis itu memberinya nasihat, awalnya Ethan merasa jengah dan muak. Tetapi kenapa sekarang ia merasa lucu?
Simon mendengarkan curhatan Ethan dalam diam, ini adalah sisi yang sangat berbeda dari seorang Ethan E Mayer.
Curhat, pria itu sedang mencurahkan isi hatinya.
Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara angin sepoi-sepoi. Ethan kembali merebahkan dirinya dan mengenang kembali kebersamaannya dengan Louisa, kenapa ia baru sadar sekarang bahwa gadis itu menyenangkan?
"Aku akan kembali ke London," kata Ethan kemudian yang seketika membuat Simon melotot terkejut.
"Kau ingin mengungkapkan cinta padanya?" pekik Simon yang seketika membuat Ethan kembali terkekeh.
"Tidak, aku hanya ingin melihat wajahnya secara langsung," jawab Ethan. "Mungkin setelah aku melihat wajahnya, aku akan puas dan bisa melupakannya."
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud, Tuan Mayer," kata Simon.
__ADS_1
Namun, Ethan enggan menjelaskan.
"Siapkan jet ku besok siang, aku akan pergi sendiri."