Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 120 - Aku Hamil


__ADS_3

"Oh Tuhan, apakah aku sungguh membunuh seseorang?"


Meskipun tadi nya Louisa memang sangat yakin untuk menaklukan pria itu, tetapi sekarang ia merasa tak percaya ternyata ia benar-benar membunuh seseorang, maka Louisa menyesali perbuatan nya itu.


Bahkan, Louisa sampai menangis melihat orang itu kini terbujur kaku di depan nya. Ia menatap kedua tangan nya yang gemetar.


"Oh Tuhan, aku mohon maafkan aku. Aku janji dia akan menjadi orang pertama dan terakhir yang aku bunuh, itu pun aku terpaksa melakukan nya. Aku tidak bermaksud membunuh, sungguh. Tolong percaya pada ku."


"Aku mohon maafkan aku, aku benar-benar tidak bermaksud membunuh nya."


"Aku tidak bermaksud melakukan kejahatan ini."


Louisa kembali ke pojok ruangan, duduk di sana dengan tubuh gemetar dan ketakutan. Tadi nya, Louisa berpikir ia akan melariakn diri setelah pria itu mati. Akan tetapi, rasa bersalah membuat kaki nya terasa berat untuk melangkah keluar.


Kini, Louisa memilih diam dan menunggu Ethan menjemput nya. Ia tidak akan bertindak apapun lagi.


Sementara itu, anak buah Peter berjuang keras membawa Peter masuk ke dalam gedung itu untuk berlindung, mereka juga berjuang keras untuk melawan musuh yang tampak nya begitu haus dengan darah mereka.


"Pergilah!" seru Peter pada dua anak buah nya yang sejak tadi terus menjaga Peter.


"Tapi—"


"Aku datang ke sini bukan untuk menjadi beban kalian, tapi untuk melindungi Louisa dan Ethan."


Peter berkata sembari berusaha menggerakkan tangan nya, meski terasa sakit tetapi ia terus mencoba. "Pergi dan cari Louisa, bawa dia ke hadapan ku!" seru Peter lagi.


Kedua anak buah nya itu saling menatap sebelum akhirnya mengangguk patuh. Namun, sebelum pergi tentu saja mereka memastikan keamanan Peter di sana. Tak lupa mereka juga meninggalkan satu granat, satu pisau dan satu pistol untuk Peter. Walaupun Peter mungkin tak bisa menggunakan benda-benda itu, tetapi setidaknya mereka berusaha.


Sementara itu, Ethan sudah menghabisi begitu banyak anak buah Amber. Bahkan, kini ia sudah hampir mencapai ruangan tempat Lousia di tahan. Ethan juga merusak semua cctv sehingga Amber kini merasa kesulitan mengawasi pergerakannya.


Saat Ethan hendak memeriksa ruangan itu, tiba-tiba Dexter datang dan langsung menembak kaki Ethan.


Ethan langsung mengerang kesakitan dan terjatuh, suara nya itu terdengar oleh Lousia dan gadis itu langsung berlari mendekati pintu yang masih tertutup rapat. Namun, sebuah celah dari kaca membuat Lousia dapat melihat Ethan.


kini Ethan kembali bisa melihat istri nya setelah sekian lama berpisah, keduanya saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ethan?" lirih Louisa, hatinya terasa perih melihat kondisi Ethan yang sudah sangat lemas dan tubuh nya penuh luka.

__ADS_1


"Kau benar-benar tidak mau mati dengan mudah, eh?" geram Dexter yang kembali hendak melesatkan timah panasnya pada Ethan.


Namun, beruntung anak buah Peter datang tepat waktu dan langsung memberondong Dexter dengan peluru, meski Dexter hanya terkena tembakan di lengan karena dia berhasil berlindung tepat waktu.


"Don Mayer!" seru anak buah nya itu sembari berusaha membantu Ethan berdiri.


"Kalian datang bersama Peter?" tanya Ethan.


"Iya," jawab anak buahnya mengangguk cepat.


"Cepat bawa Lousia ke sana biar aku yang mengurus sisanya!"


"Tapi, Don Mayer—"


"Aku mohon!"


Seketika kedua anak buah nya itu terdiam, apalagi ini pertama kali nya Ethan memohon pada mereka.


Ethan segera membuka ruangan itu dan seketika Lousia berhambur ke dalam pelukan nya, istri nya itu langsung menangis tersedu-sedu di pelukan Ethan. Sementara Ethan justru terkejut melihat ada mayat pria yang sudah pasti keracunan itu.


"Lou, pria itu—"


Tentu saja Ethan bingung dengan apa yang di katakan oleh istri nya itu, hingga ia melihat kalung yang tak asing bagi nya.


"Bukan kah ini milik Andres?" tanya Ethan.


"Dia memberikan nya pada ku sebagai senjata, kata nya karena aku tidak bisa berkelahi."


Ethan mengangguk mengerti. Yeah, meskipun Andres gagal melindungi Louisa hingga Louisa di culik, tetapi sekarang Ethan akan tetap merasa berhutang pada anak buah nya yang setia itu.


"Lou, kau harus pergi bersama mereka sekarang!"


Ethan menyerahkan Lousia pada dua anak buah nya itu, tetapi tentu Lousia menolak dan ia langsung menarik lengan Ethan.


"Ayo kita pergi bersama," rengek Lousia.


Mata Ethan semakin berkaca-kaca, apalagi setelah ia melihat Lousia yang mulai menangis. "Kita akan pergi bersama, Sayang, tapi aku harus menyelesaikan sedikit lagi masalah ku."

__ADS_1


Louisa menggeleng, apalagi setelah ia melihat begitu banyak darah di tubuh Ethan.


"Lou, kau hanya punya waktu beberapa menit jadi cepat pergi!" seru Ethan sembari menatap bom waktu yang hanya tersisa tiga menit itu.


Mau tak mau, dua anak buah Ethan menarik Louisa untuk pergi menemui Peter dengan paksa. Tadi nya, salah satu dari mereka ingin menemani Ethan tetapi Ethan melarang karena yang paling penting bagi Ethan sekarang adalah nyawa Lousia, bukan nyawa nya.


Louisa hanya bisa menatap Ethan yang kini pergi menjauh sembari mengisi amunisi, suami nya itu bahkan berjalan dengan pincang dan meninggalkan jejak darah di lantai. Begitu mengerikan.


Air mata Louisa semakin deras, ingin sekali menghentikan Ethan tetapi ia tak mampu.


Sementara itu, Amber pun bersiap menyambut Ethan. Ia menyiapkan senjata nya dengan semangat, yakin kali ini dia bisa menghabisi sang Don mafia yang tampaknya telah kehilangan banyak tenaga itu.


Dexter pun juga bersiap, bertekad ini akan menjadi peperangan terakhir nya.


"Hari ini, salah satu dari kami harus ada yang mati agar semuanya selesai!" geram Dexter.


Ethan yang tadi nya merasa sudah begitu letih akhirnya merasa mendapatkan kembali tenaga nya setelah melihat Lousia. Ia pun bertekad akan menghabisi semua musuh nya dan menguburkan nya di tempat itu.


"Hari ini harus menjadi peperangan yang terakhir, aku harus membunuh mereka semua agar aku bisa hidup normal bersama Louisa."


Sementara itu, anak buah Ethan yang menjaga Louisa berjuang keras agar bisa menghindari musuh dan mengantarkan Lousia dengan selamat pada Peter.


Bahkan, mereka tak peduli meski mereka juga harus terluka atau pun terbunuh. Membuat tangis Louisa semakin menjadi.


Perjuangan mereka kini membuahkan hasil, mereka berhasil menemui Peter dengan selamat. Namun, tentu mereka akan mati bersama jika bom itu tidak bisa Peter taklukkan.


"Uncle Peter," rengek Lousia dengan air mata yang mengalir deras. "Aku mohon selamatkan Ethan, dia terluka parah, tubuhnya berdarah."


Peter tak menjawab curhatan Louisa, ia fokus pada rompi bom itu, mencari cara bagaimana menjinakkan nya atau melepas rompinya.


"Uncle Peter!" rengek Louisa lagi karena pria itu mengabaikan nya.


"Jika kau terus merengek aku akan meminta Ethan menceraikan mu!" gertak Peter yang langsung membuat tangis Louisa semakin pecah.


Kini Lousia menangis nyaring, membuat Peter sampai meringis. Dia berdecak kesal, menatap Louisa dengan tajam seolah ingin memukul nya.


"Diam, gadis kecil!" desis Peter. "Kau mengganggu konsentrasi ku, kita hanya punya waktu satu menit."

__ADS_1


"Aku tidak mau bercerai, aku hamil!"


__ADS_2