Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 135 - #Simon (Jatuh Cinta Ala Mafia Senior)


__ADS_3

...Satu tahun lalu, City Hospital, London....


Simon tak bisa tenang memikirkan Ethan dan Louisa, ia begitu gelisah, takut terjadi sesuatu dengan kedua orang itu.


Saat ini ia dan Peter ada di depan ruang operasi Ethan yang sudah berjalan selama beberapa jam, mereka tak beranjak barang sedikit saja. Bahkan, Simon tidak mau peduli dengan luka nya sendiri. Ia menolak di obati sampai ia mendapatkan kabar bahwa Ethan baik-baik saja.


"Dia akan baik-baik saja," ujar Peter sembari menepuk pundak Simon. Mencoba menguatkan teman nya itu dan ia pun berusaha terlihat kuat.


"Seharusnya aku datang lebih cepat," lirih Simon penuh penyesalan. "Seharusnya aku bisa menjaga Ethan seperti yang aku janjikan pada kedua orang tua nya."


Peter tak mampu menjawab kata-kata Simon karena dia pun merasa sangat bersalah pada Louisa, Ethan, terutama pada mendiang kedua orang tua Ethan. Apalagi Peter ada di lokasi kejadian, tetapi ia tak mampu berbuat sesuatu.


"Obati luka mu!" seru Peter kemudian. "Itu bisa infeksi."


Simon menggeleng, ia hanya tertunduk, memejamkan mata, menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata nya.


"Ayo lah, Simon, Dokter nya cantik loh. Dia akan mengobati luka mu dengan lembut dan penuh perhatian" bujuk Peter untuk mencairkan susasa hati mereka. Namun, ia yang sok hangat dan asyik justru membuat Simon mengernyit bingung.


Ia mentap Peter dengan aneh, seolah Peter telah berubah menjadi makhluk jadi-jadian. Apalagi selama ini Peter tidak pernah bercanda sekali pun dan pada siapa pun, termasuk pada diri nya dan Ethan.


Simon merasa seperti nya Peter mengalami kerusakan di saraf otak nya karena insiden mematikan itu.


"Kau gi—" Ucapan Simon terhenti saat ia melihat Dokter wanita keluar dari ruang rawat operasi Ethan sembari membuka masker nya.


Simon terpaku, tatapan nya langsung tertuju pada mata wanita itu yang sangat indah, seperti bunga di musim semi.


Saat Dokter itu berjalan ke arah nya, Simon merasa suasana nya seperti musim semi, ia juga seperti melihat pelangi di sekitar Dokter tersebut apalagi ketika ia melepas penutup kepala nya, hingga rambut nya yang panjang dan hitam itu terurai bebas. Sungguh sangat cantik.


Langkah wanita itu juga tiba-tiba berubah menjadi slow motion. Jantung Simon berdebar kencang, seolah akan segera meledak.


"Dokter, bagaimana keadaan Ethan?" tanya Peter yang tak bisa lagi berpura-pura tegar bahkan kini mata nya sudah berkaca-kaca. "Dia baik-baik saja, kan? Apa dia sudah sadar? Apa dia mengeluh sakit? Tolong obati dia dengan benar."

__ADS_1


"Operasi berjalan dengan lancar, Tuan," Dokter itu menjawab dengan tenang. "Tapi pasien masih dalam keadaan kritis apalagi setelah kehilangan banyak darah. Untuk lebih detail nya, kami akan melakukan pemeriksaan kembali setelah tiga atau empat jam."


Peter hanya bisa menghela napas berat, tetapi ia bersyukur setidaknya operasi Ethan berjalan dengan lancar.


"Oh ya, Dokter, bisa kau mengobati luka Simon? Dia tidak mau di obati sejak tadi," ujar Peter.


Dokter itu langsung mengalihkan pandangan nya pada Simon yang sejak tadi hanya diam saja. "Aku mohon bawa saja dia karena sejak tadi dia menolak Dokter yang ingin mengobati nya," tambah Peter.


"Kau harus di obati, jika tidak maka luka mu bisa infeksi dan itu akan membuat mu merasa sakit lebih lama," pungkas Sang Dokter cantik itu sambil tersenyum lembut. "Jika kau tidak mau di obati, aku akan menyuntik mu dengan obat bius."


Simon tak merespon, ia justru fokus pada mata dan bibir sang Dokter yang sangat indah. "Bawa saja dia!" seru Peter yang sudah tidak tahan.


Dokter itu menarik tangan Simon, membawa nya masuk ke sebuah ruangan dan Simon masih tak bereaksi.


"Berbaring lah!" seru Dokter dan Simon patuh dengan begitu mudah nya.


Dokter itu pun menggunting baju Simon karena ia tahu Simon mengalami beberapa luka di tubuh nya.


Tubuh Mafia senior itu tiba-tiba terasa panas dingin, bahkan mulai gemetar. Apalagi saat tangan lembut sang Dokter menyentuh kulit nya secara langsung.


"Jangan takut, ini tidak akan sakit," kekeh Dokter itu saat menyadari tubuh Simon gemetar dan panas dingin. Tanpa ia tahu bahwa reaksi Simon itu bukan karena takut di obati, tapi karena sentuhan tangan lembut nya.


"Peter benar, Dokter ini cantik, mengobati ku dengan lembut dan penuh perhatian," seru Simon dalam hati.


Setelah di suntik obat bius, perlahan kesadaran Simon menghilang di iringi dengan hati yang berbunga-bunga.


...🦋...


Simon memainkan setangkai bunga yang ia pegang, tatapan nya sendu dan raut wajah nya tampak begitu serius. Bagaimana tidak?


Ia terus terbayang dengan permintaan Dokter Filly untuk menemui keluarga nya. Tentu saja Simon gugup, apalagi ia tahu keluarga Dokter Filly adalah keluarga baik-baik. Sebagian anggota keluarga nya adalah seorang Dokter, sebagian lagi seorang pengacara dan sebagian lagi adalah pengusaha sukses. Bahkan, ada yang menjadi pejabat negara.

__ADS_1


Yeah, dia tahu itu karena Dokter Filly yang menceritakan nya. Setelah hubungan mereka semakin dekat, lebih tepat nya sekitar tiga bulan yang lalu.


"Kenapa wajah mu di tekuk?" tanya Peter. Sejak tadi pagi ia memperhatikan Simon dan teman nya itu masih memasang raut wajah yang sama.


"Aku galau," kata Simon lirih.


"Kenapa? Apa kalian putus?" Peter bertanya dengan penasaran.


"Tentu saja tidak," sanggah Simon dengan cepat sambil menatap Peter dengan tajam. "Tega sekali kau berbicara begitu."


"Aku hanya bertanya, bukan mendoakan," balas Peter membela diri.


"Ck, aku galau karena keluarga Dokter Filly meminta ku menemui mereka minggu depan—Ah, bukan. Tapi enam hari lagi." Ia menggerutu sembari menggaruk kepala nya.


"Lalu?" Peter kembali bertanya.


"Aku gugup, aku tidak pernah mengenal mereka selama ini meskipun Dokter Filly sering bercerita tentang mereka."


"Kau bodoh sekali!" Peter mencibir dengan dingin. "Apa yang harus membuat mu gugup? Kita sudah sering bertemu dengan orang yang tidak kita kenal saat transaksi."


Simon menatap Peter dengan nanar, tak tahu lagi bagaimana menjelaskan pada teman aki-aki nya itu bahwa pertemuan dengan keluarga kekasih dan pertemuan dengan rekan kerja untuk transaksi sangat lah berbeda.


"Nanti aku temani, biar kau tidak gugup." Lanjut Peter.


"Okay," jawab Simon pasrah. "Siapa tahu dengan begitu kau akan bertemu dengan wanita yang bisa membuat jantung mu berdebar, hati mu berbunga-bunga dan tiba-tiba kau seperti melihat pelangi di mana-mana. Bahkan, kau seperti berada di musim semi. semua nya terasa indah, hangat dan penuh warna."


"Apa kau merasa melihat pelangi di mana-mana?" tanya Peter.


Simon hanya mengangguk, ia teringat kembali kejadian satu tahun yang lalu. Saat pertama kali bertemu Dokter Filly, di obati dengan tangan nya yang lembut itu.


Tak peduli apakah saat musim panas atau musim dingin, Simon selalu merasa berada di musim semi.

__ADS_1


"Kalau begitu kau harus pergi ke Dokter mata," kata Peter. "Kau sudah semakin tua, besar kemungkinan penghilatan mu mulai bermasalah!"


"PETER!!!!"


__ADS_2