Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 57 - Salam Perpisahan Ala Don Mafia V Setan Kecil


__ADS_3

Pegerakan itu sangat cepat, membuat Louisa tak punya waktu untuk menolak atau menyadari apa yang dilakukan Ethan hingga tiba-tiba ia merasakan bibir Ethan di bibirnya.


Kedua bola mata Louisa melotot sempurna, tubuhnya terasa kaku bahkan ia menahan napas.


Sementara Ethan sungguh tak perduli dengan apa yang akan dikatakan oleh Louisa nanti, sekarang ia hanya ingin mencium gadis itu sebagai ucapan selamat tinggal.


Bibir yang tadinya hanya menempel itu kini mulai bergerak pelan, sapuan bibirnya yang pelan dan lembut itu berhasil membuat darah Louisa berdesir hangat. Bahkan, tiba-tiba otak gadis kecil itu blank.


Merasa tak ada penolakan, Ethan memberanikan diri memperdalam ciumannya. Sapuan bibir itu kini berubah menjadi kecupan-kecupan kecil, kemudian berlanjut pada ciuman yang menuntut dan Louisa hanya bisa pasrah.


Gadis itu memejamkan mata, bahkan tangannya kini meremas lengan Ethan dan dengan sedikit kaku ia mencoba membalas ciuman Ethan.


Senyum tipis terbit di bibir Don Mafia itu saat Louisa membalas ciumannya, tiba-tiba hatinya seperti berbunga-bunga dan berdesir hangat. Sungguh perasaan yang sangat indah.


Keduanya sama-sama tidak punya pengalaman dalam berciuman, sehingga kedua insan itu hanya bisa mengikuti insting mereka dengan pergerakan yang pelan, hati-hati dan tentu saja lembut.


"Lou," lirih Ethan saat melepaskan ciumannya.


Napas keduanya memburu, wajah sejoli itu merah merona dan jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Kau melecehkanku," lirih Louisa menatap mata Ethan yang berkabut. Tampaknya, pria itu sudah merasakan percikan hasrat yang selama ini bersembunyi dengan sangat rapi dalam jiwanya.


"Kau lebih dulu melakukan itu," kekeh Ethan. "Kau yang melecehkanku di kolam renang waktu itu, kau ingat?" Ia menempelkan keningnya di kening Louisa sementara Louisa langsung tersipu mengingat bagaimana ia mencium bibir pria itu dengan kurang ajar, tanpa permisi dan tanpa aba-aba.


Kini tangan kekar Ethan membelai pipi gadis kecil itu dengan sangat lembut sebelum akhirnya mereka kembali berciuman.


Kali ini keduanya siap, saling memberi dan menerima dengan sepenuh hati. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari kenikmatan tertentu yang baru saja mereka kenali.


Satu tangan Ethan menekan tengkuk Louisa untuk memperdalam ciuman mereka, sementara tangan yang lain menarik pinggang gadis itu agar tubuh Louisa lebih dekat dengannya yang masih duduk di ranjang.


Sementara Louisa hanya bisa menyentuh lengan Ethan, ia masih gugup meski juga menikmati setiap sentuhan pria itu.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berbagi kelembutan dalam ciuman, keduanya sama-sama menarik diri apalagi udara dalam paru-paru mereka mulai menipis.


"Aku harus pergi," kata Louisa sambil tertunduk sedih. Namun, Ethan langsung memegang dagu Louisa dan mengangkat wajah gadis itu dengan lembut, memaksa Louisa menatap matanya.


"Aku melakukan ini demi kebaikanmu," tukas Ethan seolah mengerti bahwa Louisa juga berat berpisah dengannya.


"Aku mengerti."


Louisa menghela napas berat, tetapi ia harus tetap tersenyum untuk pria yang dicintai itu, kan? Ia tak ingin memperlihatkan kesedihannya saat ini.


"Kenapa kau menciumku?" celetuk Louisa akhirnya, tentu saja Louisa berharap pria itu mengakui cintanya.


"Salam perpisahan," jawab Ethan dengan asal yang membuat Louisa melongo.


"Hanya itu?" pekiknya dan Ethan hanya mengangguk.


Louisa menghela napas berat, ia berkacak pinggang sebelum akhirnya berkata, "Tutup matamu!"


Hati Ethan kembali berdebar, hangatnya ciuman Louisa terasa sampai ke hatinya yang paling dalam.


"Itu salam perpisahan dariku," kata Louisa setelah menarik diri.


Ethan masih tercengang, kecupan lembut Louisa itu terasa berbeda sehingga ia kehilangan kata-kata.


Bahkan, kini Louisa berlalu dari kamarnya begitu saja. Meninggalkan Ethan yang masih terdiam dengan berbagai perasaan yang bergejolak dalam hatinya.


Sementara Louisa, gadis itu menahan senyum dengan wajah yang merona. Ia tak tahu haruskah bahagia karena mendapatkan ciuman dari Ethan dan namanya terukir di pundak pria itu, ataukah ia harus sedih karena akan berpisah darinya?


Louisa tidak tahu, tetapi hatinya mengatakan Ethan akan kembali menemuinya nanti. Sama seperti saat ia di Hampstead.


"Sudah?" tanya Nyonya Agatha saat melihat kedatangan Louisa.

__ADS_1


"Hem," jawab Louisa.


"Jangan khawatir soal tempat tinggal di Spain," seru Simon. "Kami sudah menyiapkannya untuk kalian."


"Terima kasih," ucap Nyonya Agatha dengan tulus.


"Selamat tinggal," seru Louisa sambil menatap Simon dan Peter.


Dua pria ini adalah orang pertama yang Louisa temui saat datang ke mansion dulu, dan ia sungguh tidak menyangka ternyata meraka semua seorang gengster, seorang pembunuh.


"Uncle ...." Louisa mendekati Peter, ia memberanikan diri menatap mata pria itu yang sangat tajam. "Kau membunuh Bi Amy, aku tidak tahu apakah kau sengaja atau tidak. Tapi aku ingin kau melakukan satu hal, pergi ke makamnya dan minta maaf!" Louisa berkata dengan sangat tegas.


"Lou!" Nyonya Agatha langsung menegur putrinya itu, tetapi Louisa tak perduli.


Sementara Peter hanya mengernyit mendengar kata-kata Louisa yang ia anggap konyol itu.


"Dia tidak salah, jadi sebaiknya kau bertaubat supaya Tuhan tidak marah dan tidak memasukanmu ke dalam neraka."


"Apa kau panitia surga dan neraka?" cibir Peter.


"Bukan, aku hanya mengingatkanmu karena saat bertemu denganmu, aku pikir kau pria yang sangat baik. Aku sangat kecewa sebenarnya karena kau membunuh Bi Amy, tapi aku harap setelah ini kau tidak membunuh orang yang tidak bersalah lagi." Louisa berkata sambil tersenyum lembut, bahkan tatapannya juga lembut membuat hati Peter terenyuh.


Padahal, sudah lama hatinya terasa mati.


"Ayo, Lou!" Nyonya Agatha menarik Louisa pergi dan gadis itu masih menyempatkan diri menyentuh tangan Peter sebelum benar-benar pergi.


"Astaga! Setan kecil itu ...." geram Peter.


...🦋...


__ADS_1


__ADS_2