
"Dia bukan anggota organisasi mana pun, dia juga tidak punya jejak kriminal. Dia seperti makhluk dari dunia lain yang tiba-tiba datang ke dunia ini."
Ethan mendengarkan celotehan Simon dengan baik, sembari berpikir sebenarnya siapa Dante.
"Haruskah kita membunuhnya? Aku tidak sabar ingin melihat dia mati," desis Simon dengan tajam. "Dia melukai Peter, aku ingin sekali memenggal kepalanya." Ia melanjutkan dengan emosi yang menggebu.
"Dia pintar menembak, dia jago berkelahi," ucap Ethan yang mengabaikan coletehan Simon. "Dia tahu bagaimana melumpuhkan musuh, rencananya pun tersusun dengan sangat matang. Tapi dia tidak melarikan diri setelah menyerang Peter padahal dia pasti tahu kita akan memburunya."
"Kau bicara apa, Ethan?" tanya Simon yang memang tidak mengerti apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Ethan.
"Artinya ...." Ethan melanjutkan, dan lagi-lagi ia mengabaikan Simon. "Dia memang tidak ingin pergi untuk menyelamatkan diri, ada sesuatu yang membuatnya tetap berada di Moscow." Ethan memicingkak matanya, ia tampak berpikir sangat keras untuk mencari tahu siapa Dante.
"Apa menurutmu penyerangan itu sengaja dilakukan untuk memancingmu?" Simon mulai sedikit mengerti ke mana arah pemikiran Ethan.
"Aku rasa begitu," jawab Ethan. "Dia melakukan semua ini untuk seseorang, dia tetap bungkam dan tidak terlihat ketakutan di matanya. Tetapi saat aku menyebutkan orang terkasih, dia bungkam tanpa ekspresi."
"Aku tahu, orang terkasihnya terancam atau mungkin dia balas dendam untuk orang terkasihnya." Simon menambahkan. "Lalu?"
"Ada dua orang yang pandai dalam medan pertempuran, gengster atau polisi." Ethan kembali melanjutkan. "Tubuhnya besar, kuat, kekar. Ada bekas luka di beberapa bagian tubuhnya, dia pasti sering terluka karena sebuah perkelahian. Bahkan aku melihat ada bekas luka tembak di betisnya."
"Lalu? Apa menurutmu dia seorang polisi?" tanya Simon dan Ethan hanya mengangguk.
"Oh- hah?" pekik Simon dengan mata yang melotot sempurna saat ia mulai menyadari sesuatu.
"Saat aku bergabung dengan militer, kami semua diajari bertarung, bertahan, menyusun siasat dan sebagainya. Sama seperti yang mendiang Kakek Marlon ajarkan padaku," tukas Ethan.
"Dante berani dan kuat, dia juga sangat cerdas." Ethan tersenyum miring saat menemukan petunjuk kecil itu. "Cari tahu di kepolisian, militer dan sebagainya, Simon. Aku yakin Dante salah satu dari mereka."
Simon terkekeh, kecerdasan Ethan memang di atas rata-rata meskipun pria itu tak pernah sekolah. Yeah, sekolah memang mengajarkan teori yang luas, tetapi lapangan mengajarkan segalanya dengan gamblang.
Di sisi lain, Louisa masih terus berlatih melakukan dua hal yang ia sukai itu dengan semangat.
Mungkin ibunya benar, dia tidak harus bisa mahir menari dan bermain piano dalam waktu 6 bulan. Apalagi usia Louisa yang masih muda, ia masih punya banyak waktu untuk belajar. Akan tetapi, dengan menyibukan diri latihan membuat Louisa mampu sedikit melupakan dan mengkhawatirkan Ethan.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, Louisa sibuk dengan aktivitasnya yang menyenangkan begitu juga dengan teman-temannya.
Sementara Ethan sibuk dengan aktivitasnya yang selalu menegangkan dan memacu adrenalin, apalagi saat ia dalam misi pencarian musuh yang bersembunyi dengan sangat rapi. Belum lagi Dante yang masih enggan untuk berbicara meskipun Ethan sudah memberikan berbagai macam siksaan, hingga akhirnya Ethan merasa lelah sendiri.
Keadaan Peter juga masih sama saja, menambah beban Ethan. Bahkan, pria itu sudah kehilangan banyak berat badannya, ia jauh lebih kurus, bulu-bulu halus tumbuh di sekitar pipinya. Ia seolah tak punya waktu lagi untuk mengurus dirinya sendiri.
...🦋...
"Aku lelah sekali, Peter," lirih Ethan sembari meletakkan kepalanya di lengan Peter. "Baru sekarang aku kesulitan menghadapi seseorang, aku tidak tahu apa yang ada di belakang penembak itu sampai dia begitu kuat mempertahankan dirinya."
Ethan menghela napas berat, tatapan pria itu sudah begitu sayu dan wajahnya mulai terlihat pucat. "Aku mohon bangun, Peter, aku bingung sekarang harus apa."
"Dan bagaimana kalau kamu mati? Aku harus melakukan apa nanti? Kamu tahu 'kan aku tidak bisa melangkah kalau kamu tidak menuntunku?"
"Peter, ayahku sudah mati, kakek juga. Kalau kamu mati, aku harus hidup dengan siapa? Siapa yang akan menjagaku?"
"Orang menyebutku sebagai persatuan antara elang dan singa, tapi aku masih Ethan yang dulu, yang selalu ingin bersamamu dan Simon. Aku juga akan menangis dan hancur jika kau pergi."
Suara Ethan mulai tercekat, napasnya mulai terasa memberat bahkan kedua mata pria itu mulai terasa panas dan berkaca-kaca.
Ethan menggenggam tangan Peter dengan erat, ia memejamkan mata dan mencoba mengatur napasnya. "Kalau kamu tidak bangun sampai malam ini, aku akan melepas alat pernapasanmu itu, Peter, biar saja kau mati sekalian," celoteh Ethan yang mulai merasa putus asa. "Haruskah setelah itu aku juga ikut mati denganmu?" Ia bertanya dengan sangat lirih.
Tanpa Ethan sadari, jemari Peter bergerak, bahkan kelopak mata pria paruh baya itu juga bergerak seolah ia merespon suara Ethan.
Perlahan Ethan mulai tertidur, hingga tiba-tiba Simon masuk ke ruang rawat Peter.
"Ethan?" Simon menepuk pipi Ethan dengan lembut.
"Apa?" gumam Ethan masih memejamkan mata.
"Aku sudah menemukan identitas pria itu."
Seketika kedua bola mata Ethan terbuka lebar. "Siapa dia?"
__ADS_1
...🦋...
"Kau mengalami kemajuan yang sangat baik, Princess," kata Lindka sembari menikmati satu cup kecil es krim rasa Vanilla.
"Terima kasih, Lindka," ucap Louisa. "Sebenarnya aku belajar lebih keras agar Miss Grecia tidak marah lagi," gurau Louisa.
Saat ini kedua gadis itu sedang berada di café yang tak jauh dari sekolah mereka, melepas penat dengan menikmati sedikit es krim. Sebagai calon Ballerina, mereka benar-benar harus menjaga apa yang mereka konsumsi, begitu juga dengan Louisa.
Tak berselang lama, Ed datang bergabung dengan mereka. "Kalian bersenang-senang tanpa mengajakku tega sekali," kata Ed sembari duduk di sisi Louisa.
"Aku rasa kau tidak akan bergabung dengan kami yang ingin menikmati es krim," kekeh Lindka. "Biasanya pria tidak begitu suka makan es krim."
"Siapa bilang?" sanggah Ed bahkan ia sembari mengambil es krim Louisa dan mencicipinya menggunakan sendok yang dari mulut Louisa.
Louisa melongo melihat tingkah teman prianya itu, sementara Lindka hanya mengulum senyum. Ia tahu Ed menyimpan rasa pada Louisa, itu terlihat jelas di mata Ed.
"Apa yang kau lakukan? Aku bisa membelikannya untukmu," kata Louisa.
"Memang kenapa jika aku meminta sedikit punyamu?" goda Ed. Ia pun melirik Lindka dan memberi isyarat pada wanita itu agar pergi dari sana.
"Aku akan pulang sekarang," kata Lindka. "Ibuku ingin aku pulang lebih cepat."
"Aku juga," sahut Louisa. Bahkan, ia sudah hendak beranjak dari tempat duduknya tetapi Ed menarik tangan Louisa.
"Es krim mu belum habis, Princess, tetaplah di sini."
"Tapi —"
"Ayo lah." Ed membujuk, bahkan tampak memelas.
Louisa pun kembali duduk di kursinya.
Setelah Lindka pergi, Ed langsung menatap Louisa dengan intens, membuat gadis itu tampak salah tingkah.
__ADS_1
"Princess, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Ed. "Sebenarnya aku ... aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu."