Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 38 - Merasuki Jiwanya


__ADS_3

"Astaga!" Erang Ethan sambil memijit pelipisnya, kepalanya terasa sakit seperti habis dipukul orang.


Ethan berusaha membuka matanya yang terasa berat dan tubuhnya juga terasa pegal, membuat Ethan bertanya-tanya apakah tadi malam dia berkelahi?


Saat ia berhasil membuka matanya lebar-lebar, Ethan menyadari kini ia berada di kamarnya dan jam kini sudah menunjukan pukul 9 pagi.


Dia bahkan tidak ingat apa yang terjadi dengannya tadi malam dan bagaimana ia bisa berakhir di ranjangnya dengan hanya memakai boxer.


Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya, Ethan yang merasa lapar langsung bergegas ke meja makan dimana Peter dan Simon sudah ada di sana.


Tatapan kedua ajudannya tampak berbeda, membuat Ethan sedikit mengernyitkan keningnya.


"Kepalaku sakit sekali," keluh Ethan sambil menarik kursinya.


"Apa kau ingat sesuatu tadi malam?" Peter bertanya dengan nada dingin.


"Sepertinya aku ...." Ethan berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. "Aku muntah di mobil."


"Kau memang muntah sangat banyak," sahut Simon meringis.


"Apa kau tidak ingat kejadian yang lain?" tanya Peter lagi, bahkan sorot matanya begitu tajam.


"Tidak." Ethan menjawab dengan malas.


"Kau tidak ingin tahu bagaimana kau bisa pulang?" Kini Simon yang bertannya.


"Pasti kalian yang menjemputku." Ethan menjawab dengan enteng yang membuat Peter dan Simon hanya bisa menghela napas berat.


"Ada apa dengan tatapan kalian?" tanya Ethan akhirnya.


"Apa kau sungguh mencintainya sampai mengukir namanya seperti itu?" celetuk Peter.


"Apa?" Ethan menautkan kedua alisnya, tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Peter.


"Kau mengukir nama LOU di pundakmu," sinis Simon dengan menekan nama Lou. Tentu saja pernyataan Simon itu membuat Ethan semakin bingung.


"Apa kalian mabuk?" sinis Ethan sembari menikmati sarapannya.


"Kau yang mabuk!" seru Peter.


"Aku tahu," sahut Ethan santai. "Siang ini aku tidak akan kemana-mana, aku merasa lelah dan ingin tidur jadi handle semuanya!"


Setelah merasa kenyang, Ethan kembali ke kamarnya.


Sementara Simon dan Peter hanya bisa saling memandang. "Apa dia sungguh tidak ingat dia sudah mengukir nama Lou?" tanya Simon.

__ADS_1


"Mungkin tidak ingat, orang mabuk memang seperti itu," sahut Peter yang juga beranjak dari kursinya setelah ia merasa kenyang. "Aku hanya tidak habis pikir bagaimana bisa dia mabuk seperti orang patah hati, padahal sebelumnya dia tidak pernah sampai tidak terkontrol seperti ini."


"Aku rasa dia benar-benar jatuh cinta."


Ethan yang kini sudah kembali ke kamarnya langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Dan saat melewati sebuah cermin, Ethan menyadari ada yang tak beres dengan pundaknya.


Ia pun kembali memunggungi kaca dan betapa terkejutnya sang Don Mafia saat melihat nama LOU terukir dengan sangat indah di pundak kanannya.


"PETER!"


"SIMON!"


Ethan langsung berteriak nyaring memanggil dua ajudannya itu. Namun, ia lupa kamarnya kedap suara sehingga tak mungkin suaranya terdengar keluar saat pintu ditutup rapat.


"Sial!"


"Siapa yang berani melakukan ini?" desis Ethan marah.


Ia langsung bergegas mencari Peter dan Simon, dua orang yang kini menjadi tersangkanya.


"PETER!"


Ethan kembali berteriak yang membuat beberapa anak buahnya terkejut, apalagi sang Don Mafia itu terlihat sangat kesal.


"Ada apa, Tuan Mayer?" tanya Peter.


"Kau yang menulis ini?" tanya Ethan tetapi justru tampak seperti tuduhan.


Peter menganga, sementara Simon justru menahan senyum geli.


"Jawab, sialan!" geram Ethan bahkan dia sampai memukul dinding.


"Saat aku menjemputmu di tempat pembuatan tatto, nama si kecil Lou sudah terukur sempurna di sana, Tuan Mayer," pungkas Peter.


"Antar aku ke sana sekarang juga! Aku akan meledakkan kepala mereka itu!"


...🦋...


"Aku tidak ingin sekolah untuk sementara waktu, Mom," kata Louisa saat Ibu dan Ayahnya membicarakan sekolah mana yang bagus untuk Louisa.


"Kenapa, Sayang?" tanya Tuan Bertrand. "Kami masih punya cukup uang untuk mendaftarkan kamu di sekolah terbaik Hampstead."


"Setidaknya biarkan aku tidak sekolah dulu selama beberapa bulan, aku mohon," rengek Louisa. "Aku tidak suka belajar bisnis," lirihnya kemudian.

__ADS_1


"Tapi itu sangat penting untukmu, Lou," tegas Nyonya Agatha.


"Bolehkah jika masuk sekolah musik atau menari?" tanya Louisa memberanikan diri. "Aku suka musik."


"Tidak ada masa depan yang jelas untuk musik apalagi penari, Sayang, karir itu hanya akan cemerlang saat kamu muda," pungkas Nyonya Agatha panjang lebar yang membuat Louisa tampak kesal.


"Sekolah bisnis jauh lebih baik, Lou," sambung sang Ayah.


"Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang aku sukai, meskipun hanya sebentar."


Setelah mengucapkan hal itu, Lousia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang kesal. Ia berpikir setelah kejadian buruk yang menimpa keluarganya, kedua orang tuanya akan mengerti apa yang Lousia butuhkan dan inginkan. Tetapi ternyata tidak.


Tak berselang lama, Nyonya Agatha memanggilnya dan mengajak Lousia berbelanja keperluan dapur. Awalnya Lousia merasa malas, tetapi pada akhirnya ia tetap karena merasa bosan di rumah.


Saat di pusat berbelanjaan, Louisa memilih beberapa cemilan.


"Jangan makan yang itu, Lou!" seru Nyonya Agatha saat Lousia hendak mengambil cemilan yang pedas. "Yang itu tidak sehat untuk mu, Sayang."


"Hanya makan sekali tidak akan membuatku sekarat," sahut Lousia cemberut.


Jawaban Louisa itu rupanya menarik perhatian seorang pria yang ada di sana. "Apa kau pernah mendengar sebuah cerita tentang kematian seseorang karena menyantap makanan pedas, Nona muda?" tanya orang itu yang langsung membuat Louisa menoleh.


"Aku belum pernah mendengar ada cerita seperti itu," jawab Lousia dingin. "Lagi pula kau orang asing, tidak sopan mengajukan pertanyaan begitu saja seolah kita teman dekat."


Pria itu terkekeh mendengar ocehan Lousia, tak menyangka gadis remaja yang terlihat cantik dan manis itu rupanya sadis juga.


"Aku Jose!"


Pria bernama Jose itu mengulurkan tangannya pada Louisa. Namun, Louisa hanya menatap pria itu dengan sinis kemudian melenggang pergi begitu saja. Membuat Jose melongo.


"Hey, sepertinya kau warga baru di sini," seru Jose mengikuti Louisa.


"Bagaiamana kau tahu?" tanya Louisa.


"Aku baru melihatmu," jawab Jose yang seketika membuat langkah Louisa langsung terhenti.


"Yeah, aku memang warga baru. Apa kau warga lama?" tanya Louisa yang membuat Jose langsung tertawa.


"Aku pemilik tempat ini!" Jose menjawab dengan percaya diri.


"Opss!" Pupil mata Louisa membesar.


"Kau ingin daging panggang Lou?" tanya Nyonya Agatha yang menginterupsi obrolan Lousia dengan Jose.


"Iya, Mom," jawab Lousia. "Hey, jika kau pemilik tempat ini, apa kau bisa berikan ini secara gratis untukku? Anggap saja sebagai salam sambutan untuk warga baru sepertiku," celetuk Louisa sembari mengambil satu cokelat batangan dan Jose mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


Setelah itu, Louisa segera menghampiri sang Ibu. Sementara raut wajah Jose yang tadinya ramah kini tampak berubah menjadi dingin.


"Akhrinya aku menemukan kelemahanmu, Ethan Mayer!"


__ADS_2