Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 27 - Mengembalikan Hak


__ADS_3

Di luar rumah, pertarungan antar dua kubu berlangsung dengan sangat sengit. Ethan hanya membawa 15 anak buahnya termasuk Theo, sedangkan para bodyguard di rumah Louisa setidaknya ada 30 orang, belum termasuk sopir dan security rumah.


Namun, hal itu tidak menjadi penghalang berarti untuk anggota mafia sekelas The Eagle.


Mereka semua menghabisi musuh seperti seorang singa yang menghabisi lawannya, mereka tak bisa dihentikan dan tak bisa berhenti, sampai mereka selesai membunuh atau terbunuh.


"Agh!" Theo mengerang saat lengannya tertembak. Ia langsung menembak sang penembak yang merupakan kepala keamanan keluarga Rae.


"Habis kau!" desis pria itu menggeram, ia menarik kembali pelatuknya tetapi ternyata amunisinya sudah kosong.


Theo tertawa, ia menjatuhkan pistolnya dan menantang pria itu dengan tangan kosong.


"Hari ini aku harus mati di tanganmu atau kau yang mati di tanganku." Theo berkata dengan percaya diri bahkan sangat tenang, persis seperti sikap Ethan.


"Aku akan mengeluarkan jantungmu," desis sang lawan.


"Aku akan menggorok lehermu," kekeh Theo.


Pertarungan yang sangat sengit pun dimulai, kedua pria itu mengeluarkan seluruh kekuatan mereka untuk bertahan, menyerang dan bertahan.


Sementara para anak buah yang lain kini juga sibuk dengan peperangan mereka.


Halaman rumah Louisa yang biasanya bersih dan sejuk kini berubah menjadi medan perang yang penuh darah, mereka semua saling membunuh seperti binatang. Darah berceceran di mana-mana, mayat pun tergeletak di mana-mana.


Di dalam rumah, Ethan menunjukan bagaimana keadaan di luar dari cctv yang sudah ia retas kepada Tuan Bertrand.


Pria paruh baya itu hanya bisa menahan napas menyaksikan anak buahnya di bantai dengan sadis oleh anak buah Ethan.


Sementara Louisa masih berdiam diri di pelukan sang ibu, dan para pelayan pun hanya bisa meringkuk ketakutan bahkan ada yang sudah menangis tersedu-sedu.


"Apa yang kamu mau, eh?" tanya Tuan Bertrand akhirnya. "Kau ingin balas dendam? Silakan bunuh aku, sialan!"


"Ck!" Ethan berdecak. "Tidak semudah itu, Rae, apa kau tahu bahwa kematian adalah hukuman paling ringan bagi manusia bejat sepertimu?"


Bajingan?


Louisa marah mendengar sebutan itu, ia tak bisa terima ada seseorang yang begitu kurang ajar pada Ayahnya.

__ADS_1


"Apa salah kami, Ethan?" teriak Louisa akhirnya sambil berdiri.


Ethan langsung menatap gadis itu, dan ia tersenyum saat melihat kemarahan di matanya. "Bagus sekali, Lou, akhirnya kau bisa marah," kekeh Ethan. "Dunia ini terlalu kejam, ketakutan dan air matamu sama sekali tidak berguna."


"Jawab pertanyaanku, bodoh!" geram Louisa yang kini sudah berani mendekati Ethan, bahkan dia berani menatap mata pria itu.


"Oh, apa kau belum tahu sejarahnya?" tanya Ethan. "Sejarah kekayaan keluargamu, apa kau belum tahu bahwa kalian semua menikmati dunia ini di bawah mayat puluhan orang lain termasuk kedua orang tuaku?"


Louisa terhenyak, ia menatap sang Ayah kemudian bertanya, "Apa itu benar?"


"Itu tidak benar," bantah Tuan Bertrand yang langsung membuat Ethan tertawa.


"Simon, tunjukan padanya!" titah Ethan.


Simon pun mengambil laptopnya, membuka sebuah file kemudian menunjukannya pada Louisa.


"Baca dan lihat baik-baik, Nona Rae!" seru Simon.


Dengan dada yang bergemuruh dan pikiran yang berkecamuk, Louis mencoba membaca sebuah artikel yang tersimpan di file tersebut.


Tentang kematian keluarga Eduardo di mansion mereka, para polisi mengatakan itu adalah perampokan. Namun, ada setidaknya 50 orang yang meninggal. Keluarga Mayer, para pelayan dan Bodyguard mereka.


Louisa mendongak, ia menatap Ethan sekilas sebelum akhirnya ia menatap sang ayah.


"Dia memanipulasi kita, Lou, jangan percaya dengan apapun yang dia tunjukan," seru Tuan Bertrand.


Namun, peringatan itu tak berarti bagi Louisa karena ia sangat penasaran dengan isi seluruh file tersebut.


"Dad?" gumam Louisa saat menemukan foto sang Ayah bersama seorang pria di sebuah pertambangan emas.


"Itu ayahku, Eduardo," kata Ethan dengan dingin. "Ayahmu membunuh ayahku hanya untuk menguasai pertambangan emas itu sendirian."


"Itu tidak benar!" sanggah Tuan Bertrand dengan lantang.


"Itu benar," lirih Nyonya Agatha tiba-tiba yang membuat Louisa dan ayahnya tercengang.


"Mom?" Louisa mendekati sang Ibu sambil membawa laptop itu. "Siapa pria ini?"

__ADS_1


Nyonya Agatha melihat foto itu dan seketika air matanya tumpah. "Dia ... dia Eduardo, teman sekaligus rekan kerja ayahmu."


"Agatha, tutup mulutmu!" desis Tuan Bertrand.


"Louisa berhak tahu," ucap Nyonya Rae dengan nada rendah. "DIA DALAM BAHAYA KARENA ULAHMU, SIALAN!" jeritnya kemudian dengan penuh emosi.


Tanpa sadar Louisa menitikkan air matanya, jika benar apa yang dikatakan oleh Ethan. Maka ... maka artinya ayahnya adalah seorang pembunuh?


"Ayahmu bukan hanya pembunuh," seru Ethan seolah tahu apa yang ada dalam benak Louisa. "Tapi dia iblis yang berwujud monster."


Air mata Louisa semakin tumpah saat mendengar ucapan Ethan, dan hatinya terasa sakit saat ia melihat sang ayah tak terlihat menyesal.


"Sialan!" geram Tuan Bertrand mengepalkan tangannya.


"Panggil pengacara mu, Rae, aku ingin kau mengembalikan hak ku."


"Kau ingin hartaku?" Tuan Bertrand terkekeh. "Kau harus bekerja keras untuk itu anak muda."


"Berikan saja, Dad," seru Louisa lemas. "Aku ingin hidup tenang," imbuhnya.


"Cepat hubungi dia!" Ethan memberikan ponselnya pada Tuan Bertrand.


"Aku mohon, Dad." Louisa memelas pada sang ayah. "Aku tidak mau ada yang mati lagi,"


Tuan Bertrand pun bersedia menghubungi pengacaranya dari ponsel Ethan. Namun, tanpa Ethan sadari, dia mengirimkan kode terlebih dahulu pada pengacaranya.


"Aku ingin kau ke rumahku, sekarang juga!" seru Tuan Bertrand dan saat itu juga Ethan merebut kembali ponselnya.


"Kau puas sekarang?" geram Tuan Bertrand.


"Tidak," jawab Ethan dan sejurus kemudian ia melesatkan tembakannya ke paha Tuan Bertrand yang membuat semua orang menjerit.


"Daddy!" teriak Louisa, ia hendak menghampiri sang ayah yang kini mengerang kesakitan tetapi Ethan mencegahnya.


"Lepaskan aku, Ethan!" seru Louisa.


Namun, Ethan justru menggotong Louisa menuju kamarnya. Nyonya Agatha berteriak meminta Ethan melepaskan Louisa, tetapi Ethan tentu tak perduli.

__ADS_1


"Apa yang kau mau, Ethan?" jerit Louisa di tengah isak tangisnya.


"Aku hanya tidak ingin kau melihat bagaimana ayahmu mati."


__ADS_2