Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 154 - Kebahagiaan Yang Sempurna


__ADS_3

Permainan takdir tak ada yang tahu, alurnya selalu penuh kejutan. Dan itu lah yang Louisa dan Ethan rasakan.


Bodyguard yang dulu Louisa taksir mati-matian, ia goda sebisa mungkin tetapi tak berhasil. Akhirnya, kini bertekuk lutut di hadapannya. Bahkan, dia mencintai Louisa lebih dari apapun.


Sementara Ethan, rencananya dulu adalah membunuh keluarga Louisa. Sebagai bentuk pembalasan atas kematian orang tuanya. Namun, Ethan justru terperosok pada pesona putri sang musuh. Dan di sini lah ia berakhir, di sisi putri dari musuhnya, sebagai suami dan calon ayah dari anak yang sebentar lagi akan dilahirkan.


"Hati-hati, My girl."


Ethan memapah Louisa masuk ke dalam lift, seolah istrinya itu nenek-nenek tua yang sudah kesulitan berjalan. Meskipun memang benar Louisa terkadang tak bisa berjalan seperti biasanya karena perut yang sudah sangat besar itu.


Di mansion mereka tentu sudah ada lift, jadi Louisa tak perlu lagi naik turun tangga yang menurut Ethan itu bisa berbahaya.


Berlebihan?


Tidak sama sekali, bagi Ethan itu adalah bentuk perlindungan yang harus dia berikan pada istri dan calon anaknya.


"Kenapa kau tidak menggendongku saja, huh?" sarkas Louisa kesal, meskipun ia senang dengan perhatian sang suami, tapi tak dapat ia pungkiri betapa menyebalkannya di perlakukan seperti orang yang tak berdaya.


Sementara Ethan yang mendengar kata gendong, tanpa berpikir panjang langsung menggendong Louisa. Membuat wanita itu memekik.


"Astaga!" gumam Louisa dengan dada yang berdebar.


Ting


Lift terbuka, Ethan yang masih menggendong Louisa kini berjalan ke luar menuju ruang keluarga.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Louisa pada Simon dan Peter yang babak belur, bahkan Simon mengalami luka robekan di lengannya. Filly si Dokter bedah sekaligus Dokter cinta Simon itu kini sedang menjahit lukanya.


Sementara si perawat Ashley yang juga perawat cinta Peter itu kini sedang mengobati luka suaminya.


"Hanya mengalami sedikit lecet," jawab Simon santai.


Filly mendelik mendengar itu, meskipun luka robekan Simon tidak besar tetapi tetap saja itu butuh dijahit, yang artinya itu bukan lecet semata.


"Aku sangat bersyukur kalian punya pasangan yang cocok," kekeh Ethan. "Bisa mengobati kalian kapan pun dan di mana pun."


"Itu benar," sahut Louisa. "Betapa adil-nya Tuhan itu, mengirimkan Dokter dan Suster untuk kalian.


"Apa kaliantahu betapa mendebarkannya ini untuk kami?" gerutu Filly. "Aku selalu merasa gugup saat harus menjahit lukanya, aku seperti Dokter yang baru melakukan praktik."


"Tapi kamu melakukannya dengan baik, Honey," kata Simon dengan mesra. "Aku tidak merasa sakit saat kau menjahit lukaku, bahkan saat kau tidak membiusku."


Ethan meringis mendengar itu, yang menurutnya hanya modus semata. Beda halnya dengan Louisa yang hanya tertawa kecil.


"Aku rasa mulai sekarang sebaiknya kau pensiun," kata Ethan pada Simon. "Apalagi Filly sedang mengandung, aku yakin Filly tidak mau jika anaknya punya potensi dilahirkan tanpa ayah."


"Kau mendoakan aku mati?" desis Simon kesal.


"Akan lebih baik jika kau di rumah saja, bekerja lah di firma hukum ayah mertua atau bekerja sama dengan iparmu."

__ADS_1


Mendengar itu Filly langsung menatap Ethan, memang ini lah yang ia inginkan sejak dulu apalagi setelah dirinya positif hamil. Namun, Filly merasa tak enak hati jika jika harus meminta Simon berhenti karena selama ini bersama Ethan lah Simon hidup.


Simon, Ethan dan Peter seperti satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.


"Percaya lah, kau harus berhenti!" seru Ethan meyakinkan. "Lihat lah istrimu, dia pasti menginginkan hal itu."


Simon langsung menatap Filly dan seketika ia tersenyum menyadari arti tatapan sang istri. "Demi kamu," kata Simon sembari menggengam tangan sang istri. "Tapi jika Ethan membutuhkanku, aku tidak bisa berdiam diri."


"Aku juga tidak ingin kamu berdiam diri," sahut Louisa.


Louisa terenyuh melihat itu, akhirnya ... Simon benar-benar menemukan tujuan hidup yang pasti.


Adegan sedikit dramatis itu tiba-tiba buyar ketika ....


"Ahh, pelan-pelan, Sayang, itu perih," rengek Peter dengan sangat manja saat Ashley mengobati lukanya.


Mendengar Peter merengek apalagi dengan nada sangat manja seperti ini masih menjadi hal tabu untuk Louisa dan yang lainnya, bahkan terkadang mereka merasa pendengaran mereka lah yang salah.


Selama ini, Peter tak pernah mengeluh sakit, bahkan meskipun harus dijahit lukanya tanpa obat bius. Namun, sejak menikah pria itu menjadi lebih feminim.


Dia bahkan merengek hanya karena demam, tentu saja dia hanya merengek pada Ashley. Dan sepanjang waktu Ashley harus menemaninya, menyuapinya makan dan menemaninya tidur setelah minum obat.


"Makanya lain kali hati-hati, jangan sampai terluka biar tidak perih," ujar Ashley.


Kehidupan mereka memang telah berubah, apalagi setelah menikah dan menjadi kepala rumah tangga. Akan tetapi, itu tak merubah fakta bahwa mereka masih orang-orang seperti dulu.


Meskipun Ethan berusaha menghentikan kegiatan ilegalnya, tetapi tetap saja mereka adalah Mafia. Yang jika punya masalah, akan mereka selesaikan dengan cara mereka sendiri.


"Auh, itu masih perih," rengek Peter lagi yang membuat Ethan semakin meringis.


Ashley meniup luka sang suami dengan lembut, dan itu membuat Peter senyum-senyum senang. "Masih perih?" tanya Ashley.


"Tidak," jawab Peter.


"Astaga, aku bisa gila melihat kalian seperti ini," gerutu Ethan. "Manja sekali, kalian ini Mafia. Kenapa sekarang merengek seperti anak gadis?"


Simon tak menanggapi, apalagi Peter.


Sementara Louisa kini duduk lemas dan bersandar di sofa, ia merasakan tidak nyaman pada perutnya dan itu sudah terjadi sejak pagi.


Hingga tiba-tiba...


"Arrgggh, Ethan!"


Louisa mengerang lirih saat tiba-tiba perutnya terasa sakit.


"Sayang, apa kau akan melahirkan?" tanya Ethan tanpa basa-basi.


"Sepertinya," jawab Louisa. "Sejak tadi pagi aku merasa tidak nyaman dengan perutku."

__ADS_1


Ethan langsung menyentuh perut Louisa dengan lembut. "Apa kau akan keluar, Sayang?" tanyanya pada bayi yang ada dalam perut istrinya itu. Hal yang selalu Ethan lakukan setiap hari, seolah ia berkomonikasi dengan bayinya itu. Dan Ethan akan menganggap anaknya merespon suaranya ketika anaknya menendang.


Seketika bayi dalam kandungan Louisa menendang, membuat Ethan tersenyum senang.


"Sepertinya dia memang melahirkan," kata Ethan.


"Apa kata Dokter saat terakhir check up?" tanya Filly yang sudah selesai menangani suaminya itu.


"Katanya Louisa akan melahirkan dua minggu lagi," jawab Ethan.


"Kalau begitu memang ini saatnya," kata Peter dengan semangat.


"Aku akan menyiapkan mobil," seru Simon yang juga bersemangat menunggu calon anak Ethan.


"Kalian masih terluka, biar Joel saja!"


"Joel?" panggil Ethan.


Pria yang baru saja dipanggil namanya itu sudah datang dan berkata, "Mobil sudah siap, Tuan Mayer."


"Kau cepat sekali," kekeh Simon.


"Sejak tadi pagi aku melihat Nyonya Mayer memang sudah menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan, jadi aku sudah menyiapkan semuanya," pungkas Joel.


"Pengalaman dari istrimu, eh?" goda Ethan dan anak buahnya itu hanya tersenyum sambil mengangguk.


Seketika raut wajah Peter berubah, bahkan sorot matanya tampak sayu.


"Kenapa?" tanya Ashley yang menyadari itu.


"Aku juga ingin anak," kata Peter tanpa basa basi yang seketika membuat Ashley terkekeh. Begitu juga dengan Louisa dan yang lainnya.


"Sudah ada, tinggal menunggu dia keluar." Ashley membawa tangan Peter ke perutnya, yang seketika membuat Peter melotot.


"Benarkah? Kau hamil?" pekik Peter.


Ashley terkekeh dan mengangguk.


"Oh Tuhan, aku senang sekali!" teriak Peter yang langsung memeluk sang istri.


"Kau sungguh hamil?" tanya Louisa, dan tentu ia juga sangat senang.


"Iya," jawab Ashley. "Aku juga baru mengetahuinya pagi ini."


"Oh Tuhan, aku senang. Selamat, Ashley." Louisa yang merasa sakit perut tetap memeluk Ashley, untuk mengutarakan betapa bahagianya ia dengan kabar itu.


Filly pun melakukan hal yang sama, dan kini kebahagiaan mereka semakin sempurna.


"Auh!" pekik Louisa saat merasakan anaknya kembali menendang.

__ADS_1


"Sepertinya dia juga bahagia," kata Ethan.


__ADS_2