
Meskipun Peter mengatakan ayo menikah malam ini, tetapi tentu saja mereka tak sungguh-sungguh menikah malam itu juga.
Peter dan Ashley memang sama-sama tidak punya keluarga kandung, dan itu membuat mereka ingin menikah sederhana di hadapan pendeta saja. Namun, tentu Louisa tidak terima. Bagi Louisa, Peter adalah Ayah Ethan yang berarti Ayah mertua Louisa.
Louisa ingin pernikahan ayah mertuanya juga berkesan bagi mereka semua. Alhasil, tidak ada pernikahan dadakan. Semuanya di atur sebagaimana semestinya, dan yang akan terjadi sesuai keinginan istri sang Don Mayer.
Selama beberapa hari Louisa dan Filly mengurus ini dan itu, termasuk gaun pengantin dan tentu cincin pernikahan serta mengundang seluruh anggota keluarga Filly. Ah, jangan lupakan Dante dan Angel yang juga hadir secara eksklusif di sana.
Setelah semua perjuangan mereka mengumpulkan orang-orang terdekatnya untuk berbagi kebahagiaan, kini ahirnya pernikahan terlaksana dengan sangat baik.
Malam ini, pesta diadakan di mansion, semua orang menari dan bersuka cita. Termasuk Nyonga Agatha.
Sang pengantin pun berdansa dengan sangat indah, meski sebenarnya Peter cukup kaku. Namun, sebagai pasangan raja dan ratu malam ini, maka semua yang mereka lakukan harus dipandang sempurna.
Bukan kah begitu?
Malam ini, Peter terlihat sangat tampan karena pria itu terus tersenyum lebar dengan mata yang juga berbinar.
"Apa kau tahu, Lou?" Nyonya Agatha berbisik sembari menatap Peter yang masih berdansa dengan Ashley.
"Saat pertama kali Mommy melihat Peter, Mommy seperti melihat mesin robot yang mematikan. Saat itu sorot matanya sangat tajam, wajahnya selalu tegang dan sangat menyeramkan. Tapi sekarang? Mommy merasa melihat ABG yang sedang kasmaran, Mommy jadi berpikir apa jangan-jangan jiwa Peter tertukar dengan jiwa ABG?"
Louisa yang mendengar celotehan sang Ibu langsung tergelak, sementara Nyonya Agatha justru tampak sangat serius dengan dugaannya itu.
"Jiwanya tidak tertukar, Mommy," seru Louisa.
"Tapi dia benar-benar berbeda, Lou," tukas Nyonya Agatha penuh penekan.
"Anggap saja dulu jiwa uncle Peter seperti bunga di tanah yang gersang, Mommy. Dan sekarang jiwanya seperti bunga yang baru mekar, karena sudah disiram dan di tempatkan di tempat yang tepat."
Nyonya Agatha terdiam, ia masih menatap Peter yang tampak sangat kaku saat berdansa.
"Yeah, kamu benar juga. Anggap saja Ashley adalah tanah lembab sekaligus air yang menyiram jiwa Peter."
Lagi-lagi Louisa tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh sang Ibu.
Sementara di sisi lain, salah satu keponakan Filly sedang menggoda Angel, bahkan dia berniat menjahili putri mantan anggota militer Rusia itu.
__ADS_1
Namun, tentu saja dia salah memilih target.
"Kau cantik sekali." Keponakan Filly yang bernama Roan itu mencubit pipi Angel, mengganggu gadis itu yang asyik makan es krim.
"Jangan menyentuhku atau aku akan mematahkan jarimu!" ancam Angel yang seketika membuat Roan tertawa meremehakn.
"Huu, kau cantik tapi ganas," kekeh Roan dan ia hendak kembali mencolek pipi Angel. Namun, tiba-tiba Angel memegang tangannya dan memelintirnya.
Roan seketika memekik kesakitandan itu menarik perhatian semua orang.
"Astaga! Lepaskan, Angel!" seru Dante dengan tegas. Selama ini, ia memang sedikit demi sedikit mengajari Angel membela diri saat ada yang mengganggunya, tetapi ia tak pernah menyangka putrinya itu akan memelintir tangan orang di pesta pernikahan.
"Sayang, jangan main kekerasan," tegur Ethan dengan lembut.
"Kalau tidak mau dihajar, minta dia menjaga tangannya itu!" geram Angel sembari bersandekap dada.
"Maafkan putriku," ujar Dante menyesal.
Namun, seluruh anggota keluarga yang Filly justru tampak menyukai keberanian Angel.
"Saat dia dewasa...." Tiba-tiba Ayah Filly bersuara lantang. "Gadis itu akan menjadi menantu kami."
"Ethan dan orang-orangnya benar-benar luar biasa," gumam Ayah Filly itu sambil terkekeh. "Mereka selalu di luar dugaan."
Angel yang tidak menggerti apa-apa justru kembali menikmati es krimnya dengan tenang.
Sementara Orang-orang saling pandang, tetapi kemudian mereka sama-sama tertawa dan kembali menikmati pestanya.
"Aku suka sekali." Tiba-tiba Ethan berbisik mesra di telinga Louisa. "Aku suka keramaian ini, Sayang, terima kasih sudah menghadirkan mereka semua malam ini."
"Mau berdansa denganku, Don Mayer?" Louisa mengulurkan tangannya pada Ethan sembari mengedipkan sebelah matanya, membuat Ethan terkekeh.
"Tentu saja, Nyonya Mayer." Ethan menerima uluran tangan Louisa dan keduanya pun berdansa bersama.
Saling memandang penuh cinya dan rindu meski mereka selalu bersama. Sentuhan tangan keduanya pun terasa begitu hangat, sehangat kehidupan rumah tangga mereka. Tak ada lagi yang meraka inginkan dalam hidup, kecuali kebahagiaan dan kebahagiaan.
Senyum sumringah tak pernah lepas dari bibir mereka, pertanda bahwa mereka sangat bahagia malam ini.
__ADS_1
Sama halnya dengan Simon, yang kini juga berdansa dengan sang istri. "Kau semakin mahir, Sayang," kata Filly.
"Aku memang sudah mahir berdansa sejak dulu," kata Simon.
"Kau tau bukan itu maksudku." Filly mengedipkan matanya dengan genit pada Simon dan kini suaminya itu tahu apa yang dimaksud sang istri.
"Aku memang cepat belajar," kata Simon. "Tapi aku jadi penasaran akan sekaku apa Peter nanti."
"Apa dia juga ... tidak pernah bercinta?" cicit Filly.
"Tidak, dia bahkan tidak tertarik dengan wanita. Membuatku berpikir mungkin dia impoten."
Filly tertawa, baru sekarang ia mengetahui ada gangster yang punya gelar sebagai perjaka tua.
Sementara sang pengantin kini masih terus saling menadang, mereka terlihat sangat bahagia dengan pernikahan ini. Bahkan, Ashley tak dapat menahan tangis harunya atas pesta pernikahan ini.
"Jangan menangis." Peter menghapus air mata sang istri dengan sangat lembut. "Hatiku sakit melihatmu menangis, apa yang membuatmu sedih?"
Ashley terkekeh sembari menggeleng, ia menarik tangan Peter dan mencium telapak tangannya dengen mesra. Sentuhan ringan dan sederhana, tetapi sudah berhasil membuat Peter menahan napas.
"Ini air mata bahagia," kata Ashley. "Kau bukan hanya melindungiku dari segala kesialan, tetapi kau menyempurnakan hidupku."
Ashley menatap ke sekelilingnya, semua orang tampak sangat bahagia. Padahal, awalnya mereka semua adalah orang asing bagi Ashley. Namun, malam ini mereka menjadi keluarganya.
"Kau juga membuatku merasa sempurna," kata Peter.
Kini tatapan pria itu tertuju pada bibir Ashley yang merah merona, ia menelan saliva nya dengan susah payah. Dan tiba-tiba tatapannya pun berubah sayu, jantungnya berdebar dan darahnya berdesir.
Dan ... bagian bawahnya berdenyut, bahkan Peter langsung mengapitkan pahanya, seolah untuk menahan denyutan tak biasa itu.
"Ada apa?" tanya Ashley yan menyadari raut wajah dan gerak gerik sang suami tampak berubah.
"Aku ... aku tidak tahu kenapa, tapi setiap kali melihatmu, terutama bibirmu. Aku merasa jantungku berdetak sangat cepat, darahku terasa sangat panas dan ... dan rasanya berdenyut."
"Apanya?" tanya Ashley dengan dahi berkerut, bingung apa yang berdenyut?
"Itu ...." Peter memberi isyarat yang membuat Ashley melongo. Kini ia mengerti apa yang berdenyut itu.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita ke kamar, aku akan menanganinya supaya tidak berdenyut."