
"Tentang hubungan ku dan Simon, aku datang untuk melamar nya secara langsung pada kalian."
"Oh?"
Peter dan Simon memekik bersamaan, tetapi tentu dengan perasaan dan pemikiran yang berbeda.
Simon merasa begitu bahagia, ia berpikir Dokter Filly sangat mencintai nya sehingga ia datang melamar lebih dulu.
Namun, Peter justru merasa kekasih nya Simon itu sangat aneh dan terlalu agresif. Ia berpikir seharusnya tidak bertindak seperti itu pada seorang pria karena apa yang Dokter Filly lakukan seolah ia mendominasi.
"Bagaimana bisa seorang wanita melamar seorang pria?" desis Peter kemudian.
"Tentu saja bisa, ini abad ke 21, apapun bisa terjadi." Dokter Filly menjawab dengan tegas tetapi tetap lembut, dan hal itu lah yang membuat Simon tergila-gila pada nya. Bahkan, rela membuntuti wanita itu selama beberapa bulan.
"Ayo masuk!" seru Simon kemudian sebelum teman nya itu berbuat sesuatu yang membuat Dokter Filly tidak nyaman.
"Terima kasih, Simon," ucap Dokter Filly sembari mencolek lengan Simon yang ke keras, hal itu membuat Simon terkesiap dan ia kembali merona. "Kau manis sekali," puji Dokter Filly yang melemparkan tatapan gemas nya pada Simon.
"Kau seperti seseorang yang merasa gemas pada anak anjing," celetuk Peter sekena nya yang yang membuat Simon langsung melotot kesal, sementara Dokter Filly hanya tercengang.
"Jangan hiraukan kata-kata nya, Dokter Filly," ujar Simon dengan cepat. "Dia memang seperti itu, otak dan lidah nya memang sedikit butuh perawatan."
Dokter Filly semakin bingung mendengar kata-kata Simon, apalagi selama ini Simon tak bercerita banyak tentang keluarga nya. Yang pria itu ceritakan hanya tentang ada berapa anggota keluarga nya, siapa saja nama mereka dan apa pekerjaan mereka.
Ethan, putra teman nya yang ia rawat seperti anak sendiri dan sekarang memiliki beberapa perusahaan. Baik legal mau pun ilegal.
Kemudian Peter, teman seperjuangan yang sudah ia anggap saudara sendiri. Dan si kecil Louisa, istri Ethan tercinta.
Hanya itu.
Simon membawa Dokter Filly ke ruang tamu, ia mempersilakan kekasih nya itu duduk di sana sementara ia ingin pergi mandi. Simon juga meletakkan pot bunga itu tepat di tengah meja, padahal itu bukan pot mainan. Itu pot yang berisi tanah dan batang bunga mawar.
Dokter Filly hanya mengulum senyum melihat kelakuan sang pujaan.
__ADS_1
Peter pun pergi mandi, tetapi sebelum itu ia sudah menghubungi Peter dan meminta nya pulang segera.
...🦋...
Ethan dan Louisa sedang dalam perjalanan menuju mansion, tetapi sebelum itu Louisa mampir di toko kue. Setelah itu, baru lah mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Ada apa?" tanya Louisa yang melihat kening Ethan berkerut, bahkan sorot mata nya tampak cemas.
"Peter meminta kita segera pulang, kata nya Simon dalam bahaya." Ethan menjawab sembari menunjukkan pesan Peter, membuat Louisa juga merasa cemas.
Ethan pun melajukan mobil nya lebih cepat.
Sesampainya di mansion, Ethan dan Louisa sama-sama bingung melihat ada mobil asing di depan mansion. Mereka pun segera masuk ke dalam dengan perasaan yang begitu cemas.
Namun, yang mereka justru Simon yang sedang duduk berhadapan dengan Dokter Filly. Kedua nya tak ada yang bersuara, sementara raut wajah Simon tampak begitu tegang.
"Simon, apa yang terjadi?" tanya Ethan cemas. "Kau baik-baik saja, kan? Peter bilang kau dalam masalah."
Ethan dan Louisa kini menatap Peter yang berdiri tak jauh dari sana, seolah mengawasi Simon dan Dokter Filly.
"Aku tidak menyangka ternyata di rumah kedatangan tamu," ujar Louisa kemudian dengan ramah, untuk mencairkan suasana. Ia pun segera menarik Ethan agar segera duduk di sofa, tak lupa Louisa juga memberi isyarat pada Peter agar bergabung dengan mereka.
"Aku datang untuk menemui kalian," ujar Dokter Filly.
"Oh, apa ada yang bisa kamu bantu?" tanya Louisa dengan kening berkerut karena ia menyadari ada pot di tengah meja.
"Ini tentang hubungan ku dan Simon, aku harap kalian sudah tahu bahwa kami berkencan." Dokter Filly menatap anggota keluarga Simon itu satu persatu.
"Yeah, dia sudah memberi tahu kami," kata Ethan.
"Tunggu!" seru Louisa menginterupsi. "Siapa yang meletakkan pot bunga di meja? Itu kotor," keluh nya.
"Aku!" jawab Simon sembari mengacungkan tangan. "Bunga itu di bawa oleh Dokter Filly, jad aku meletakkan nya di sana agar bisa selalu melihat nya," tukas Simon yang membuat Louisa melongo.
__ADS_1
Sementara Ethan terkekeh dan Peter hanya meringis, Dokter Filly juga hanya bisa mengulum senyum.
"Uncle Simon, pot itu bukan pot pajangan," ujar Louisa lemas. "Itu pot sungguhan, ada tanah nya dan bunga itu juga bisa tumbuh besar nanti."
"Ya, aku juga tahu itu. Aku hanya ingin menyimpan di sana selama beberapa hari." Louisa hanya bisa menghela napas berat mendengar jawaban Simon, ingin rasa nya ia menjelaskan bahwa dia masih bisa memandangi nya meski di letakkan di halaman belajang atau samping mansion.
"Lagi pula kau aneh juga." Tiba-tiba Peter ikut bersuara. "Seorang pria seharusnya melamar wanita dengan membawa sebuket bunga, tetapi ini justru seorang wanita melamar pria dengan membawa bunga beserta pot nya."
Louisa tidak tahu harus kah ia tertawa, marah atau mengerutu saja mendengar ucapan Peter. Sementara Ethan tak bisa menahan tawa nya, beda hal nya dengan Peter yang masih memasang wajah tanpa ekspresi.
"Jadi Dokter Filly datang ke sini untuk melamar uncle Simon?" tanya Louisa.
Dokter Filly langsung mengangguk tanpa ragu. "Memang nya Dokter Filly mau menerima pria yang mungkin usia nya sepertiga usia mu?" Louisa kembali melontarkan pertanyaan, ia sungguh ingin tahu keseriusan wanita yang ingin meminang ayah mertua nya itu.
"Usia sama sekali bukan masalah," jawab Dokter Filly dengan yakin. "Aku mencintai Simon, bukan usia atau tubuh nya."
Simon merasa tersentuh mendengar jawaban sang kekasih, dan kini ia merasa cinta nya pada Dokter Filly semakin besar dan mengembang.
"Apa kau tahu bahwa kamu seorang gangster?" Peter juga melontarkan pertanyaan nya, membuat semua orang terkejut dan langsung menatap Peter. Namun, Dokter Filly tampak nya tidak akan masalah dengan itu
"Aku sudah menduga itu," jawab nya.
"Lalu bagaimana?" cicit Simon kemudian, ia menatap Louisa dengan sayu karena hanya menantu nya itu lah yang bisa menaklukka Ethan dan Peter.
"Jika kalian bahagia dan memang saling mencintai, maka seharusnya kalian segera merencanakan pernikahan," kata Louisa yang seketika membuat Simon tersenyum lebar, begitu juga dengan Dokter Filly.
"Bukan kah begitu, Sayang?" Louisa menatap Ethan penuh arti hingga suami nya itu mengangguk. Dan sekarang tatapan nya beralih pada Peter.
"Bagaimana dengan mu, Uncle Peter?" Melihat Uncle Simon bahagia, kan? Dan Dokter Filly adalah sumber kebahagiaan uncle Simon!"
Peter hanya tersenyum samar. Ia tak bersuara, tetapi ia terlihat sangat senang meski ia tidak menunjukan nya dalam Kata-kata.
"Selamat bergabung di keluarga Mayer, Dokter Filly!"
__ADS_1