
"Nona Walter! Perhatikan gerakanmu!"
Louisa hanya bisa meringis mendengar teriakan pelatihnya itu untuk yang ke sekian kalinya.
Bagaimana tidak?
Sejak tadi Louisa terus terjatuh saat ia melakukan gerakan berputar. "Bukankah di setiap pertemuan aku selalu memperingatkanmu untuk menjaga keseimbangan dan fokus, apa kau faham Nona Walter?" tanya pelatihnya yang biasa dipanggil Miss Grecia itu.
"Maafkan aku," ucap Louisa menyesal.
"Aku rasa kau tidak akan pernah bisa menjadi seorang ballerina, Nona Walter, kau bukan hanya tidak bisa bergerak dengan benar tapi kau juga tidak fokus. Apa ini terjadi karena kau mengambil dua kelas sekaligus? Kau tidak bisa membagi fokusmu? Seharusnya kau fokus pada salah satunya."
Louisa hanya bisa tertunduk dalam, kedua matanya sudah berkaca-kaca. Ini adalah kali pertama ia dimarahi bahkan ada yang berteriak padanya di depan banyak orang.
"Aku dengar kau tidak punya pengalaman menari sebelumnya, jadi kau benar-benar memulai semuanya dari nol sekarang. Dengan kata lain, kau butuh konsentrasi penuh. Jadi aku rasa kau bisa memutuskan sekarang, melanjutkan atau berhenti?"
"Aku suka menari sejak kecil," sanggah Louisa dengan cepat. "Aku juga menari dulu, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, Miss Grecia."
"Ini bukan tentang apa yang kau suka dan tidak suka, Nona Walter, tapi ini tentang apakah kau bisa menekuni dan bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan?" tegas Grecia.
"Aku melihat kau sebagai gadis yang tidak tahu arti kesabaran dalam perjuangan, Nona Walter, kau hanya berambisi dengan membabi buta tanpa tahu teknik mengejar apa yang menjadi ambisimu," tegasnya lagi yang membuat Louisa langsung menitikan air mata tetapi ia langsung menyekanya.
Teman-teman Louisa yang lain hanya bisa melihat Louisa dengan nanar, ada yang merasa kasihan tetapi tentu juga ada yang tak perduli bahkan senang melihat Louisa dimarahi.
"Sekarang lanjutkan latihan kalian semua!" teriak Grecia. "Kecuali kau, Nona Walter, kau bisa istirahat!"
Louisa hanya bisa mengangguk pasrah, ia duduk di sisi tempat latihan sembari memperhatikan teman-teman yang lain.
Grecia memberikan komando pada mereka dengan tegas, dari mereka berdiri dengan baik, menyeimbangkan tubuh mereka dengan baik. Apalagi teknik tarian ballet berbeda dengan tarian pada umumnya, cara berdiri mereka berbeda, gerakan memutar mereka juga berbeda. Kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya haruslah sangat lentur.
__ADS_1
Louisa merasa senang melihat mereka semua bisa latihan dengan baik, menjadi seorang Ballerina memang mimpinya sejak kecil tapi baru sekarang ia mendapatkan kesempatan itu. Namun, sekarang ia tak bisa fokus karena terus memikirkan Ethan yang masih tak kunjung bisa dihubungi.
Mungkin, jika kekasihnya itu adalah pengusaha biasa, Louisa takkan terlalu cemas. Tapi Ethan adalah seorang Don Mafia, setiap saat nyawanya dalam bahaya.
Sudah satu minggu berlalu, dan Louisa masih tak bisa menghubunginya.
"Nona Walter?" panggil Grecia.
"Ya, Miss Grecia," sahut Louisa dengan cepat.
"Apa kau tahu, berapa usiaku saat belajar menari ballet?" tanyanya sembari duduk di sisi Louisa. "Saat itu usiaku 20 tahun, sepertimu, aku juga menyukai ballet sejak kecil. Tapi kami berasal dari keluarga miskin dan sekolah ballet cukup mahal. Aku harus bekerja sendiri dan menabung agar bisa masuk sekolah ballet."
Louisa mendengarkan dengan baik apa yang diceritakan oleh gurunya itu. "Penampilan pertamaku saat usiaku 25 tahun, apa kau tahu apa yang terjadi saat itu?"
Louisa hanya menggeleng. "Ayahku meninggal, rasanya sangat menyedihkan dan aku rasa aku tidak akan bisa berkonsentrasi. Tapi aku bisa melakukannya, karena gerakan itu bukan hanya gerakan sesuai yang dilatih pelatihku," tukas Grecia.
Tapi itu juga ungkapan perasaanku, kesedihanku. Hati dan otakku juga bekerja sama dalam hal itu." Lanjutnya kemiskinan.
Louisa hanya bisa mengangguk mengerti, karena penjelasan Grecia sama seperti penjelasan Ed tentang musik.
"Aku rasa aku harus memberimu kelas tambahan, Nona Walter," tukas Grecia lagi. "Karena sepertinya kau bukan hanya harus belajar menari, tapi kau juga harus belajar apa itu sabar, apa itu fokus dan apa itu perjuangan. Aku rasa kau pasti anak yang manja di rumah, itu terlihat jelas dari mata dan tingkah lakumu."
Hanya bisa meringis mendengar ucapan pelatihnya, sebab ia memang hidup seperti itu.
...🦋...
Ethan berhasil menangkap seorang penembak yang telah mencelakai Peter, ini kali pertama ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan musuhnya. Yang berarti orang itu cukup terlatih juga cerdas.
Untuk menangkap sang musuh pun membutuhkan rencana yang sangat matang, dan juga juga Ethan harus mengerahkan seluruh kekuatan dan kekuasaannya.
__ADS_1
Bahkan, pria itu tetap tak mau membuka mulut meskipun Ethan sudah menyiksanya dengan kejam. Jari telunjuk dan jari tengah pria itu dipotong, agar ia tak bisa lagi menembak. Walaupun dengan semua siksaan itu, ia tetap tak mau membuka mulut.
"Siapa yang menyuruhmu, sialan?" Ethan mendesis tajam, kemarahan pria itu tak dapat dibendung lagi apalagi sampai sekarang Peter masih tak kunjung siuman.
"Kau terlalu banyak menyakiti orang, Mayer, kau bisa menebak salah satunya," kekeh orang itu. Meskipun ia sedang sekarat, tetapi pria itu tetap bisa tertawa.
Dua jarinya telah dipotong, sejak kemarin ia tak diberi makan atau minum. Tubuhnya sudah babak belur karena di hajar oleh Simon, tetapi ia tetap bungkam untuk tuannya.
"Apa yang kau dapatkan dengan kediamanmu ini, huh? Berapa mereka membayarmu?" geram Ethan yang memulai kehilangan kesabarannya.
"Biarkan aku mati, Mayer," kata orang itu dengan suara yang sudah terdengar sangat lemah. "Setidaknya aku dan Peter dan bisa pergi bersama ke Neraka."
Pria itu tertawa puas, memancing kemarahan Ethan. "Kau ingin tertawa?" sinis Ethan yang langsung menginjak mulut pria itu dengan sepatunya. "Silakan tertawa, Sialan!" geram Ethan yang semakin menekan kakinya.
Pria itu melotot lebar, wajahnya memerah, ia kesulitan bernapas. "Katakan siapa pelakunya atau akan membunuhmu!"
"Berhenti membunuh."
"Kau Ethan-ku yang penuh cinta, yang berhati baik."
"Kau bukan monster."
Ethan menjauh dari pria itu saat ia merasa mendengar suara Louisa. Pria di bawahnya itu menghirup udara sebanyak-banyaknya, ia menatap Ethan dengan nanar.
"Apa kau melakukan ini untuk orang terkasihmu?" tanya Ethan yang membuat pria itu tiba-tiba melotot terkejut, Ethan bisa membaca keterkejutannya itu.
"Seseorang mau membunuh dan terbunuh demi orang terkasihnya, bukan?"
Pria itu masih diam, tapi Ethan tahu kini ada yang berbeda dari tatapan pria itu.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita lihat apakah kau melakukan ini untuk menyelamatkan orang terkasihmu atau untuk balas dendam untuk orang terkasihmu."