Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 97 - Harapan


__ADS_3

Di saat semua orang sedang asyik menikmati malam tahun baru yang penuh warna, Louisa justru memilih menyendiri di sebuah gereja tempat ia menikah dengan Ethan.


Semua teman-teman sekolah Louisa berpesta dan bersenang-senang dengan cara mereka, tak sedikit pula yang mengajak Lousia bergabung. Namun, Lousia lebih memilih menghabiskan waktunya di gereja.


"Apakah dia memang rajin beribadah bahkan di saat seperti ini, Aunt?" tanya Lindka pada Nyonya Agatha yang memang bergabung dengan beberapa teman Lousia, mengadakan pesta kecil-kecilan di restoran dekat sekolah.


"Tidak," jawab Nyonya Agatha sambil terkekeh. "Mungkin dia hanya merindukan seseorang." Lanjutnya dengan suara yang lirih.


Yeah, Nyonya Agatha tahu putrinya itu pasti sedang memikirkan Ethan, mengkhawatirkan sang suami yang entah ada di mana dan sedang apa.


"Hey, sudah waktunya!" seru Ed dengan semangat.


Mereka semua langsung melirik arloji mereka, seketika semuanya keluar dari restaurant untuk melihat kembang api di langit, tak terkecuali Nyonya Agatha yang entah bagaimana kini justru seperti teman mereka juga.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, kembang api di nyalakan dan terompet ditiup. Semua orang bersorak gembira, begitu takjub melihat kembang api raksasa di langit kota Madrid. Mata mereka berbinar, senyum mereka begitu lebar. Seolah ini adalah malam terindah dalam hidup mereka.


"Wow, ini sangat indah!"


"Ini luar biasa!"


"Sungguh mengagumkan!"


Berbagai tanggapan mereka gumamkan saat melihat kembang itu menghiasi langit Madrid. Kembang api yang bertuliskan HAPPY NEW YEAR, MADRID!


"Selamat tahun baru, Aunt," ucap Lindka yang langsung yang kini memeluk Nyonya Agatha.


"Selamat tahun baru, Dear," balas Nyonya Agatha.


Ed dan beberapa teman Lousia melakukan hal yang sama, mengucapkan selamat tahun baru dan berpelukan secara bergantian bergantian.


Mereka masih menata langit selama beberapa menit, sampai kembang api bertuliskan happy new year itu perlahan hilang Tapi disusul kembang api yang lain.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kita kembali dan ayo makan sepuasnya!" seru Ed sambil tertawa girang.


Sementara di sisi lain, Lousia masih ada di dalam gereja, ia duduk di kursi paling depan. Menggengam tangannya dan menutup mata.


"Suamiku harus kembali," gumam Louisa penuh harap. "Aku mohon, kami ingin dia kembali." Louisa memohon dengan lirih, air mata jatuh membasahi pipinya.


"Kami tidak mau hidup tanpanya, aku mohon jaga dia selalu. Bawa dia kembali ke pelukan kami."


Bibir Lousia bergetar, tak ada rasa bahagia atau kesenangan dalam hatinya saat ini, meski Louisa dapat mendengar semua orang sedang bersuka cita di luar sana. Yang ia rasakan justru ketakutan, kecemasan yang luar biasa. Bahkan, dadanya terus berdebar hebat dan Louisa seolah tak mampu lagi menahannya.


"Aku mohon ...."


...🦋...


Jam sudah menunjukkan pukul 2 di Moscow, semua orang masih berpesta apalagi setelah kembang api menyala di langit indah Moscow tepat jam 12 tadi. Semua orang masih bersuka cita, masih berpesta dan bersenang-senang. Semua orang mengucapkan selamat tahun baru pada pasangan, teman, kerabat bahkan orang asing.


Tak terkecuali para pemuda anggota The Eagle, darah muda mereka benar terasa panas di saat seperti ini. Meraka semua minum sampai mabuk, bahkan ada yang sudah makan dan akhirnya tak sadarkan diri.


Sementara Erik yang memantau hal itu kini tersenyum senang, tetapi ia masih harus memastikan apakah Ethan dan kedua bayangannya makan atau tidak.


"Tapi mereka makan atau tidak seharusnya bukan suatu masalah yang besar," kekeh Erik yang merasa berada di atas angin. "Mereka tidak punya pasukan apapun sekarang, pasti sangat mudah menghabisi mereka semua."


Ruang kerja Ethan yang biasanya dijaga dengan sangat ketat, kini tak ada satu orang pun yang berjaga di sana. Walaupun begitu, Erik tetap tidak bisa mendekati ruang kerja Ethan karena ada sistem pengaman yang juga tak dapat di terobos dengan mudah.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Langsung memanggil mereka atau memastikan keadaan Ethan?"


Tiba-tiba keraguan hinggap di hati Erik, bagaimana jika ada kecacatan dalam rencananya? Apalagi semua berjalan dengan begitu mudah, bagaimana jika sebenarnya ini justru jebakan?


Namun, Erik tak punya lagi waktu untuk berpikir ketika ia mendapatkan pesan dari Jose yang meminta Erik segera membuka gerbang. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.


Erik masih ragu, hingga tiba-tiba seorang pelayan keluar dari ruang kerja Ethan dengan membawa nampan yang kosong.

__ADS_1


"Tuan Erik, apa yang kau lakukan di sini?" tanya pelayan itu.


"Apa kau baru mengantar makanan pada mereka?" tanya Erik yang mengabaikan pertanyaan pelayan tersebut.


"Iya, meraka juga pasti lapar, makanya tadi aku melihat makan dengan sangat lahap," kata pelayan tersebut.


Erik tampak senang mendengar kabar itu, ia pun segera mengirimkan pesan pada komplotannya agar segera bersiap-siap.


Setelah itu, Erik pergi ke ruang kontrol agar bisa membuka gerbang utama dan pintu yang lain.


Di luar, Jose dan yang lainnya begitu bersemangat saat melihat pintu yang terbuat dari baja, yang begitu besar dan tinggi itu kini perlahan terbuka.


Dengan begitu semangat, Jose, Gonza, Martin dan Orlando memasuki gerbang itu bersama anak buah mereka yang sudah siap dengan senjata mereka.


Sementara Dexter dan Amber mengawasi pergerakan mereka dari helikopter yang terbang di atas markas.


"Aku rasa ada yang salah," gumam Dexter yang entah bagaimana tiba-tiba juga merasakan kecemasan dan keraguan.


"Apanya yang salah? Semua sesuai rencana," desis Amber senang. "Semua berjalan dengan sangat lancar, sebentar lagi aku pasti bisa memenggal kepala Ethan." Amber merasa sangat puas melihat para komplotannya sudah memasuki markas Ethan yang begitu besar itu.


Darahnya mendidih, teringat kembali saat ia menemukan jasad sang Ayah yang meninggal karena sayatan di lehernya. Dia ingin melakukan hal yang sama pada Ethan.


Berbeda dengan Amber yang merasa begitu percaya diri, Dexter justru punya firasat tak baik.


"Seorang pria yang baru berusia 18 tahun tapi berhasil menjadi seorang Don Mafia, bisa menjaga organisasinya dengan sangat baik tanpa cacat. Bahkan, selama 12 tahun terakhir mereka menaklukan banyak organisasi." Tiba-tiba Dexter meracau tidak jelas dan teringat kembali dengan pencapaian Ethan sebagai Don Mafia selama 12 tahun terakhir.


"Kau bicara apa?" teriak Amber kesal pada sang kakak. "Aku rasa kau mabuk!" dengusnya.


"Aku tidak mabuk, aku hanya baru sadar satu hal, Amber," seru Dexter dengan lantang.


"Selama ini kita memantau kekuatan Ethan dan mencoba menyaingi nya, tapi kita lupa mencari tahu seberapa cerdas Ethan untuk mengakalinya."

__ADS_1


__ADS_2