
Napas Ethan memburu, dadanya bergemuruh dan darahnya terasa mendidih mengingat kembali masa lalunya yang begitu mengerikan.
Sebuah pengkhianatan dan pembunuhan yang begitu keji.
"Jangan lupakan nama itu, Rae, Tommy!" Ethan mendesis tajam, ia menggenggam ponselnya dengan begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
"Eduardo, teman sekaligus rekan bisnis yang telah kalian bunuh dengan keji. Dan aku adalah Ethan Eduardo Mayer, dendam ayahku membara di setiap aliran darahku."
"Sialan!" terdengar geraman Tuan Rae dari seberang telfon.
"Temukan aku, Rae, selamatkan putrimu sebelum terlambat," gertak Ethan sambil tertawa.
"Louisa tidak bersalah dalam hal ini, Ethan! Lepaskan putriku!" Terdengar teriakan Nyonya Agatha, ada ketakutan sekaligus kemarahan dalam suaranya dan Ethan sangat menikmati itu.
"Aku akan melepaskannya setelah aku melempar dia agar digilir anak buahku." Ethan berseringai licik.
"Tidak!" Nyonya kembali berteriak panik. "Aku mohon, Ethan. Jangan lakukan itu, Louisa tidak punya salah padamu, aku mohon jangan menyakiti putriku. Akan aku lakukan apapun yang kamu mau, tapi tolong—"
"Yang aku mau hanya kehancuran kalian," seru Ethan penuh amarah. "Melihat kalian sangat mencintai Louisa, aku rasa dia adalah kuncinya, bukan?" Ethan kembali berseringai.
"Bagaimana jika dia digilir beberapa anak buahku? Tidak banyak, hanya 20 atau 30 orang, setelah itu mungkin aku bisa menjual ginjal, jantung dan matanya. Dia masih muda dann sehat, pasti harganya sangat mahal."
...🦋...
Nyonya Agatha mual bahkan hampir muntah mendengarkan ocehan Ethan, sementara Tuan Bertrand tampak sangat marah.
"Aku akan menyembelihmu dan mengeluarkan otakmu itu, bajingan!" desis Tuan Bertrand.
Sedangkan Tommy dan anak buahnya sedang sibuk melacak nomor telfon Ethan. "IP address nya berubah setiap dua detik, bahkan ada disetap negara. Hanya ada satu yang asli dan sisanya palsu. Dia pasti tahu kami melacaknya karena itu dia mengecoh kita," seru anak buah Tommy.
"Sialan! Rupanya bajingan itu cerdas juga." Tommy menggeram tertahan.
__ADS_1
"Sebelum itu temukan aku dulu, aku menunggu."
Setelah mengucapkan kata itu, Ethan memutuskan sambungan telponnya.
"Apa kau bisa melacak keberadaannya?" tanya Tuan Bertrand.
Tommy menggeleng lemah, membuat Tuan Bertrand semakin murka.
"Putriku, Louisa." Nyonya Agatha menangis dan sedetik kemudian ia terkapar tak sadarkan diri.
...🦋...
"Pergi, jangan kembali ke sini apapun yang terjadi. Jangan menoleh sedetik pun, kau paham, Ethan?"
Dalam sebuah mansion yang terletak di pinggiran kota London, terjadi peperangan antara dua kubu. Pertumpahan darah tak dapat di elakkan, bahkan ini lebih tepat dikatakan sebagai pembantaian.
Beberapa orang telah terkapar tak bernyawa di luar dan di dalam mansion, sementara sekelompok orang yang lain menembaki mereka dengan membabi buta.
Sementara di atap, sang pemilik mansion sedang berusaha menyelamatkan putra tercinta mereka dari kemalangan ini.
Bocah berusia delapan tahun itu menangis sesenggukan, ia menatap kedua orang tuanya dengan sendu.
"Kau harus pergi, Sayang." Sang ibu menangkup pipi Ethan dengan lembut, ia memberikan kecupan hangat di kening putranya itu untuk terkahir kalinya.
"Simon, bawa dia!"
"Tapi Tuan ...."
"Ini tanggung jawabmu, Simon, kau harus menjaganya seperti aku menjagamu selama ini. Pastikan dia hidup dan pastikan dia merebut apa yang telah pengkhianat itu curi dari kita," desis Tuan Eduardo dengan sorot mata yang begitu tajam.
Ethan menggeleng sambil menangis, sementara dari bawah sana terdengar suara tembakan dari berbagai tempat. Bahkan, terdengar suara langkah yang mendekati mereka.
__ADS_1
"Aku tidak mau pergi," rengek Ethan.
"Bawa dia!" titah Tuan Eduardo.
"Kami tidak bisa meninggalkanmu begitu saja, Tuan," ucap Simon. "Kami hadapi mereka semua sama-sama."
"Kita kalah jumlah, bodoh!" Tuan Eduardo kembali menggeram. "Mereka akan menghabisi kita semua, tidak akan menyisakan satu pun dari kita. Mereka juga bekerja sama dengan polisi, kita tidak berdaya saat ini."
Kini Tuan Eduardo menatap sang putra yang masih menangis, ia berlutut, kemudian menghapus air mata Ethan. "Jangan menangis." Ia meletakkan pistol di tangan Ethan. "Dunia ini kejam dan keras, mereka tidak mengenal belas kasihan, Ethan. Percuma kau menangis."
"Yang perlu kau lakukan hanya satu, berjuang tanpa mengenal lelah dan sakit. Ciptakan kekuatan dan kekuasaan, hancurkan mereka semua. Jangan pernah menjadi tidak berdaya seperti kami."
Ethan tak mampu berkata-kata, ia hanya terus menangis sampai sang ayah mendorongnya menjauh.
"Mom?" lirih Ethan, setidaknya ia berharap sang ibu pergi dengannya.
"Aku adalah istri ayahmu, Ethan. Kami sudah berjanji akan sehidup semati." Kini sang ibu menatap Simon dan berkata. "Bawa dia Simon! Bawa dia menemui pemimpin The Eagle!"
Simon langsung menggotong Ethan kemudian ia melompat dari atap, di mana sudah ada Peter yang menunggu di bawa sana untuk membawa mereka pergi.
Ethan menangis dan berteriak memanggil ibu dan ayahnya, tetapi Simon langsung membekap mulut Ethan dengan kuat, Ethan mendengar suara tembakan berkali-kali dari atap mansion.
Jiwa Ethan terbakar, darahnya mendidih membayangkan kedua orang tua tercintanya dibantai oleh orang yang mereka anggap teman.
Ethan menggigit tangan Simon hingga Simon menjauhkan tangannya dari mulut Ethan.
dalam gejolak amarah dan rasa sakit itu Ethan berteriak sekuat tenaga *sambil melesatkan tembakannya ke udara hingga membangunkan burung-burung yang sedang tidur.
"AAAGGGHHHHHHHH"
"TUNGGU PEMBALASANKU!!!"
__ADS_1
...🦋*...
...🦋...