
"Kau masih beruntung setidaknya masih hidup," kata Dokter Wales yang membuat Peter mendelik.
"Lebih baik aku mati dari pada hidup tidak berguna, aku tidak mau lumpuh," desis Peter.
"Kami sedang berusaha mencari obat untukmu, Peter, tenang lah."
Peter tak menanggapi, ia merasa patah hati saat mengetahui dirinya mungkin akan lumpuh karena pengaruh racun dalam tubuhnya.
"Kau akan selalu berguna," kata Ethan dengan lembut. "Aku tidak ingin kau mati, setidaknya jangan dalam waktu dekat." Lanjut Ethan yang membuat Simon terkekeh.
Kedua pria itu memang sangat gembira karena Peter telah bangun dari komanya, dan mereka tentu sangat tidak perduli apakah Peter berguna atau tidak untuk mereka atai tidak. Yang mereka inginkan hanyalah Peter hidup.
"Bahkan sebuah keajaiban kau bisa selamat setelah menerima 4 tembakan dengan peluru yang dilumuri racun," pungkas Dokter Wales.
"Aku rasa bahkan orang mati bisa hidup kembali jika Ethan mengamuk di sisinya," sinis Peter. "Dia mengumpat, meninju dan menendang dinding."
"Dia sedang cemburu," sambung Simon.
"Kenapa? Apa setan kecil itu punya kekasih baru? Si pria Madrid itu?" Peter mengejek, bahkan sambil tertawa pada Ethan.
"Pria jelek itu tak pantas menjadi kekasih Louisa," ketus Ethan.
Tak berselang lama, pintu ruang rawat Peter terbuka. Dokter Wales, Peter dan Simon melongo melihat siapa yang datang.
Andres bersama beberapa anak buahnya, masuk begitu saja.
"Andres, kenapa kau di sini?" pekik Simon.
"Untuk mengantar target Tuan Mayer," jawab Andres sembari menoleh.
Ed di gotong oleh dua orang pria, dengan cara di pegang ketiaknya di kedua sisi. Bahkan, kaki Ed tak menyentuh tanah, pemuda itu sampai pucat dan berkeringat.
"Ini ruang rawat pasien!" Tiba-tiba Dokter Wales berseru tegas. "Apapun urusan kalian, selesaikan di luar rumah sakit. Ini bukan ruang eksekusi!"
Peter hanya bisa menghela napas berat, sementara Simon justru tertawa kecil. Dia sungguh tidak menyangka Ethan sampai nekat seperti ini, menculik pria dari Madrid dan membawanya ke Moscow hanya karena cemburu.
"Pergilah dari sini!" usir Peter dengan suara yang masih lemah. "Kalian membuat aku sakit kepala dan aku bahkan tidak bisa memijat kepalaku sendiri."
__ADS_1
"Maafkan aku, Peter," ucap Ethan dengan cepat.
"Aku ingin tidur." Peter berkata sembari memejamkan mata. "Semua urusanmu harus selesai sebelum aku bangun, tolong jangan menambah beban hidupku."
Ethan hanya bisa meringis mendengar kata-kata Peter, ia tampak merasa menyesal karena sudah mengganggu pria itu dengan urusan pribadinya. Namun, raut wajah penuh penyesalan itu langsung berubah saat tatapannya tertuju pada Ed.
"Kalian semua siapa? Kenapa aku dibawa ke sini?" Ed berteriak nyaring, mencoba memperlihatkan kemarahan dan ketegasannya tetapi mata Ed tak bisa berbohong, ia terlihat sangat takut.
"Tidur lah, Kawan!" seru Simon sebelum akhirnya ia membawa Ethan pergi, Andres dan anak buah yang lainnya pun mengekori Ethan.
"Hey, lepaskan aku!" Ed masih berteriak nyaring, ia mencoba memberontak tetapi mulutnya langsung disumpal oleh Andres.
"Emmpphhh!"
"Empphhh!"
Ed menatap orang ke sekelilingnya, berharap ada yang mau membantu tetapi nyatanya semua orang hanya berani melirik. Mereka sangat tahu siapa Ethan, dan tentu Ed hanya satu dari segelintir orang yang perlah diperlakukan seperti itu di depan umum.
"Aku akan mencincangnya," geram Ethan.
...🦋...
Kedua orang tua Ed sampai mencari putra mereka ke sekolah, tetapi hasilnya sama. Mereka juga tak bisa melapor pada polisi karena Ed belum menghilang selama 24 jam, apalagi anak itu sudah dewasa.
"Aku rasa Ed kabur dari rumah," kata Lindka pada Louisa.
"Aku tidak tahu," sahut Louisa lirih, ia tampak merasa bersalah atas kabar hilangnya Ed. Tetapi ia juga tak bisa apa-apa karena Louisa sungguh tidak tahu di mana pria itu sekarang.
Saat ini, Louisa dan Lindka sedang menikmati waktu istirahat mereka di taman. Menikamati angin segar yang membelai tubuh mereka.
"Apa menurutmu dia diculik? Atau apa?" Lindka kembali bertanya dengan penasaran yang membuat Louisa sedikit kesal.
"Aku tidak tahu, Lindka," ketus Louisa sembari berdiri. "Aku akan ke ruang latihan sebelum Miss Grecia datang." Lanjutnya.
Lindka hanya bisa menatap temannya itu dengan nanar, apalagi ia menaruh kecurigaan hilangnya Ed ada hubungannya dengan Louisa. Sebab, sebelumnya Ed bersama Louisa.
Louisa segera berganti pakaian dengan baju ballet, setelah itu ia segera masuk ke ruang latihan bersamaan dengan itu Miss Grecia datang.
__ADS_1
"Apa kau tahu orang tua Ed datang ke sekolah mencari putranya?" tanya Miss Grecia tanpa basa-basi.
"Aku tahu," jawab Louisa. "Mereka juga sempat bertanya padaku tapi aku sungguh tidak keberadaan Ed."
"Aku rasa itu bukan masalah besar," tukas Miss Grecia. "Pemuda seperti Ed memang sering melakukan hal seperti ini, mungkin sekarang dia sedang bersenang-senang."
Louisa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan pelatihnya. "Baiklah, Nona Walter, kau siap dengan latihanmu?"
...🦋...
"Aaaghhhhhhhh!"
Ed berteriak nyaring, otot-otot lehernya sampai keluar, kedua bola matanya membulat sempurna dan wajahnya begitu tegang hanya karena Ethan mengeluarkan pistolnya.
"Aku belum menembak kepalamu, jadi diam lah!" desis Ethan tajam.
Bagaiamana Ed tak berteriak?
Ia berada di tempat asing, dikelilingi oleh orang-orang yang bertubuh kekar dan bersenjata. Bahkan, tatapan Ethan sejak tadi begitu tajam dan mengerikan, seperti seekor singa lapar yang menemukan rusa untuk dimangsa.
"Kenapa kalian menculikku? Apa salahku?" Suara Ed bergetar, begitu juga dengan kedua lututnya.
Ethan membuang napas kasar, ia duduk tepat di depan Ed.
"Aku ingin sekali membunuhmu karena kau telah berani menyentuh calon istriku!" Ethan menggeram, sementara Ed justru melongo.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," cicit Ed.
"Ah, dia pura-pura bodoh!" Ethan mendesis sinis sambil melirik Andres yang berdiri kaku seperti robot di sisi Ethan. "Andres, haruskah aku membunuhnya sekarang juga?"
"Maafkan aku, Tuan," ucap Andres. "Tapi aku rasa kau tidak perlu sampai membunuhnya, apalagi dia hanya seorang pelajar."
"Tapi dia menyentuh Louisa-ku, Andres!" geram Ethan.
"Louisa siapa?" tanya Ed memberanikan diri.
Ethan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto Louisa saat bersama Ed, hal itu membuat Ed terkejut sekaligus bingung.
__ADS_1
Ia menatap Ethan dan ponselnya secara bergantian. "Kenapa kau bisa punya fotoku dan Princess?" tanya Ed kemudian.
"Princess itu adalah calon istriku, kau paham?" Ethan kembali mendesis tajam yang membuat Ed hanya bisa menelan ludah. "Jadi, jika kau ingin hidup maka jauhi dia."