
"Uwweekkk!"
Louisa berusaha memuntahkan apa saja yang bisa ia muntahkan, tetapi pada akhir nya ia hanya bisa memuntahkan cairan putih.
"Dokter sedang dalam perjalanan," kata Ethan sembari mengusap pipi istri nya yang basah dan memerah itu. "tahan sedikit, ya?"
Louisa hanya mengangguk dengan patuh, entah apa yang salah dengan tubuh nya karena saat ia bangun tidur tiba-tiba ia merasa sangat mual.
"Kita harus batalkan penerbangan ke Italia," kata Ethan sembari memapah sang istri kembali ke ranjang.
"Jangan," cegah Louisa dengan cepat. "Varian mengundang kita secara khusus, kita harus tetap datang."
"Tapi kamu sedang sakit, My girl." Ethan mengusap kening Louisa, menyingkirkan rambut yang berantakan di sana. "Aku yakin Varian akan sangat mengerti keadaan mu."
"Tapi tidak enak pada Varian, Sayang, apa kata dia nanti? Dia datang ke sini untuk menghadiri pesta kita, padahal dia pasti sangat sibuk. Aku tidak apa-apa, kita bisa pergi ke sana."
"Kita tanya Dokter saja nanti," kata Ethan akhir nya. "Jika Dokter mempebolehkan mu bisa melakukan penerbangan, kita akan pergi."
Louisa hanya tersenyum lemah dan mengangguk. "Oh Tuhan, aku ingin muntah lagi!" keluh Louisa.
Dengan sigap Ethan langsung menggendong sang istri menuju kamar mandi. Namun, hasil nya masih sama seperti tadi. Louisa tak mampu memuntahkan apapun, apalagi karena ia memang tidak makan yang cukup sejak tadi malam.
"Kita harus ke rumah sakit," kata Ethan dengan cemas. "Aku tidak bisa melihat mu tersiksa begini, Sayang."
Louisa yang memang merasa sangat lemas itu hanya mengangguk karena ia pun tidak tahan dengan kondisi ini.
Ethan segera membungkus tubuh Louisa dengan jaket nya, setelah itu ia menggendong sang istri masuk ke dalam mobil. Para pelayan yang melihat hal itu tentu ikut khawatir, mereka berharap Louisa baik-baik saja karena sejak kedatangan gadis itu ke mansion tempat itu yang awal nya sebuah markas kini menjadi rumah dari sebuah keluarga.
******
"Kau membeli Vas bunga dengan harga jutaan dollar hanya agar Ashley tidak di marahi oleh Dokter?" pekik Dante saat mengetahui apa yang di lakukan oleh pria itu.
"Aku tidak tega melihat seorang wanita di bentak," kata Peter. Padahal ia bukan lah tipe orang yang peduli pada orang lain, tak terkecuali wanita atau anak-anak. Namun, entah kenapa perasaan nya pada Ashley berbeda.
Ia seperti ingin melindungi gadis itu, apalagi ia sangat menyukai cara Ashley menatap nya. Membuat jantung nya berdebar, bahkan semua nya terasa begitu indah dan....
Peter seketika tercengang saat menyadari sesuatu, ia teringat dengan apa yang di katakan Simon tentang jatun cinta.
Peter yang saat ini duduk di sofa bersama Dante langsung beranjak berdiri, ia memegang dada nya yang kembali berdebar bahkan hanya karena mengingat tatapan dan senyuman Ashley.
Tiba-tiba Peter langsung lari ke kamar nya, bahkan ia langsung mengunci diri di sana. Membuat Dante melongo, berpikir entah apa yang tejadi dengan pria kaku seperti kanibo kering itu.
Sementara di kamar nya, Peter bersender di pintu, dada nya naik turun dan napas nya memburu. Jantung nya berdetak semakin kencang.
"Oh Tuhan, apakah aku jatuh cinta pada nya?" gumam Peter tak percaya.
"Ah, tidak mungkin!" seru Peter membantah diri nya sendiri.
"Hai, Peter!"
Peter terlonjak saat tiba-tiba ia melihat Ashley di sisi nya, wanita itu mengedipkan mata dengan genit pada Peter.
"Bagaimana kau ada di sini?" Peter mengucek mata nya, dan tiba-tiba Ashley lenyap begitu saja. "Oh, cuma halusinasi rupa nya," gumam Peter.
"Aku di sini!"
"Ah!" teriak Peter saat ada yang menepuk pundak nya.
__ADS_1
Ia langsung berbalik badan dan ia melihat Ashley yang tersenyum sangat manis di belakang nya. Bahkan, gadis itu kini mendekatkan wajah nya ke wajah Peter. Membuat Peter menahan napas, apalagi ketika ia merasakan hembusan napas hangat Ashley di wajah nya membuat darah Peter berdesir hangat.
"Apa ini mimpi?"
Peter memejamkan mata sambil menghitung hingga sepuluh, setelah itu ia membuka mata nya. Dan Ashley kembali lenyap.
Namun, wanita it kembali muuncil di belakang nya. Peter seketika merasa takut, ia pun langsung melompat ke ranjang, menarik selimut dan bersembunyi di bawah selimut itu.
Namun, seketika Ashley juga ada di dalam selimut itu. Peter terkejut dan dia ingin berteriak. Namun, tiba-tiba mulut nya tersumpal oleh bibir Ashley.
***
Ethan tampak sangat cemas menunggu hasil pemeriksaan Dokter tentang keadaan Louisa, ia terus Monday-mandir Di sisi Istri nya yang terbaring lemah.
"Ethan?" Louisa menarik tangan sang suami. " Duduk lah, kau membuat ku pusing."
"Aku sangat cemas menunggu hasil pemeriksaan Dokter," ujar Ethan. "Oh Tuhan, kenapa kamu tiba-tiba sakit begini, Sayang?"
"Karena aku hanya manusia biasa," kekeh Louisa.
Tak berselang lama, Dokter datang membawa hasil pemeriksaan Louisa. "bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Ethan.
"Nyonya Mayer baik-baik saja, Tuan," jawab Dokter itu. "Kandungan nya juga baik-baik saja."
"Kandungan?" lirih Louisa dan Ethan bersamaan, kini kedua nya saling memandang.
"Iya, Nyonya Mayer sedang mengandung," ujar Dokter lagi yang seketika membuat Louisa dan Ethan terbelalak. "Selamat ya!"
"Oh Tuhan, ini ... Ini sungguhan??" gumam Ethan tak percaya, ia sungguh merasa sangat bahagia dan terharu mengetahui sang istri sedang hamil.
Begitu juga dengan Louisa, bahkan ia tak sanggup menahan air mata haru nya. "Sayang, aku akan jadi ayah."
Ia segera memeluk sang istri dengan lembut, kemudian mencium seluruh inci wajah wanita nya itu dengan mesra. "Aku sangat bahagia, aku merasa seperti berada di surga," racau Ethan saking bahagia nya.
Louisa yang mendengar ucapan sang suami itu hanya bisa terlekeh.
Akhirnya, apa yang mereka inginkan kini satu persatu mereka dapatkan. Hidup mereka akan segera sempurna, segera.
"Aku akan memberi tahu semua orang bahwa kau hamil, mereka harus tahu," kata Ethan kemudian. Ia segera menghubungi Ibu mertua nya dengan tidak sabar.
"uff, dia lama sekali menjawab telpon ku," gerutu Ethan.
"Mungkin Mommy sedang sibuk," ucap Louisa.
"Ah, dia menjawab nya!" seru Ethan girang.
"Halo?" sapa Nyonya Agatha dari seberang telfon.
"Halo, Nyonya Rae!" seru Ethan sambil tersenyum lebar.
"Ada apa, Ethan? Jika tidak ada yang penting, aku akan menghubungi mu nanti Karena sekarang aku sedang sibuk."
"Louisa hamil, Nyonya Rae."
"Oh ... apa???" Suara Nyonya Agatha terdengar sangat terkejut.
"datang lah ke mansion, kita akan merayakan nya."
__ADS_1
"Kau serius? Apa kalian sudah memeriksa nya dengan benar?" tanya Nyonya Agatha yang tampak nya tidak percaya dengan berita itu.
"Tentu saja aku sangat serius, Nyonya Rae, dan aku sedang ada di rumah sakit sekarang. Dokter memeriksa Louisa secara langsung."
"Oh Tuhan, aku sangat bahagia."
"Aku juga," sahut Ethan. "Sudah dulu, ya. Aku harus menghubungi Simon dan Peter sekarang."
Tanpa menunggu jawaban ibu mertua nya, Ethan memutuskan panggilan mereka, setelah itu ia menghubungi Simon.
Louisa yang melihat tingkah suami nya itu hanya bisa bisa tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Kini ia punya dua alasan untuk merasa sangat bahagia. Alasan yang pertama tentu karena akhir nya ia hamil lagi, sementara alasan yang ke dua adalah kebahagiaan Ethan.
Selama mengenal Ethan, ini pertama kali nya Louisa melihat suami nya begitu bahagia sampai bertindak konyol seperti itu. Binar di mata Ethan dan senyum di bibir nya memberi tahu Louisa bahwa ini adalah hari paling bahagia dalam hidup Ethan.
Kini air mata Louisa kembali jatuh, teringat kembali dengan kehamilan pertama nya. Andai saja ia tidak keguguran, mungkin sudah sejak tahun yang lalu ia melihat Ethan bahagia seperti sekarang.
Tapi tidak apa-apa, pikir Louisa, lebih baik sedikit terlambat dari pada tidak sama sekali.
"Simon?" seru Ethan yang tampak nya sudah mendapatkan jawaban dari Simon.
"Iya, aku mendengar mu, jangan berteriak!" seru Simon dari seberang telfon.
"Apa kau tahu? Sebentar lagi aku akan menjadi ayah, aku sangat bahagia," seru Ethan.
"Kau akan menjadi ayah? Apa kau akan mengadopsi anak?" tanya Simon yang membuat Ethan lanysung berdecak kesal.
"Sialan!" geram Ethan. "Louisa hamil, dia akan melahirkan dan kami akan jadi orang tua."
"Benarkah?" pekik Simon dengan suara yang sangat lantang. Bahkan, Ethan sampai harus menjauhkan ponsel nya dari telinga nya.
Louisa yang melihat itu hanya terkekeh, sungguh para Mafia yang kata nya mengerikan itu ternyata juga bisa bertindak absurd.
"Benar!" seru Ethan kemudian. "Aku sangat bahagia sekarang, aku sampai menangis saking bahagia nya." Ethan berkata sembari mengusap sisa air mata di sudut mata nya.
"Aku... Aku juga sangat bahagia," lirih Simon yang tentu sudah pasti sangat bahagia. "Aku akan ke sana, aku akan membawa banyak hadiah untuk anak kalian, cucu kami."
Seketika Ethan tertawa mendengar kalimat terakhir Simon. "Kau baru menikah dan sudah mendapatkan cucu, bukan kah itu luar biasa?"
Simon juga tertawa, begitu pula dengan Louisa. "Baiklah, sudah dulu, sekarang aku ingin memberi tahu Peter," kata Ethan.
Sama seperti tadi, ia langsung memutuskan sambungan telfon tanpa menunggu jawaban dari Simon.
Ethan menghubungi Peter. Tetapi tak ada jawaban, ia pun mencoba menghubungi nya lagi dan lagi tapi hasil nya masih sama.
Membuat Ethan merasa kesal. Ia pun mengirim pesan suara pada pria itu.
"Hey, Peter! Apa kau pingsan? kenapa tidak menjawab telfon ku?"
"Apa kau tahu? Louisa hamil, aku akan segera jadi ayah. Jadi cepat pulang jika urusan mu sudah selesai."
"Ah, jangan lupa bawa hadiah untuk bayi kami."
"Apa masih ada lagi yang ingin kau hubungi, Sayang?" kekeh Louisa.
"Tidak ada," jawab Ethan. Kini ia meletakkan kembali ponsel nya di atas meja, setelah itu ia kembali duduk di sisi Louisa.
"Aku sangat bahagia, sampai aku ingin memberi tahu semua orang bahwa aku edang sangat bahagia sekarang," tambah nya.
__ADS_1
"Aku juga," kata Louisa dengan senyum lembut. "Aku sangat bahagia karena melihat mu begitu bahagia, maaf karena aku terlambat memberikan kebahagiaan itu."
"Sama sekali tidak terlambat," tegas Ethan. "Semua nya tejadi tepat waktu dan begitu sempurna."