Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 144 - #Peter (Sentuhannya)


__ADS_3

Keesokan hari nya, Peter bersiap pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter. Dante dan Angel pun juga bersiap untuk mengantar pria itu, tetapi Peter menolak nya dengan tegas.


"Aku bukan anak-anak yang perlu di antar-jemput," kata Peter dengan enteng nya. Membuat Dante mulai merasa kesal tetapi ia menahan diri.


Sementara Angel kini menatap Peter dengan tajam, bocah kecil itu bersandekap dada dan ia sudah berpakaian sangat rapi.


"Kenapa kau mau ikut ke rumah sakit?" tanya Peter. "Itu bukan tempat bermain anak-anak."


"Aku hanya ingin menemani mu," tukas Angel dengan serius. "Apa kau tahu? Aku juga ke rumah sakit setiap minggu dan aku kesal karena itu, tapi karena Daddy menemani ku, aku jadi tidak kesal."


Peter terenyuh mendengar penjelasan bijak dan penuh kepudilian dari gadis kecil itu, ia peduli pada Peter Karena diri nya juga ada di posisi yang harus pergi ke rumah sakit setiap minggu.


"Jadi kau hanya ingin agar aku tidak kesal, Hem?" Peter bertanya sambil tersenyum lembut.


"Benar," jawab Angel dengan dengan serius. "Aku tahu kau laki-laki dan biasa nya laki-laki merasa lebih kuat dari perempuan. Tapi aku tahu pergi ke rumah sakit itu menyebalkan, tidak apa-apa. Kau akui saja itu." Ia mulai berceloteh panjang lebar yang membuat Peter terkekeh.


Ia pun mengusap kepala gadis itu dengan gemas kemudian berkata, "Baiklah, ayo temani aku ke rumah sakit."


Seketika senyum Angel merekah, mata nya berbinar. Sementara Dante hanya termangu, tak menyangka usaha Angel rupa nya membuahkan hasil untuk membuat pria itu tersenyum dan luluh.


"Ayo!" seru Peter pada Dante. "Kau yang menyetir."


"Okay," sahut Dante. Ia segera menyambar kunci mobil nya dengan semangat.


Namun, semangat itu musnah saat ia masuk ke dalam mobil. Bagaimana tidak?


Peter dan Angel duduk di belakang, sementara diri nya duduk di depan, sendirian, menyetir, bak sopir. Namun, ia enggan protes karena Peter takkan peduli dengan hal seperti itu.


"Uncle Peter, apa kau jalan-jalan dengan ku nanti?" tanya Angel sekali lagi, berharap kali ini jawaban pria itu berbeda.


"Baiklah," jawab Peter yang membuat Angel memekik girang.


"Apa kau menemani ku makan es krim juga?" Angel mulai meminta yang lain, ingin tahu reaksi Peter.


"Okay." Peter masih tak mempermasalahkan itu, membuat Dante bingung, ia pun melirik Peter penuh curiga. Sementara Angel justru bergelanyut manja di lengan pria itu.


"Uncle Peter, apa kau tahu?" Angel mendongak, mata bulat nya itu menatap mata Pater yang tajam seperti mata elang. "Kau sangat tampan saat tersenyum."


Peter sedikit tercengang mendengar pujian itu, tetapi kemudian ia mengulum senyum dan kembali mengusap kepala Angel. "Kau juga sangat cantik saat tersenyum."


"Semua orang terlihat lebih cantik dan tampan saat tersenyum, percaya lah." Angel berkata penuh penekanan, seolah meyakinkan Peter bahwa Peter harus lebih banyak lagi menunjukan senyum nya.


"Hem, aku percaya pada mu." Peter menyahut sambil tersenyum lebar, membuat Angel juga tersenyum lebar,.


Peter teringat dengan kejadian satu tahun lalu, saat ia melihat keadaan gadis itu tak berdaya. Dia yang sudah punya masalah jantung harus di sandera dengan di pakaiakan rompi bom.


Akan tetapi, kini gadis itu ada di hadapan Peter, tersenyum dengan mata yang berbinar. Banyak bicara dan sangat menggemaskan.


"Selain cantik, kau juga sangat pintar dan kuat." Peter memuji dengan tulus, sebab ia merasa Angel memang bukan anak biasa. Gadis itu sanggup menghadapi kematian berkali-kali.


"Daddy dan mendiang Mommy juga orang yang kuat dan berani, jadi aku harus seperti itu juga," balas Angel.


Dante yang hanya menjadi pendengar itu tak kuasa menahan senyum nya, interaksi Angel dan Peter memang tak biasa. Membuat nya senang.


Tak berselang lama, mereka sampai di rumah sakit. Dante memamerkan mobil nya di basement lantai 2.


Saat mereka hendak keluar dari mobil, tiba-tiba ....


BRUGHHH


Peter dan Dante terkejut mendengar suara itu, mereka pun segera keluar dari mobil dan mencari asal suara tersebut.


"Kau?" pekik Peter saat lagi-lagi ia melihat Ashley. Ada dua hal yang membuat Peter terkejut, yang pertama karena Ashley memakai seragam Suster dan yang kedua ... Entah motor siapa yang di tumbangkan oleh wanita itu.

__ADS_1


"Opss, aku buru-buru dan aku tidak sengaja menyenggol nya," kata Ashley sambil meringis.


Peter pun ikut meringis mendengar jawaban Ashley, sekuat apa wanita itu hingga membuat motor yang berdiri langsung roboh karena tersenggol?


"Uff, aunt Ashley selalu seperti itu," cetus Angel. "Lihat itu, kaca spion nya pecah, orang nya pasti marah dan meminta ganti rugi."


Kini tatapan mereka tertuju pada kaca spion motor tersebut, dan memang benar itu pecah. "Mati aku!" pekik Ashley sembari menepuk jidat nya sendiri. Tak lama kemudian, seorang pria datang dan mendekat ke arah mereka.


Membuat mereka semua cemas, takut pria itu pemilik motor yang di senggol oleh Ashley. Dan benar saja....


"Astaga, siapa yang melakukan ini?" teriak pria itu marah, sorot mata nya tampak begitu tajam dan wajah nya terlihat sangat sangar. "Aku akan memotong tangan dan kaki orang yang merusak motor ku!" desis pria itu yang seketika membuat Ashley ketakutan.


Secara spontan ia langsung bersembunyi di balik tubuh Peter, bahkan ia memegang tangan Peter seolah meminta perlindungan.


Peter yang sekali lagi mendapatkan sentuhan tangan lembut Ashley langsung merasa panas dingin, bahkan ia menahan napas merasakan sensasi aneh dalam jiwa nya.


"Kau yang melakukan nya?" pria itu menunjuk Peter. Tentu saja Peter menggeleng dengan cepat, apalagi setelah mendengar ancaman pria itu yang akan memotong kaki dan tangan orang yang merusak motor nya.


"Kau?" Kini pria itu menunjuk Angel, membuat Angel langsung melemparkan tatapan sinis nya.


"Apa kau tidak lihat ukuran tubuh ku, Tuan?" sarkas Angel. "Aku bahkan tidak bisa mengangkat air tiga liter, apalagi menjatuhkan motor mu."


Pria itu menatap Angel dengan tajam, tetapi Angel tak menunjukkan ketakutan nya. Hingga kini tatapan pria itu tertuju pada Peter.


"Pasti kau yang melakukan nya." Pria itu menggeram, bahkan ia sudah hampir menyerang Peter tetapi dengan sigap Peter menangkis nya.


Pergerakan Peter yang sangat cepat itu membuat Ashley terpesona. Apalagi ketika dia melihat otot lengan Peter yang tampak begitu keras.


"Iya, memang aku yang melakukan nya," kata Peter. "Aku akan mengganti rugi." Ia mengeluarkan kartu nama nya dan memberikan nya pada pria itu.


"Peter Mayer!" gumam pria itu saat membaca nama yang tertera di kartu nama Peter.


"Hem," sahut Peter.


Pria itu memperhatikan kartu nama Peter dengan lebih teliti dan ia menyadari ada logo burung elang yang membawa pedang di mulut nya. Logo yang hanya di miliki oleh anggota Mafia yang sangat terkenal. Apalagi setelah berita menghilang nya para Mafia yang lain, seperti Octopus. Yang semua orang yakini mereka di musnah kan oleh The Eagle.


Seketika pria itu menelan ludah, ia menatap Peter dengan takut sembari mengembalikan kartu nama nya. "Aku ... Aku tidak butuh ganti rugi, jangan khawatir," ujar pria itu.


Ashley yeng melihat itu tentu saja terkejut, dan ia langsung menatap Peter dengan penasaran. "Kenapa dia takut pada mu?" tanya Ashley.


Alih-alih menjawab pertanyaan wanita cantik itu, Peter justru segera berlalu begitu saja. Ia melangkah sangat cepat, dan ia tak menoleh sedikit pun meski Ashley terus memanggil nama nya.


"Ada apa dengan nya?" tanya Ashley pada Dante.


"Dia memang terkadang begitu, Ashley, sok jual mahal," kekeh Dante.


Sementara Peter kini mencoba mengatur napas karena tiba-tiba dada nya kembali berdebar, ia bahkan merasa kesulitan bernapas.


Dante dan Angel segera menyusul Peter, sementara Ashley kembali pada pekerjaan nya.


"Ada apa dengan gadis itu?" tanya Peter pada Dante. "Bagaimana bisa seorang wanita menyenggol sepeda motor besar seperti itu dan merobohkan nya? Itu sangat tidak masuk akal kecuali dia punya kekuatan super."


"Ah, sebenarnya dia memang punya satu kekuatan super yang mungkin tidak akan di miliki oleh orang lain," kekeh Peter.


"Apa itu?" Peter bertanya dengan penasaran.


"Kesialan," jawab Peter sambil tertawa kecil.


Peter langsung menaikkan sebelah alis nya mendengar jawaban itu, ia tampak tak percaya.


"Itu benar, Uncle!" seru Angel. "Aunty Ashley itu selalu saja sial, bahkan kadang membuat orang atau benda yang ada di sisi nya juga sial. Contoh nya saja pagar rumah, masa langsung penyok hanya karena dia tidak menabrak nya?"


Kedua alis Peter terangkat mendengar jawaban itu.

__ADS_1


"Angel benar," sambung Dante. "Bahkan, tetangga kami sampai harus mengganti jendela nya tiga kali karena Ashley memecahkan nya. yang pertama, Ashley menendang kaleng dan terlempar ke jendela, pushhhh, pecah!"


"Yang Kedua, Ashley bermain bola bersama anak-anak tetangga, dan buuggg. Terkena Jendela, pecah!"


"Dan yang ketiga, Ashley sedang mabuk karena putus cinta. Dia menangis sepanjang perjalanan dan saat sampai di depan rumah tetangga, dia justru berhenti dan menangis di sana sejadi-jadi nya sambil memukul jendela. Dan kau tahu apa yang terjadi?"


"Jendela nya pecah?" kekeh Peter.


"Benar!" Angel dan Dante menjawab bersamaan.


"Lalus sekarang mereka memakai jendela dari kaca anti peluru," ujar Dante lagi yang seketika membuat Peter tertawa.


"Masih banyak kejadian aneh yang terjadi karena ulah Auntu Ashley, bahkan semua orang sampai memanggil nya si gadis pembawa sial," seru Angel yang tampak sedih dengan keadaan Ashley.


"Padahal Auntu Ashley juga tidak mau itu terjadi. Itu hanya takdir." Lanjut nya.


"Benar," kata Peter membenarkan karena ia pun tidak percaya dengan pembawa sial atau pembaca keberuntungan.


Namun, Peter kini kembali teringat dengan sentuhan tangan wanita itu yang sangat lembut dan terasa dingin. Peter menyentuh lengan nya yang di pegang oleh Ashley.


Kini, Peter sudah sampai di ruangan Dokter nya. Dante dan Angel menunggu di luar, sementara Peter kini melakukan beberapa pemeriksaan.


Saat hendak melakukan pemeriksaan pertama, tiba-tiba ia di kejutkan dengan kedatangan Ashley. Peter tercengang, sementara Ashley tampak girang.


Ia melangkah cepat dan entah bagaimana ia menyenggol meja hingga vas bunga yang terbuat dari kaca itu jatuh dan pecah. Tentu saja Peter sangat terkejut melihat hal itu, bahkan ia langsung beranjak berdiri.


Sementara sang Dokter hanya bisa tercengang dengan wajah sendu, tampak terpukul karena vas bunga itu kini telah hancur.


Ashley sendiri hanya bisa cengengesan sembari menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Ya Tuhan, apa kau tidak berdoa sebelum bekerja, Ashley?" lirih Dokter itu.


"Sudah," jawab Ashley.


"TIDAK USAH MENJAWAB!" bentak Dokter itu yang membuat Ashley terkesiap.


"Apa mata mu tidak melihat vas ini, eh?" gerutu Dokter itu yang tampak nya sangat menyukai vas bunga nya.


Ashley tidak menjawab, sesuai perintah Dokter itu. "Apa mulut mu jadi bisu?" Tiba-tiba ia mendesis tajam pada Ashley. "Jawab aku saat aku berbicara dengan mu."


"Kata nya tadi jangan di jawab," cicit Ashley.


Peter yang mendengar itu hanya bisa menahan senyum geli.


"Kau!" geram nya.


"Aku punya vas yang lebih bagus dari itu," seru Peter dengan cepat, tak ingin Ashley kena marah lebih parah lagi.


Peter segera menghubungi seseorang, meminta nya mengirimkan semua Vas bunga yang paling bagus dan paling mahal pada nya.


Tak butuh waktu lama, ada beberapa foto vas bunga yang sangat indah terkirim ke ponsel nya. "Kau bisa memilih mana pun yang kau mau," kata Peter smebari menunjukkan foto-foto itu.


"Ah, kau tidak perlu repot-repot," kata sang Dokter.


"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai hadiah dari ku," tukas Peter.


Ashley yang melihat kebaikan Peter itu kini semakin terpesona, dan pria itu selalu datang sebagai malaikat pelindung nya.


"Oh Tuhan, apakah dia malaikat keberuntungan yang di kirim untuk ku?" batin Ashley.


Sementara Peter menatap wanita itu dengan pandangan yang tak terbaca


"Astaga, apa benar dia gadis yang selalu sial?"

__ADS_1


__ADS_2