
"Andres, apa kau sudah memastikan Louisa baik-baik saja?" tanya Peter yang lagi-lagi menghubungi Andres untuk yang ke sekian kali nya.
"Film nya belum selesai, masih tidak ada satu pun orang yang keluar."
Jawaban Andres itu membuat Peter menghela napas berat, rasa cemas semakin menyelimuti hatinya.
"Terus awasi dia, jangan sampai terjadi sesuatu pada nya."
"Kau mulai perhatian pada menantu mu, eh?" goda Simon sembari menain-turunkan alisnya, membuat Peter mendelik kesal. "Dulu yang paling bernafsu untuk menghabisinya adalah kamu sendiri, kenapa sekarang jadi khawatir?"
"Karena dulu dia putri dari pria yang membunuh sahabatku, sementara sekarang dia adalah istri dari putra sahabat ku," papar Peter dengan jujur, meskipun dia tidak pernah menghabiskan waktu yang berarti dengan Lousia, tetap saja ia merasa khawatir karena bagaimana pun juga gadis itu adalah istri Ethan.
"Benar juga," gumam Simon. "Aku harap Ethan bisa segera menjemput nya, kemudian mereka menikah, punya banyak anak dan kita bisa mati dengan tenang."
"Oh, aku tidak ingin mati dalam keadaan lumpuh begini. Aku harus sembuh dulu, baru bisa mati dengan tenang."
Simon menatap Peter dengan jengah, merasa heran karena pria itu benar-benar masih tidak terima dengan takdir nya yang harus lumpuh
"Apa sesulit itu ikhlas dengan takdir lumpuh mu itu?" tanya Simon kemudian.
"Tentu saja aku tidak bisa terima!" seru Peter emosional. "Biasanya aku kuat, aku bisa melakukan apapun sendirian tanpa meminta bantuan orang lain. Tapi sekarang? Untuk minim saja aku harus di bantu."
Seketika Simon terdiam, merasa kasihan melihat keadaan Peter yang memang begitu menyedihkan.
"Sabar!" ucap Simon sembari menepuk pundak pria itu.
"Aku butuh sembuh, bukan kata sabar."
...🦋...
"Aku rasa film nya tidak seseru yang aku bayangkan," tukas Louisa sembari mengunyah pop corn nya. "Aku merasa mengantuk di pertengahan film."
"Tapi itu seru, aku suka dengan tema balas dendam dan Mafia," sahut Lindka yang memang terlihat sangat menikmati sepanjang film itu.
Film sudah selesai, tapi kedua gadis itu masih duduk di kursi mereka sembari memperhatikan orang-orang yang mulai keluar dari bioskop.
"Ayo, aku sudah lapar," ajak Lindka sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu sampai semua orang pergi," pinta Louisa. "Sebenarnya aku tidak suka bau mereka semua," ringisnya kemudian yang membuat Lindka langsung mengernyit bingung.
"Aku rasa tidak ada yang bau dari mereka, Princess," tukas Lindka.
__ADS_1
"Aroma parfum mereka membuat ku ingin muntah, Lindka." Louisa kembali meringis karena memang ia tidak suka dengan aroma parfum orang-orang itu. Bahkan, sejak tadi ia menahan diri agar tak menghirup aroma apapun di sana.
"Kau seperti orang hamil saja, sensitif."
Lousia yang mendengar kata-kata teman nya hanya mengulum senyum, sebab diri nya memang sedang hamil. Usia kandungan nya baru tiga minggu, dan itu membuat nya terkejut, tetapi juga sangat senang. Yeah, Lousia berpikir akan menggunakan alasan kehamilan nya ini agar bisa selalu bersama Ethan.
Setelah memastikan semua orang keluar, Louisa dan Lindka pun juga keluar.
Sementara Andres sejak tadi berjaga di pintu keluar, bahkan membuat orang-orang bingung melihat pria tampan dan gagah itu terus celingukan seolah mencari seseorang.
Hingga ia melihat Louisa dan Lindka yang akhirnya menunjukkan batang hidung mereka, membuat Andres menghela napas lega.
"Andres?" panggil Louisa dengan senyum samar.
"Siapa?" tanya Lindka berbisik pada Lousia, tetapi pandangan nya tertuju pada Andres yang tampan dan gagah itu.
"Teman ku," jawab Louisa tetapi tatapan nya juga lurus pada Andres. "Kau mencari ku?"
"Yeah, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan mu," ujar Andres. "Bisa kau ikut aku sekarang?"
"Bisa kah kita mengantar Lindka pulang lebih dulu?" Louisa balik bertanya, merasa kasihan jika Lindka harus di biarkan pulang sendiri.
Setelah tahu masih ada musuh Ethan yang berhasil melarikan diri, tentu saja Andres langsung menyiapkan perlindungan sebaik mungkin untuk Nyonya kecil nya ini.
"Teman mu biar di antar sopir, kau harus pergi bersama ku," tukas Andres saat mereka sudah ada di parkiran. Tentu saja hal itu membuat Louisa merasa bingung.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Louisa setengah berbisik, sementara Lindka sejak tadi hanya fokus pada ketampanan maksimal Andres, gadis itu bahkan tidak sanggup berkedip barang sekali saja.
Lagi-lagi Andres hanya mengangguk pelan, dan kini Louisa mengerti ada yang tidak beres. "Lindka, sepertinya aku tidak bisa mengantar mu pulang," ujar Lousia yang seketika membuat Lindka cemberut.
"Kenapa? Bukan kah kita juga mau pergi makan?" dengus nya.
"Mungkin lain kali, ya?" Louisa menatap memohon, berharap Lindka mau mengerti.
"Baiklah, tidak apa-apa," ujar Lindka akhirnya sambil senyum-senyum tidak jelas pada Andres, membuat Andres merasa risih.
Sebuah mobil datang dan Lindka di minta masuk oleh Andres, sementara ia dan Louisa kini masuk ke mobil yang lain.
"Ada apa, Andres?" tanya Louisa yang sudah tak sabar ingin tahu apa yang terjadi. "Apa kau mendapatkan kabar dari Ethan?"
"Ya, Nona Rae, dia akan menjemput mu dan ibu mu malam ini juga."
__ADS_1
"HAH?" pekik Lousia. "Kenapa tiba-tiba ? Dan Ethan juga tidak menghubungi ku." Lousia segera merogoh ponsel nya dari dalam tas, ia menyalakan ponsel itu dan baru menyadari ada beberapa panggilan dari Ethan.
Ethan mencoba menghubungi Ethan kembali, tetapi ponsel nya tiba-tiba mati.
"Huff, aku lupa tidak mengisi daya nya," gerutu Louisa. Namun, mengingat malam ini Ethan akan menjemput nya membuat Lousia kembali merasa bahagia.
Lousia mengambil satu foto USG kehamilan nya yang memang ia simpan satu di dalam tas, menganggap benda itu begitu berharga jadi Lousia ingin selalu menjaga nya. "Aku jadi semakin tidak sabar untuk memperlihatkan ini pada Ethan," gumam Louisa dalam hati.
Sementara Andres kini mencoba menghubungi Ethan, untuk memberi tahu bahwa Louisa bersama nya. Namun, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari belakang dan langsung menghantam mobil mereka.
Louisa berteriak panik, sementara Andres langsung mengeluarkan senjata nya begitu juga dengan sang sopir.
"Tetap lajukan mobil nya!" seru Andres.
"Andres, ada apa?" tanya Lousia dengan suara yang bergetar, takut yang terjadi bukan kecelakaan biasa.
"Mobil nya tidak bisa di nyalakan," tukas sopir itu.
"Sial!" geram Andres.
Truk yang ada di belakang kembali menghantam mobil mereka, dan Lousia kembali hanya bisa berteriak panik.
Hingga tiba-tiba beberapa mobil hitam datang mengelilingi mobil mereka.
"Kita harus berpindah mobil, Nona Rae," ujar Andres tetapi Lousia menggeleng dan kali ia sudah menangis.
"Bagaimana jika mereka membunuh ku?" lirih nya.
"Kami di sini agar tak ada yang menyakiti mu," tegas Andres. "Aku mohon percaya lah pada ku, kita sudah tidak punya waktu."
Andres membuka pintu mobil dan ia keluar sambil membungkuk, tetapi tiba-tiba terdengar suara tembakan yang membuat Louisa terkejut dan seketika ia menjerit.
Kini, anak buah Andres menembaki sopir truk, dan tiba-tiba ada orang lain yang juga menembaki mereka.
Alhasil, kini aksi tembak menembak tak dapat di hindari. Musuh menargetkan Andres dan Louisa, dan anak buah Andres berusaha melindungi mereka berdua.
"Cepat, Nona Rae!" seru Andres. "Kita sudah tidak punya waktu."
Louisa segera turun dari mobil dan Andres menjadikan tubuh nya sebagai tameng. Mereka masuk ke dalam mobil yang berbeda tetapi tiba-tiba muncul asap tebal entah dari mana.
Andres mencoba melindungi dirinya dan Louisa, tetapi asap itu membuat Andres merasa lemas dan akhirnya ia pingsan.
__ADS_1