Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 51 - Kemarahan


__ADS_3

"*Tidak selamanya kami akan selalu bersamamu, Sayang, jadi kamu harus belajar melakukan sesuatu tanpa kami."


Ethan yang saat ini sedang rebahan di pangkuan sang Ibu langsung beranjak duduk, lagi-lagi ia cemberut dan itu terlihat sangat mengemaskan di mata Ibunya.


"Mom, aku ini anakmu. Jadi kau harus selalu bersamaku, harus selalu menjagaku."


Mendengar penuturan bocah itu, ibunya terkekeh dan sang Ayah pun datang yang juga tertawa.


"Kau itu laki-laki, Tuan muda," kata sang Ayah. "Kau harus bisa menjaga diri sendiri dan juga menjaga orang-orang yang kau sayangi. Kau paham?


Ethan berpikir sejenak, ia mengetuk-ngetukan jarinya di dagu sementara mata bocah itu melirik ke atas.


"Jangan banyak berpikir," seru sang Ayah sambil duduk di sisi Ethan. "Itu adalah tanggung jawab kamu sebagai seorang pria, suatu hari nanti kamu akan bertemu seorang wanita. Kemudian kamu akan jatuh cinta, kalian menikah dan pasti punya anak yang lucu-lucu. Jadi, kamu harus bisa melindungi mereka semua."


"Kapan aku akan menikah? Aku belum menemukan wanita yang bisa membuatku jatuh cinta."


Lagi-lagi kedua orang tua Ethan dibuat tertawa dengan pengakuan sang tuan muda itu.


"Saat kau dewasa nanti, ketika kamu sudah menjadi pria yang gagah dan berani."


"Ah, itu akan menyenangkan!" seru Ethan.


Bersamaan dengan itu, seroang wanita paruh baya masuk ke kamarnya sembari membawa tas sekolah milik Ethan.


"Bibi Venly!" seru Ethan girang.


"Sudah waktunya pergi ke sekolah, Ethan," kata Bi Venly sambil tersenyum lembut.


"Baiklah, Bibi," sahut Ethan sambil merangkak turun dari ranjang.


Namun, tiba-tiba ada beberapa orang yang mau masuk ke kamar itu membuat Ethan terkejut.


"Kalian siapa?" tanya Ethan.


Akan tetapi, para pria yang memakai topeng itu tak menjawab. Mereka justru mengangkat senjata pada menembaki Bi Venly juga kedua orang tua Ethan.


Ethan menjerit ketakutan, apalagi darah mereka terciprat ke wajah dan seluruh tubuh Ethan*.


"AAAGGHH!"


"Ahh!"


Peter terkejut mendengar teriakan Louisa dari luar, bersamaan dengan itu Ethan juga berteriak dan langsung bangun dari komanya.


Bahkan, pria itu langsung duduk meski seluruh tubuhnya bergetar.


Dokter yang ada di sana tercengang, ini pertama kalinya mereka melihat seseorang sadar dari koma dengan berteriak seperti bangun dari tidur saat mimpi buruk.


"Oh Tuhan, akhirnya kau sadar juga Ethan!" gumam Peter senang.

__ADS_1


"Kami akan memeriksa keadaan belau, Tuan Peter," kata Dokter dan Peter pun mengangguk.


Sementara Ethan, pria itu hanya termangu. Tatapannya kosong dan napasnya memburu.


Ia seperti habis berlari dari lembah kematian.


"Tuan Mayer, berbaringlah!" pinta Dokter sembari menidurkan Ethan kembali ke ranjangnya.


Ethan hanya bisa menurut, saat ini ia tak bisa berpikir tentang apapun. Yang ada dalam benaknya hanya wajah kedua orang tuanya dan seorang wanita paruh baya yang merupakan pengasuh Ethan.


Mengingat mereka membuat tubuh Ethan kembali bergetar, bahkan tiba-tiba jantungnya berdetak lebih semakin. Semakin cepat dan cepat, membuat Dokter bingung dan panik.


"Tuan Mayer, tenanglah," serunya dengan lembut.


Ethan seperti mengalami emosi yang sangat bergejolak dalam jiwanya, emosi yang tak bisa ia kontrol.


"Semuanya baik-baik saja, tenanglah," bisik Dokter itu kembali. Namun, jantung Ethan berdetak dua kali lebih cepat dari detak normalnya.


"Siapkan obat penenang!"


...🦋...


Setelah menangis sejadi-jadinya dan menjerit sekuat tenaga, kini Louisa menyeka air matanya lagi dan lagi. Ia menarik napas panjang kemudian berdiri dengan tegak yang membuat sang Ibu bingung.


"Mau ke mana, Lou?" tanya Nyonya Agatha.


"Aku mau membunuhnya!" geram Louisa yang terlihat sangat marah.


Namun, Louisa yang dikuasi amarah dan kesedihan dalam waktu bersamaan tak bisa lagi berpikir jernih.


"Ethan!" teriak Louisa sembari berusaha mencari Ethan ke setiap sudut rumah itu.


"Ethan, keluar kamu!" teriak Louisa sembari mengambil sebuah pedang yang dijadikan pajangan di dinding.


"Lou, letakkan itu!" seru Nyonya Agatha mencoba menghentikan anaknya yang ingin mengamuk. Namun, kali ini Louisa enggan mendengarkan sang ibu.


Ia terus berjalan mencari keberadaan Ethan sembari meneriakkan namanya dengan lantang.


"ETHAN?"


Gadis itu kembali berteriak yang membuat beberapa orang langsung datang.


Melihat Louisa memegang sebuah pedang, mereka langsung mengepung Louisa dan menodongkan senjata padanya.


"Katakan padaku di mana Ethan?" desis Louisa tajam, bahkan dia tidak terlihat takut pada beberapa pria yang kini mengepungnya bahkan siap menembaknya.


Tak berselang lama, Peter dan ke tiga temannya juga datang ke sana.


Melihat Peter dan Theo seketika Nyonya Agatha merasa takut bahkan dia langsung melangkah mundur, mereka berdua lah yang telah membunuh Bi Amy dan kepala keamanan keluarga mereka dengan cara yang sadis dan itu meninggalkan trauma tersendiri begi Nyonya Agatha.

__ADS_1


"Hey, letakkan itu!" seru Peter dengan tegas.


"Beri tahu aku di mana Ethan?" Louisa mengangkat pedangnya pada Peter. "Kalian membunuh ayahku, kalian benar-benar bajingan!" geramnya.


"Ayahmu mati di tangan Jose," seru Joel sembari mendekati Louisa.


"Bohong!" bantah Louisa. "Pasti kalian yang membunuhnya!"


"Untuk apa kami membunuhnya ketika Ethan sendiri sudah tidak menginginkan kematiannya," sanggah Peter dengan cepat.


"Apa yang dikatakan Joel itu benar, Nona Rae," sambung Simon. "Kami melihat sendiri, Jose yang menembak ayahmu."


"Tuan Mayer sudah memintanya pergi," kata Joel karena hanya dia yang menyaksikan kejadian demi kejadian dalam tragedi kemarin itu. "Tapi dia kembali, tanya ibumu jika kau tidak percaya!"


Louisa langsung menoleh pada sang Ibu, dan nyonya Agatha hanya bisa mengangguk lemah.


"Tidak, itu pasti tidak benar." Louisa masih mencoba mengelak.


"Itu benar, Lou!" tegas ibunya. "Ethan meminta kami pergi, bahkan dia mengarahkan jalan untuk kami. Tapi ayahmu ingin menebus dosanya pada kedua orang tua Ethan sehingga dia kembali untuk menyelamatkannya."


Louisa masih menggeleng, ia tak ingin percaya hal itu.


"Saat kecelakaan terjadi, Ethan masih berusaha menyelamatkan kami."


"Tidak, tidak. Itu tidak mungkin!" Louisa kembali menangis.


"Terserah kau percaya atau tidak," ujar Peter dengan dingin. "Itu tidak penting bagi kami." Lanjutnya.


"Tapi ayahku mati karena Ethan." Louisa kembali mendesis tajam. "Jika saja dia tidak membawa kami pergi, saat ini kami pasti masih ada di rumah."


"Atau mungkin kalian bertiga sudah ada dalam peti mati," sambung Joel. "Asal kau tahu saja, Nona Rae, Jose dan Roberto berencana menggunakan mu untuk memancing Ethan. Dan mereka pasti akan membunuh kalian bertiga."


Louisa terdiam, tetapi ia masih tampak tidak percaya dengan penjelasan Joel.


"Lou!" Nyonya Agatha menyentuh pundak anak gadisnya itu. "Sudahlah, Sayang, lagi pula apapun yang kau lakukan takkan bisa menghidupkan ayahmu lagi."


"Tinggalkan mereka!" titah Peter pada anak buahnya.


Mereka semua pun pergi meninggalkan Louisa dan Ibunya. Hingga tak berselang lama, Louisa melihat seorang Dokter yang keluar dari sebuah ruangan.


Tanpa pikir panjang Louisa menghampiri ruangan itu.


"Lou, kamu mau ke mana?"


Louisa tak menjawab, ia melangkah cepat dan masuk ke dalam ruangan itu.


"Kau di sini rupanya!" geram Louisa saat melihat Ethan yang terbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


Sementara Ethan hanya menatap Louisa dengan tatapan sayu. Hingga tiba-tiba gadis itu mengangkat pedangnya dan mengarahkannya tepat ke leher Ethan.

__ADS_1


"Mari kita akhiri semua ini, Mayer!"


__ADS_2