
"Princess, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Ed. "Sebenarnya aku ... aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu."
Louisa tercengang mendengar ungkapan perasaan Ed itu, ia hanya bisa melotot tanpa tahu harus bereaksi seperti apa.
"Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat." Ed menarik tangan Louisa dan menggenggamnya dengan lembut. "Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku lagi, aku sangat menyukaimu."
"Oh, terima kasih," ucap Louisa sembari menarik kembali tangannya. "Aku harap itu hanya suka sebagai teman, Ed. Aku juga menyukaimu karena kau sangat baik," celoteh Louisa sambil cengengesan.
"Tidak, Princess, bukan sebagai teman tapi aku ingin kau jadi kekasihku," tukas Ed yang membuat Louisa melongo.
"Oh ya?" gumamnya tak percaya.
"Apa kau mau menjadi kekasihku?" tanya Ed dengan wajah yang merona dan tersenyum malu-malu.
"Aku sudah punya kekasih," jawab Louisa yang seketika membuat senyum Ed musnah. "Maafkan aku, Ed," cicit Louisa.
"Tapi aku tidak pernah melihat kamu bersama seorang pria, Princess," kata Ed yang mencoba tak mempercayai ucapan Louisa. "Apalagi kamu baru pindah ke Madrid, kan?"
"Benar," jawab Louisa jujur. "Kekasihku adalah pria dari London, kami sudah menjalin hubungan sejak lama," tukas Louisa dan ia tidak tahu apakah itu termasuk berbohong atau tidak. Yang jelas, Louisa mencintai Ethan sejak lama.
"Lalu di mana sekarang kekasihmu?" tanya Ed penasaran.
"Sedang sibuk bekerja." Ed langsung menghela napas lesu mendengar jawaban Louisa, apalagi saat ia menatap mata gadis itu. Tak ada kebohongan di sana, membuat hati Ed semakin kecewa.
"Maafkan aku, Ed," ucap Louisa dengan tulus. "Aku rasa menjadi teman itu jauh lebih baik untuk kita."
Ed hanya menanggapi ucapan Louisa dengan gumaman tak jelas, pria itu tampak sangat patah hati atas penolakan Louisa. "Aku harus pulang sekarang," kata Louisa sembari menarik tasnya.
"Aku akan mengantarmu," tukas Ed.
"Tidak, terima kasih," tolak Louisa dengan lembut.
"Oh, ayolah, Princess. Kau bilang kita bisa menjadi orang teman, kan?"
Louisa berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk setuju.
Ed pun mengantar Louisa pulang dengan mengendarai motor, di mata hal itu tidak pernah Louisa lakukan sebelumnya. "Sebenarnya aku tidak pernah naik motor," kata Louisa. "Jadi tolong pelan-pelan ya, Ed, aku takut jatuh."
Ed tertawa kecil mengangguk. "Kamu pegangan begini biar tidak jatuh." Ed menarik tangan Louisa agar dilingkarkan ke perutnya.
__ADS_1
Ah, sebenarnya itu hanya modus Ed agar Louisa memeluknya.
Tanpa Louisa sadari, Andres mengawasi Louisa jadi jauh dan tentu anak buah kepercayaan Ethan itu memotret Louisa yang sedang berboncengan dengan Ed.
...🦋...
"Benar dugaan ku," gumam Ethan saat mengetahui fakta tentang Dante. "Dante Aveiro, putrinya bernama Angel Aveiro, bukankah itu yang nama yang cantik?" kekeh Ethan.
"Secantik wajahnya," kata Simon. "Lihatlah, dia memiliki wajah yang sangat cantik seperti boneka." Data yang ditemukan oleh Simon bukan hanya tentang Dante, tetapi lengkap dengan keluarga Dante, keluarga istrinya dan juga putri mereka yang bernama Angel Aveiro.
Yang membuat Ethan semakin yakin bahwa Dante melakukan penyerangan ini atas perintah orang lain adalah fakta bahwa Dante berasal dari keluarga kelas menengah. Bukan karena bayaran? Atau semacamnya.
"Siapapun yang ada di belakang Dante pasti sedang mengancam putrinya sekarang," tebak Ethan. "Cari tahu di mana putrinya dan bawa dia hidup-hidup ke hadapanku!"
Kini Ethan segera pergi ke ruang bawah tanah, ia juga memerintahkan anak buahnya membawa makanan dan minuman untuk Dante.
"Halo, kawan!" sapa Ethan dengan raut wajah yang tampak berbeda sekarang.
Dante tak merespon, ia sudah terlalu lelah bahkan merasa sudah akan mati. Sudah berhari-hari Ethan tak memberinya makan dan minum, siksaan yang lebih kejam dari yang ia bayangkan.
"Hari ini aku akan memberikan hadiah untukmu," kata Ethan.
Ethan terkekeh mendengar penuturan musuh barunya itu.
"Tidak, aku akan membuatmu hidup lebih lama lagi agar kau bisa melihat putrimu tumbuh dewasa."
Kedua bola mata Dante langsung terbelalak mendengar kata putrimu dari mulut Ethan, bahkan raut wajah Dante langsung tampak tegang dan Ethan menyadari hal itu.
"Sebagai seorang ayah, pasti kau sangat ingin melihat putrimu dewasa, kemudian bertemu dengan pria yang mencintainya, menikah dan memiliki bayi yang lucu." Ethan melanjutkan sembari menatap mata Dante dengan dalam.
Jika seseorang tak bisa digertak dengan kematian, bukankah ia bisa digertak dengan kehidupan?
Kehidupan orang yang dicintainya.
"Kau pasti pernah mendengar nama Mayer dan The Eagle, Dante, kami tidak pernah gagal dalam melakukan sesuatu," kata Ethan dengan percaya diri. "Kami akan segera menemukan putrimu, dan apakah kami akan membunuhnya atau tidak—"
"Apa yang kau inginkan?" tanya Dante dengan suara yang bergetar, bahkan tatapan pria itu sudah berkaca-kaca dan itu mengingatkan Ethan pada Tuan Bertrand.
Sejahat apapun seseorang, mereka akan tidak berdaya jika itu harus menyangkut putri mereka.
__ADS_1
"Katakan siapa yang menyuruhmu," tegas Ethan.
"Aku tidak bisa," jawab Dante lesu.
"Kalau begitu aku akan menemukan putrimu dan menghabisinya." Ethan kembali menggertak, persis seperti yang ia lakukan pada Tuan Bertrand dulu. Namun, jauh dalam hatinya tak sedikitpun ia memiliki keinginan untuk menyakiti Angel, gadis kecil yang mungkin masih berusia 5-6 tahun.
Dante masih bungkam, membuat Ethan semakin kesal tetapi ia harus bersabar.
Anak buah Ethan datang membawakan makanan juga minuman, hal itu membuat Dante terkejut bahkan ia berpikir makanannya pasti sudah diracun.
"Makanlah, aku harus memastikan kau hidup," kata Ethan dengan tenang. Namun, Dante hanya menatap makanan yang tampak lezat itu. Dia sangat lapar, perutnya sudah berbunyi bahkan ia terus menelan air liurnya.
"Itu tidak diracun," ujar Ethan yang seolah mengerti ketakutan Dante.
Dante pun langsung memakan makanan itu dengan sangat lahap.
"Orang yang hampir kau bunuh adalah ayah keduaku," kata Ethan kemudian. "Sama seperti aku yang tidak mau kehilangan dia, putrimu juga pasti tidak mau kehilanganmu apalagi kamu adalah ayah kandungnya. Satu-satunya orang yang dia miliki."
Ethan melancarkan aksinya, menyerang hati pria itu. Saat tubuh seseorang terlalu kuat untuk menerima hantaman dari luar, maka serang lah hatinya, bukankah itu ide bagus?
Dante langsung berhenti mengunyah saat mendengar apa yang Ethan katakan.
"Aku kehilangan ayahku saat usiaku baru 8 tahun, kemudian Peter merawat ku dengan sangat baik sampai sekarang. Dan kau hampir saja merenggut dia dariku."
"Aku terpaksa melakukan itu," sanggah Dante dengan cepat. "Aku bukan gangster seperti kalian," tambahnya.
"Berapa mereka membayar mu?" tanya Ethan. "Aku akan membayarnya sepuluh kali lipat."
Dante langsung tertunduk, sekarang ia dilema haruskah menyerah pada Ethan atau tetap setia pada Jose yang telah berjanji akan menyelamatkan putrinya.
Jika dia menyerah pada Ethan maka Jose juga pasti membunuh putrinya, tetapi jika ia tetap setia pada Jose maka Ethan mungkin benar-benar akan menghabisi putrinya. Dante sangat tahu orang-orang seperti Ethan akan melakukan apa yang mereka katakan, mereka gangster yang tak punya hati.
Sekarang Dante harus berpihak pada siapa yang lebih kuat dalam peperangan ini.
"Seharusnya kau tahu siapa aku, Dante," tegas Ethan yang mulai kehilangan kesabarannya. "Orang yang merugikan ku akan aku singkirkan dengan mudah, dan orang yang menguntungkan akan aku lindungi, takkan ku biarkan lecet sedikitpun."
Dante menatap Ethan lekat-lekat, ancaman pria itu terdengar sangat mengerikan dan Dante sudah mendengar banyak hal tentang pemuda itu.
"Buktikan saja," kata Dante seolah ia masih melawan Ethan tetapi ia menuliskan sesuatu di tanah. "Ada penyadap di leherku."
__ADS_1