Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 64 - Melepaskan Rindu Yang Tertahan


__ADS_3

"Ethan?" gumam Louisa saat pria di depannya ini melepas penutup kepalanya.


"Hem, aku di sini!" Ethan menjawab sambil tersenyum.


Louisa hanya bisa menatap pria itu dengan nanar, seolah masih tidak percaya yang ada di depannya memang benar-benar Ethan.


Sementara Ethan justru mengulum senyum sembari membelai pipi Louisa dengan lembut, tatapan mereka bertemu, menatap dengan dalam sedalam rindu yang mereka tahan.


Tak ada yang bersuara, selama beberapa saat mereka hanya saling memandang dan kini Louisa menyentuh tangan Ethan yang masih membelai pipinya. "Ethan?" lirih Louisa sekali lagi untuk memastikan Ethan memang ada di hadapannya.


Ethan langsung menarik tengkuk gadis kecil itu, kemudian meraih bibir Louisa dengan bibirnya.


Louisa langsung memejamkan mata, meresapi setiap sentuhan lembut dan hangat bibir Ethan di permukaan bibirnya. Tak ada ciuman menggebu layaknya ciuman karena nafsu, yang ada adalah ciuman sebagai ungkapan rindu.


Tangan mungil Louisa mencengkeram lengan kekar pria itu, ia mendesakan tubuhnya ke tubuh Ethan dan perlahan ia membalas ciuman Ethan. Pelan, lembut, tetapi terasa manis dan menggetarkan hati mereka.


Setelah beberapa menit menyatukan bibir mereka, Ethan menghentikan ciumannya untuk menghirup udara.


"Kau di sini?" tanya Louisa dengan napas yang memburu sesaat setelah Ethan menghentikan ciumannya.


"Hem." Ethan mengangguk sembari mengusap bibir Louisa dengan mesra, membuat gadis itu merona dan langsung menunduk. "Tatap mataku," pinta Ethan dengan suara yang terdengar berat juga tegas.


Louisa mengangkat wajahnya dan menatap mata Ethan dengan intens. "Aku merindukanmu," ucap Ethan yang membuat hati Louisa seperti bunga yang bermekaran. "Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatmu," kata Ethan dengan sangat serius. Bahkan, kening pria itu berkerut, seolah ia memang menahan rasa yang tak mudah untuk ditahan.


"Apa kau ke sini hanya karena merindukanku?" tanya Louisa yang kini memberanikan diri kembali menyentuh pipi Ethan.


Seketika sang Don mafia itu memejamkan mata, meresapi hangatnya tangan mungil seorang gadis yang telah membuatnya hampir gila.


"Hem," jawab Ethan sembari menyentuh lembut tangan Louisa, kemudian membawa tangan mungil itu ke bibirnya dan Ethan memberikan kecupan-kecupan kecil yang mesra di telapak tangan sang gadis, membuat hati Louisa berdesir hangat.


Louisa tersenyum sembari menjatuhkan kepalanya di dada Ethan, melingkarkan tangannya di punggung pria itu. "Aku juga merindukanmu," lirih Louisa sembari menghirup aroma maskulin dari tubuh pujaan hatinya itu.


Hal yang sama dilakukan Ethan, ia mendekap Louisa dengan lembut, memberikan kecupan hangat di pucuk kepalanya dan menghirup aroma manis Louisa yang selalu ia rindukan.


Selama beberapa saat kedua anak Adam itu berpelukan guna melepas rindu yang selama ini mereka tahan. "Ikutlah denganku," ajak Ethan kemudian.

__ADS_1


"Ke London?" tanya Louisa dengan cepat sambil mendongak, mata bulatnya itu menatap Ethan dengan lebar. Ethan terkekeh, ia mengecup ujung hidung Louisa dengan gemas.


"Aku sudah lama pergi dari London, sekarang aku tinggal Moscow," kata Ethan yang membuat pupil mata Louisa melebar.


"Rusia? Apa kau juga tinggal di Rusia, Ethan?" pekik Louisa dengan suara lantang, Ethan yang tak ingin percakapan mereka terdengar oleh orang lain secara spontan langsung membungkam mulut Louisa dengan mulutnya sendiri.


Serangan mendadak kedua, yang berhasil membuat tubuh Louisa membeku.


"Ssshtt, itu rahasia," bisik Ethan tepat di bibir Louisa.


"Lalu?" Louisa berbisik pelan, bibirnya masih begitu dekat dengan bibir Ethan bahkan deru napas mereka beradu.


"Sekarang ikut aku," Ethan memasang kembali menutup kepalanya agar tak ada yang mengenali, kemudian ia menyeret Louisa masuk ke dalam sebuah mobil sport miliknya.


"Teman-temanku akan mencariku, Ethan," tukas Louisa.


"Katakan saja pada mereka kau sudah pulang, cari alasan, apa saja, terserah."


Ethan menyalakan mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang, sementara Louisa langsung mengirimkan pesan pada Ed bahwa ia pulang karena dipanggil ibunya.


Baru saja Louisa mengirim pesan itu, tiba-tiba Ethan berkata, "Jangan mengirim pesan pada bocah laki-laki itu, kirim pesan pada teman perempuanmu saja."


"Oh, sudah aku lakukan," kata Louisa dengan jujur yang seketika membuat Ethan langsung menginjak rem. "Kenapa?" Louisa bertanya dengan polonya. "Apa dia mata-mata?"


"Bukan, aku hanya tidak suka padanya," tegas Ethan sembari merebut ponsel Louisa, ia menghapus pesan itu kemudian mengirimkan pesan serupa pada Lindka.


"Apa bedanya mengirim pesan pada Lindka dan Ed? Mereka sama-sama menungguku," kata Louisa.


"Bukankah sudah aku bilang? Aku tidak suka bocah itu," tukas Ethan.


Pria itu kembali melajukan mobilnya, membelah kota Madrid di siang hari dengan semangat. "Kamu hafal jalan kota ini?" tanya Louisa yang seketika membuat Ethan terkekeh.


"Tentu saja," jawab Ethan. Ia menarik tangan Louisa kemudian menggengamnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain ada di setir.


Louisa yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa mengulum senyum manis, wajahnya merona merah. "Kamu tidak ingin bertanya ke mana aku akan membawamu?" tanya Ethan.

__ADS_1


"Tidak," jawab Louisa sambil menggeleng pelan.


"Kenapa?"


"Karena aku tidak perduli kamu mau membawaku ke mana, yang aku perduli hanyalah kamu tetap bersamaku."


Kini Ethan yang merona mendengar ucapan romantis gadis kecil itu. "Aku akan selalu bersamamu selama aku di sini."


"Berapa lama?"


Ethan hanya melirik Louisa, entah kenapa ia merasa tak mampu memberi tahu Louisa bahwa ia hanya 24 jam berada di kota Madrid. "Apa kau akan kembali ke Moscow nanti malam? Besok?" Louisa bertanya penasaran.


"Sebentar lagi kita sampai," kata Ethan yang enggan menanggapi pertanyaan Louisa.


Tak berselang lama, Ethan memasuki mansion yang sangat besar. Tidak lebih besar dari mansion yang ada di London tetapi terlihat lebih mewah dan modern.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Louisa.


"Untuk menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan," ujar Ethan.


Louisa berdecak takjub saat turun dari mobil dan matanya dimanjakan dengan istana modern di depannya ini.


"Ayo!" Ethan merangkul pinggang Louisa kemudian membawa gadis itu masuk ke dalam mansion yang sepi.


"Apa tidak ada orang di sini?" tanya Louisa sembari mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.


"Tidak ada," jawab Ethan. "Kita hanya akan berdua saja di sini sampai besok sore."


"Hanya sampai besok sore?" Entah kenapa tiba-tiba Louisa merasa sedih, bahkan ia terlihat tidak menyukai pernyataan Ethan.


Ethan mengangguk pelan sembari mendekati Louisa, ia menatap mata gadis itu dengan intens kemudian berkata dengan suara rendah. "Aku akan membawamu ikut denganku jika masalahku sudah selesai, Lou."


Louisa tak menanggapi, ia hanya tertunduk untuk menyembunyikan kesedihan di matanya. Tetapi Ethan langsung memaksa wanita itu kembali mendongak. "Ada apa, hem?" tanyanya dengan lembut.


"Entah, aku sangat ingin ikut denganmu," kata Louisa dengan jujur. "Aku tidak bisa berjauhan seperti ini, Ethan, aku selalu merindukanmu dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."

__ADS_1


__ADS_2