
"Wow!" Louisa berseru takjub saat Alice membawanya ke The Great Musical & Dance. Sekolah khusus untuk pecinta musik dan menari ini adalah salah satu sekolah ternama di Madrid.
Orang-orang yang berhasil masuk ke sekolah ini hanyalah orang yang memiliki segudang prestasi atau segudang uang. Sementara Louisa tak memiliki keduanya, yang dia miliki hanya Ethan.
Bukankah itu lebih dari cukup?
"Kau ingin belajar tari apa dan jenis musik, Nona Walter?" tanya Alice. "Karena sebenernya formulirmu tidak lengkap."
"Aku ingin bermain piano," kata Louisa. "Kalau menari, aku suka ballet sejak kecil tapi saat usianya 12 tahun, Mommy melarangku menari ballet," papar Louisa panjang lebar.
"Jadi artinya kau harus memulai semuanya dari nol, Nona Walter." Alice memberi tahu sambil tersenyum ramah. "Di sini tidak ada kelas seperti sekolah pada umumnya, semuanya netral. Kami menentukan kau akan dilatih oleh siapa dan di mana tergantung dari kemampuanmu."
Louisa mengangguk mengerti, ia sempat mendengar bahwa sekolah ini semacam kursus khusus.
"Silakan perhatikan jadwalmu, Nona Walter, kau akan pergi ke sekolah selama lima hari dalam seminggu. Kau bisa memilih, mau memprioritaskan menari atau musik? Atau kau ingin mengejar semuanya?"
Louisa berpikir sejenak, menjadi seorang penari ballet memang impian hampir setiap gadis kecil. Tetapi Louisa harus tahu sekarang, apakah impian itu yang harus ia kejar atau sebenarnya itu hanya suatu hal yang ia sukai?
Sekarang Louisa mengerti kenapa orang tuanya memaksa agar ia belajar bisnis, karena hal itu memang penting dan harus dikejar.
"Nona Walter?" panggil Alice karena ia melihat Louisa tampak melamun.
"Aku sedang berpikir," kata Louisa. "Apa yang bisa membuat masa depanku lebih baik, tari atau musik? Atau mungkin kelas bisnis?"
Alice tersenyum mendengar kata-kata Lousia, dan itu sangat wajar menurut Alice, apalagi Louisa masih 18 tahun. Usia di mana seseorang sedang mencari jati diri, tapi di waktu yang bersamaan ia menginginkan segalanya.
"Masa depanmu akan lebih baik jika kau mengasah kemampuanmu, konsisten dan mencintai apa yang kamu lakukan," pungkas Alice. "Itu tidak akan selamanya indah, Nona Walter. Meskipun kau mencintai musik, konsisten dan bekerja keras untuk itu. Itu bukan jaminan masa depan lebih baik dengan musik, tetapi jika apa yang kau lakukan karena cinta dan kau konsisten, maka kau akan bertahan sampai kau ada di puncak. Rintangan akan selalu ada tetapi kau pasti bisa menghadapinya."
Louisa tersenyum mendengar nasihat Alice, ia merasa wanita itu sangat benar.
"Aku ingin dua-duanya. Musik dan ballet."
"Selamat berjuang, Nona Walter! Bintangmu sudah bersinar, kau hanya perlu usaha untuk menggenggamnya."
"Semoga saja," sahut Louisa penuh harap.
__ADS_1
"Jika kau bisa menari dalam 6 bulan, atau bermain piano dengan baik dalam 6 bulan. Kami akan menempatkanmu sebagai penari utama di acara ulang tahun sekolah yang akan diadakan 6 bulan lagi," tukas Alice.
"Aku baru saja masuk, aku rasa tidak akan mampu tampil di depan banyak orang," kata Louisa pesimis meskipun sebenarnya ia sangat berharap.
"Kami memang akan memilih dari pemula, Nona Walter, seleksi ini diadakan setiap tahun untuk mengetahui sejauh mana bakat para siswa kami. Penampilan yang terbaik akan mendapatkan sertifikat dan pelatihan secara khusus, agar bakat mereka bisa dikenal oleh dunia sekaligus membuka peluang karir mereka."
Tertarik, tentu saja Louisa sangat tertarik dengan keuntungan itu. Ia merasa lebih bersemangat bahkan darahnya kini seolah mendidih
🦋
"Jadi dia sudah masuk kelas, Nona Alice?"
Ethan bertanya pada Alice di seberang telfon.
"Sudah, Tuan Mayer, dia bertekad akan belajar menari Ballet dan bermain piano."
Senyum Ethan mengembang lebar mendengar informasi itu, bahkan dalam benaknya kini ia sudah membayangkan Louisa memakai baju ballerina yang sangat cantik. Kemudian ia menari dengan sangat baik setelah itu memainkan piano dengan melodi yang sangat indah.
"Terima kasih, Nona Alice," ucap Ethan sebelum akhirnya memutuskan sambungan telfonnya.
...🦋...
"Apa dia sudah sadar? Atau jangan-jangan dia mati?"
Seorang wanita yang berpenampilan sangat seksi terlihat sangat marah pada beberapa Dokter di sana.
"Dia masih koma, Nona Amber."
"Sial! Bunuh saja sekalian pria tidak berguna itu!"
Wanita yang bernama Amber itu berteriak lantang, sorot matanya tampak tajam, rahangnya mengeras. Namun, seorang pria datang dan langsung memeluk Amber.
"Tenanglah adikku, kau harus sabar," ucap pria itu. "Kita membutuhkan Jose hidup-hidup, karena hanya dia yang tahu siapa yang membunuh Daddy dengan begitu sadis."
"Tapi pria tak berguna itu lama sekali sadarnya, Dexter, aku tak sabar untuk membunuh penjahat yang telah membunuh ayahku!" Amber mendorong Dexter dengan kuat hingga pria itu menjauh darinya, dada Amber bergemuruh hebat, emosi telah menguasai jiwanya.
__ADS_1
"Begitupun aku," kata Dexter yang masih berusaha tenang meski darahnya juga mendidih, tak sabar ingin menggorok leher orang yang telah membunuh ayah terkasih mereka. "Tapi kita harus sabar, kita harus tahu siapa orangnya, kemudian mencari tahu kelemahan dan kelebihannya barulah kita menyusun rencana. Semuanya harus berjalan rapi, atau kita yang akan mati."
"Kita harus mengenali musuh kita, Amber, agar kita tahu harus menyerang di titik mana."
...🦋...
"Mengenali musuh sama pentingnya seperti mengenali seorang kawan," ucap Ethan sembari melihat beberapa foto seorang wanita dan pria yang baru saja diserahkan oleh Joel padanya.
"Amber adalah tipe wanita yang mudah terbakar emosinya, Tuan Mayer, sementara Dexter lebih tenang tetapi lebih berbahaya," tukas Joel.
"Apa kau pernah melihat ular berbisa yang grasa-grusu, Joel?" kekeh Ethan. "Yang tenang memang yang mematikan."
"Kau benar," sahut Peter. "Lalu apa? Haruskah kita datang ke markas mereka dan menghabisi anak-anak Roberto?"
"Dia tidak ada di markas utama Octopus," sambung Simon. "Aku yakin saat ini mereka sedang bersembunyi sembari menyusun rencana balas dendam. Apalagi sampai detik ini Jose masih menghilang."
"Bagaiamana kalau dia mati tenggelam di laut?" tanya Theo.
"Itu tidak mungkin," sahut Ethan. "Dia pasti selamat, entah sekarang dia sedang bersembunyi karena takut atau sedang menyusun rencana balas dendam bersama anak-anak Roberto."
"Kemungkinan kedua yang paling masuk akal," sahut Joel. "Jose sangat ingin membunuh Peter untuk membalas kematian adik kecilnya."
"Ck, jadi ini salahku," gumam Peter dan seketika ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh Louisa.
"Kau membunuh Bi Amy, aku tidak tahu apakah kau sengaja atau tidak. Tapi aku ingin kau melakukan satu hal, pergi ke makamnya dan minta maaf!"
"Dia tidak salah, jadi sebaiknya kau bertaubat supaya Tuhan tidak marah dan tidak memasukanmu ke dalam neraka."
"Haruskah aku menyerahkan diri pada Jose?" tanya Peter kemudian yang membuat semua orang tercengang, tak terkecuali Ethan. "Aku yang salah karena sudah membunuh adiknya, seharusnya aku hanya menampar bocah itu. Jadi aku rasa mungkin masalah dengan Jose akan selesa jika aku datang padanya dan meminta maaf."
Semua orang menganga lebar, tak percaya seorang Peter membicarakan tentang penyerahan diri dan pengakuan atas kesalahannya.
"Apa kau bermimpi bertemu malaikat?" ejek Simon yang seketika membuat semua orang tertawa.
"Bukan, itu hanya saran dari setan kecil itu-Louisa."
__ADS_1