Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 119 - Aksi Istri Don Mafia


__ADS_3

Joel dan kawan-kawan nya menyerang beberapa orang yang berjaga di tempat yang mereka yakini titik lokasi Angel, adu tembak menembak pun tak dapat di hindari. Beruntung, kali ini jumlah mereka menang banyak sehingga dengan mudah musuh di basmi, meski ada beberapa anak buah Joel yang harus terluka parah.


Sementara di dalam ruangan itu, Angel menjerit ketakutan saat ia mendengar suara tembakan dari luar. Bahkan, gadis kecil itu mengalami kejang, wajah nya pucat dan pada akhirnya ia pun tak sadarkan diri.


Beruntung bersamaan dengan itu Dante berhasil masuk, melihat keadaan Angel yang sekarat membuat Dante tak bisa berpikir jernih sehingga ia juga menjerit seperti orang gila. Ia langsung berlari menghampiri Angel, kemudian memangku putri nya yang sudah tidak berdaya lagi itu.


"Angel!"


"Sayang!"


Air mata Dante jatuh hingga membasahi wajah Angel. Ia menatap bom waktu yang kini menyisakan lima belas menit lagi.


"Berhenti menangis dan lakukan sesuatu!" teriak Simon kesal.


Bom waktu yang ada di tubuh Angel sama seperti bom yang ada pada Louisa, dan Simon tidak tahu Ethan ada di mana sekarang. Ia tidak bisa menebak apakah Ethan bisa menyelamatkan Louisa hanya dalam waktu lima belas menit. Dan apakah Peter berhasil sampai tepat waktu, Simon benar-benar tidak bisa memprediksi apapun sekarang.


Dante yang mendengar teriakan Simon langsung tersadar kembali dengan apa yang harus ia lakukan, tetapi saat memperhatikan bom itu baik-baik, Dante menyadari sesuatu.


"Bom nya tidak akan bisa di jinakkan!" lirihnya.


"Jangan gila!" Simon kembali berteriak, antara takut dan marah. "Bukan kah kau anggota militer dan mampu menjinakkan bom? Apa kau sebenarnya orang yang bodoh?"


Dante tak menjawab, ia hanya fokus melihat setiap detail yang ada di rompi itu untuk mencari celah nya.


"Satu-satunya cara adalah melepaskan rompi nya," ujar Dante kemudian.


Simon semakin panik, ia terus melihat arloji nya seolah yang berpacu dengan waktu adalah diri nya. Bagaimana tidak? Peter dan adalah keluarga nya, dan kedua orang itu juga mungkin dalam bahaya sekarang.

__ADS_1


"Joel, panggil ambulance dan minta Dokter terbaik untuk menangani Angel," pinta Simon sembari menepuk pundak Joel. "Aku akan menyusul Peter dan kau urus sisa nya!"


...🦋...


Sementara itu, Peter kini sudah hampir sampai di gedung Robert. Ia dan anak buahnya sudah bersiap turun setelah memastikan memang di sana lah lokasi Ethan saat ini.


Sementara itu, Ethan berusaha menyelinap ke dalam gedung. Namun, jelas ia ketahuan dan di serang karena Amber mengawasi nya dari cctv. Persis seperti yang Ethan lakukan pada kawan anak anak buah nya saat di Moscow.


Namun, Ethan tak takut. Ia terus melawan dan menghabisi setiap orang yang berusaha menghalangi jalan nya.


"Dia seperti super hero di film-film," kekeh Amber. "Tidak mudah mati."


"Kita harus membunuh Louisa sekarang," saran Dexter, lebih tepat nya sebuah keinginan, ia ingin segera menghabisi Louisa. Namun, Amber langsung menolak.


"Tidak, aku tidak ingin membunuh gadis itu sebelum Ethan sekarat," desis Amber. "Aku ingin dia tahu bagaimana rasa nya kehilangan orang yang paling kita cintai. Jadi biarkan gadis kecil itu tetap hidup, lagi pula tidak lama lagi dia juga akan mati. Yang aku inginkan adalah membunuh gadis itu di depan mata Ethan."


"Lagi pula, tidak akan ada yang datang untuk membantu nya," sinis Amber penuh percaya diri.


Sementara itu, Peter dan anak buahnya yang hendak turun dari helikopter justru mendapatkan serangan.


Yeah, meraka sudah terlacak dan itu memudahkan para anak buah Amber untuk menyerang lebih dulu. Serangan itu membuat beberapa anak buah Peter juga tewas, membuat Peter semakin panik dan ia semakin menyesali keadaan nya yang tak bisa apa-apa.


"Tuan Peter!" seru salah satu anak buah nya sembari memegang tangan Peter. "Kita harus turun karena helikopter ini akan segera jatuh."


"Aku tidak bisa turun dalam keadaan seperti ini," ujar Peter. "Kalian yang harus turun dan harus membantu Ethan. Kalian juga—" Ucapan Peter terhenti saat pria itu justru mengikat pinggang Ethan kemudian menyatukan nya dengan pinggang mereka.


"Kita akan turun bersama, hanya kau yang bisa menyelamatkan Don Mayer dan istri nya."

__ADS_1


Peter terdiam, tetapi pria itu langsung melompat turun dan kedua nya jatuh ke dalam air. Beberapa anak buah yang tersisa pun juga melompat ke dalam air, dan tak berselang lama helikopter mereka benar-benar jatuh dan meledak karena mengalami banyak kerusakan akibat serangan musuh.


Setelah keadaan aman, anak buah Peter membawa Peter berenang ke tepi, di susul dengan anak buah yang lain. Mereka pun membopong Peter memasuki sebuah mobil box yang kemudian menabrak pintu masuk.


Hal itu membuat Amber terkejut, ia pun segera memerintahkan anak buah nya untuk menghabisi Peter dan kawan-kawan nya.


Sementara Ethan masih berusaha menemukan keberadaan Louisa tanpa peduli dengan beberapa luka di tubuh nya, ia juga tak peduli akan ada berapa banyak lagi musuh yang akan menghadang karena Ethan pasti akan bisa membunuh mereka.


Di sisi lain, Louisa merasa tak punya cara lain untuk menaklukan pria itu. Alhasil, ia benar-benar pergi ke sudut ruangan. Membuka celana nya seolah ia ingin buang air kecil, di saat itu lah diam-diam dia mengambil dua jarum dari kalung nya dengan sangat hati-hati.


"Ini satu-satu nya senjata yang aku miliki, aku harus menjaga nya dan menggunakan nya dengan baik."


Setelah merasa aman, Louisa kembali berdiri. Ia hendak mendekati pria itu tetapi pria itu langsung menodongkan pistol pada Louisa, seolah meminta agar Louisa tak mendekat.


Dengan terpaksa, Louisa pun berhenti. Namun, tiba-tiba ia menjatuhkan tubuh nyn dan ia memejamkan mata. Seolah ia pingsan, padahal ia hanya ingin menarik perhatian pria itu.


Setelah beberapa saat menunggu, benar saja ... pria itu mendekat hendak memeriksa Louisa, ia berjongkok dan di saat itulah Louisa langsung berbalik dan menusukkan dua jarum itu tepat ke leher pria tersebut.


"Ah!"


Pria itu hanya sedikit mengerang sembari memegang leher nya yang seperti di gigit senyum, ia tampak marah dengan kelakuan Louisa yang menurut nya hanya mencoba melawan. Tanpa tahu bahwa senjata Louisa itu lebih mematikan dari pistol yang ia genggam.


Pria itu sudah mengangkat tangan untuk memukul Louisa, tetapi ....


BRRRUGGHH


Pria itu justru kini ambruk dengan wajah yang membiru. Seketika Louisa panik, apalagi setelah melihat pria itu kejang dan mengeluarkan darah dari mulut nya.

__ADS_1


"Oh Tuhan, apakah aku sungguh membunuh seseorang?"


__ADS_2