
Nyonya Agatha menatap putrinya yang saat ini sedang duduk merenung di sofa sembari memainkan cincin di jari manis nya, sejak Ethan pergi lagi, Louisa memang hanya diam sepanjang hari, seperti memikirkan sesuatu tiada henti.
Tentu saja Nyonya Agatha dapat memahami perasaan putrinya yang kini telah menjelma menjadi seorang istri.
Secara naluriah, perasaan wanita akan lebih peka dan sensitif saat statusnya menyandang status sebagai istri dari pria yang dicintainya.
"Hey, Sayang." Nyonya Agatha duduk di sisi Louisa. "Kau mau kita jalan-jalan akhir minggu ini?" tanyanya untuk menghibur Louisa.
Ia sedikit meringis melihat banyak bercak merah di leher, dada bahkan pundak Louisa. Ia tak bisa membayangkan apa yang saja yang Ethan lakukan pada putrinya yang masih polos itu.
"Aku tidak mood, Mom," jawab Louisa malas.
"Kenapa? Kamu masih mencemaskan Ethan?" Nyonya Agatha menelisik wajah Louisa, jelas sekali anaknya itu memang sedang sangat cemas.
"Saat Ethan pergi, dia bilang karena Peter terluka, aku rasa dia sedang dalam masalah besar, Mom." Louisa berkata lirih sembari menatap cincin di jari manisnya. "Aku takut dia tidak kembali lagi."
"Dia sudah menjadi anggota mafia sejak kau belum lahir, Lou," tukas Nyonya Agatha. "Dia pasti tahu cara bertahan hidup dalam segala situasi, apalagi sekarang kalian sudah menikah. Dia tidak akan meninggalkan kamu sendirian, Sayang."
Louisa mengulum senyum dan mengangguk. "Dia memang sudah berjanji akan pulang ke pelukan ku, Mom."
"Kau harus percaya pada janjinya, Sayang, seorang istri harus yakin pada janji yang keluar dari mulut suaminya."
Louisa kembali hanya mengangguk.
"Ah, sebenarnya Mommy masih tidak percaya kau benar-benar sudah menjadi seorang istri."
"Aku juga, semuanya masih seperti mimpi."
Louisa tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan Ethan selama 24 jam di kamar hotel. Benar-benar definisi sempurna dari kata menghabiskan waktu berdua saja. Dan mungkin Ethan adalah definisi sempurna dari seorang kekasih sempurna, dia memberikan segalanya yang Louisa mau, bahkan sesuatu yang tidak mungkin bagi sebagian orang.
Memangnya siapa yang mencari gaun pengantin dan cincin permata di tengah malam?
"Ethan melakukan apapun yang aku mau, Mom, artinya ... jika aku mau dia pulang ke pelukan ku, dia pasti pulang ke pelukan ku."
...🦋...
DOORRR
DOORRR
DOORRR
__ADS_1
"Sial!" geram Jose saat mendengar suara tembakan sebanyak tiga kali di headphone yang ia pakai.
"Ada apa?" tanya Amber yang melihat Jose tampak kesal.
"Mayer menghabisi Dante," jawab Jose lesu yang seketika membuat Amber melotot terkejut.
"Bagaimana bisa?"
Amber segera duduk di kursi dan ia memakai headphone yang terhubung ke sebuah perangkat komputer, sementara Jose memutar kembali rekaman beberapa menit lagi.
"Aku tidak akan mendapatkan apapun dengan membiarkan mu hidup."
Kening Amber berkerut saat mendengar suara Ethan.
"Jadi aku rasa kau lebih baik mati, setidaknya untuk membalas apa yang telah kau lakukan pada Peter."
Satu detik setelah Ethan mengucapkan kalimat itu, terdengar suara tembakan satu kali bersamaan dengan suara erangan seorang pria.
Kemudian kembali terdengar suara tembakan dan hanya terdengar suara lirih seorang pria.
Suara tembakan ketiga sudah tak dengar suara apapun lagi selain perintah Ethan untuk membuang mayat.
"Dia membunuh Dante," gumam Amber. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kematian Dante bukan masalah yang besar untuk kita," ujar Jose. "Lagi pula aku mengirim dia ke sana hanya untuk memata-matai Ethan dan mengetahui lokasi mereka. Sekarang aku sudah mendapatkan nya."
Jose menunjuk satu titik merah di layar monitor. "Mereka ada di sini," serunya. "Sekarang kita hanya perlu tahu berapa penjaga yang mereka punya agar kita bisa menghabisi atau mengimbangi mereka."
"Kita harus membagi tugas dengan anggota yang lain, Amber, jadi aku rasa kita harus meeting kembali dengan Gonza dan yang lainnya."
"Jangan khawatir, aku akan mengatur itu."
...🦋...
"Kau melakukan pekerjaan mu dengan sangat baik, Dokter Wales," puji Ethan saat sang Dokter sedang mengobati Dante, setelah pria itu bersedia mengeluarkan chip yang ada di belakang lehernya.
Chip tersebut Ethan masukan ke dalam mayat seroang pria kemudian mayat itu Ethan buang ke tengah laut.
Sebelum chip itu itu dicabut, tentu saja Ethan harus berpura-pura menembak dan Dante harus berpura-pura mengerang kesakitan.
"Aku seorang Dokter dan ini lah tugasku," sahut Dokter Wales sembari mencebikkan bibirnya. "Mengobati orang terluka adalah tugas Dokter, sementara gangster membuat orang lain terluka."
__ADS_1
"Aku hanya melukai orang yang juga melukai, Dokter," dalih Ethan.
"Terserah apa katamu," tukas Dokter Wales yang sudah merasa malas dengan pria yang satu itu, yang tak pernah datang padanya kecuali membawa orang yang sekarat.
Bahkan, Dante juga sekarat. Dokter Wales tahu pria itu di siksa, dipukuli bahkan kedua jarinya dipotong dan setelah itu tak ada yang mengobatinya, membuat luka itu infeksi tetapi untung lah sekarang ia berhasil menyelamatkan pria malang tersebut.
"Siapa yang memotong jarinya?" tanya Dokter Wales sembari melirik Ethan dengan dingin.
"Aku," jawab Ethan dengan santai dan tenang.
"Kau kejam sekali, apa kau tahu bagaimana rasanya jari dipotong dan setelah itu tak langsung diobati?"
"Aku hanya melampiaskan kemarahan ku karena dia menembak Peter, aku memotong jarinya agar dia tida bisa menembak lagi."
"Kau manusia apa bukan?"
"Aku putra ayah dan ibuku, tentu 100% manusia."
Dokter Wales hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ethan. "Oh ya, bagaimana keadaan Peter? Apa belum ada kemajuan?
"Masih sama, dia hanya bisa menggerakkan jarinya."
"Sialan!" geram Ethan kesal. "Aku mohon cepat cari obat atau apapun agar dia bisa kembali bergerak."
"kami sedang berusaha." Dokter Wales menjawab singkat.
Setelah itu, Ethan kembali ke ruang rawat Peter dan pria paruh baya itu kini sedang menikmati semangkuk es krim, tentu saja disuapi oleh Simon.
"Sejak kapan kau makan es krim seperti anak bayi?" tanya Ethan sembari merebahkan diri di sofa, ia melepas jasnya kemudian melepas beberapa kancing atas kemejanya.
"Sejak aku lumpuh," kata Peter. "Aku selalu sedih karena lumpuh, aku mencoba menghibur diri dengan es krim. Anak-anak biasanya senang saat diberikan es krim, jadi aku mencobanya."
"Jawaban yang konyol," dengus Ethan sembari memejamkan mata.
"Apa kau digigit tawon?" tanya Peter kemudian saat tatapannya tertuju pada leher dan dada Ethan yang sedikit terbuka.
Simon pun juga menatap Ethan dan pupil matanya melebar menyadari ada banyak bercak merah di leher dan dada Don mafia itu.
Ethan yang mendengar pertanyaan itu langsung membuka mata, ia menatap Peter dengan bingung. "Apa?"
"Leher dan dada mu merah, apa kau alergi atau di gigit tawon?"
__ADS_1