Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 92 - Curiga


__ADS_3

"Sebenarnya hari ini hari ulang tahun mommy, aku ingin memberikan kejutan untuk nya," kata Louisa pada Lindka.


"Itu ide yang bagus," sahut Lindka. "Apa kau akan mengadakan pesta di rumahmu atau sesuatu yang lain?"


"Aku hanya ingin menyiapkan makan malam," jawab Louisa yang langsung membuat Lindka meringis.


"Sesederhana itu?" tanya Lindka dan Louisa hanya mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kau harus menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk ibumu."


Louisa terdiam sejenak, dia sungguh tidak tahu harus memberikan apa pada sang Ibu sebagai hadiah ulang tahun. Dulu, dia bisa membeli barang-barang mewah dengan uang yang ia miliki. Akan tetapi Louisa merasa barang-barang mewah itu kini bukan prioritas utama dalam hidup mereka, dan mereka juga tak lagi mempedulikan hal itu.


"Aku ingin sesuatu yang sangat berarti, yang membuat mommy bahagia," kata Louisa sambil mengulum senyum. "Ah, aku rasa aku tahu apa yang harus aku siapkan untuk mommy."


"Lalu, bagaimana dengan makan malam?" tanya Lindka.


"Aku mengundang mu dan Ed ke rumah malam ini," ujar Louisa, ia celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari sosok teman prianya itu.


"ED!" teriak Louisa saat melihat Ed.


Yang dipanggil sempat menoleh, tetapi kemudian Ed langsung bergegas pergi saat melihat Louisa.


"Tunggu, Edward!" Louisa kembali berteriak sambil berlari menghampiri Ed, Lindka pun ikut berlari. "Kau ini kenapa?" tanya Louisa setelah berhasil mengejar Ed.


"Tidak apa-apa," jawab Ed sembari membuang muka.


"Tapi kau selalu menghindari ku, apa kau marah?" cicit Louisa, raut wajah nya tampak cemas, seolah sungguh takut jika Ed marah padanya.


Hal itu rupanya membuat Ed tidak tega, sudah berhari-hari Louisa terus mencoba mendekati nya dan Ed selalu menghindar.


"Sebenarnya ...." Ed menunduk. "Sebenarnya aku menjauhimu karena kekasih mu mengancam ku," bisik Ed yang membuat Louisa melotot sempurna.


"Benarkah?" pekik Louisa. "Maksud mu ... Ethan?" Louisa juga berbisik di akhir kalimat.


Ed hanya mengangguk pelan, dan lagi-lagi Louisa hanya bisa melongo.


"Kapan? Di mana? Dan bagaimana bisa?" cecar Louisa.

__ADS_1


Belum sempat Ed bercerita, Lindka datang menginterupsi.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Lindka dengan napas yang terengah.


"Tidak ada," jawab Ed dengan cepat.


"Ed, malam ini ibunya Louisa berulang tahun, kita harus datang untuk merayakan nya," kata Lindka dengan semangat.


Ed tampak enggan, tetapi Louisa memaksa. "Tidak akan ada yang terjadi," kata Louisa seolah tahu alasan Ed menolak. "Aku janji dia tidak akan mengancam mu lagi," bisik Louisa.


"Sungguh?" tanya Ed, sebab ia pun senang berteman dengan Louisa.


Louisa mengangguk pasti. "Baiklah, aku akan datang. Haruskah aku membawa hadiah?"


"Tidak perlu."


...🦋...


Di sisi lain, Ethan sedang mengawasi cctv di setiap sudut yang ada di markas, mencoba mencari tahu apakah ada yang mencurigakan atau tidak.


"Ada kabar apa?" tanya Ethan tanpa melihat pria paruh baya itu.


"Aku sudah menemukan di mana putri Dante," ujar Simon sembari menyerahkan amplop yang ia bawa.


Ethan langsung membuka nya dan mengeluarkan beberapa foto. Sebuah panti asuhan, dan foto seorang gadis kecil yang sedang bersama seorang Suster.


"Bukan kah Dante mengatakan anaknya di rumah sakit? Kenapa ada di panti asuhan?" tanya Ethan heran.


"Penjahat seperti mereka tidak akan bisa di percaya," sinis Simon. "Dari informasi yang aku dapat, Jose hanya memberikan sejumlah pada pengurus panti asuhan dan meminta mereka membawa Angel ke rumah sakit. Dia belum di operasi."


Ethan terkejut, tetapi kemudian ia tertawa sinis. Seorang penjahat akan selalu menjadi penjahat, dan penjahat tidak ada yang bisa di percaya.


Ethan beranjak dari kursinya dengan membawa foto-foto itu.


"Kau mau ke mana?" tanya Simon.

__ADS_1


"Menemui Dante, dia harus tahu apa yang sudah Jose lakukan pada putrinya."


Ethan keluar dari ruangannya dan ia berpapasan dengan Erik. "Apa Anda akan pergi ke suatu tempat, Tuan Mayer?" tanya Erik.


"Yeah," jawab Ethan. "Aku ingin mencari udara segar."


Erik hanya mengangguk kemudian ia bergegas pergi.


"Jangan ikut dengan ku," pinta Ethan pada Simon. "Tetap lah di markas dan awasi semua orang dari cctv."


"Kalau begitu bawa lah beberapa orang untuk menjaga mu," kata Simon. "Di saat seperti ini bencana bisa datang kapan saja dan dari arah mana saja."


Ethan hanya mengangguk tanpa bersuara.


Sementara Erik kini masuk ke dapur, ia melihat beberapa cctv yang ada di sana dan Erik harus mencari cara bagaimana caranya agar ia tak tertangkap kamera saat menjalankan aksinya nanti.


"Kenapa kau seperti pria yang ingin merencanakan perampokan?"


Erik terkejut saat mendengar suara Peter yang entah bagaimana tiba-tiba ada di belakangnya.


"Apa maksud mu berbicara begitu?" tanya Erik.


"Kau seperti memperhatikan cctv, seolah ingin melakukan sesuatu tanpa tertangkap cctv itu," tebak Peter yang sama sekali tidak meleset.


Hal itu membuat Erik kesal, meskipun Peter lumpuh, tetapi itu tidak mengurangi ketajaman analisa nya.


Peter memang hanya duduk di kursi roda, tetapi kursi roda itu tentu saja sangat canggih. Peter bisa pergi ke setiap sudut markas sendirian, cukup ia menekan satu tombol di kursi roda itu.


Dan saat ia sedang berjaga-jaga, ia melihat Erik masuk ke dapur. Sesuatu yang tak pernah pria itu lakukan sebelum nya, lalu bagaiman Peter tak curiga?


"Aku hanya ingin memastikan apakah semua cctv aktif, apalagi di saat seperti ini," elak Erik.


Peter menatap pria itu dengan tajam, tak memperlihatkan bahwa dia percaya pada yang Erik jelaskan.


"Aku curiga pada mu," tukas Peter terang-terangan. "Aku akan mengawasi mu dengan ketat, jadi berhati-hati lah bertindak jika kau tak ingin kehilangan kedua mata mu!"

__ADS_1


__ADS_2