
"Tuhan, aku tidak mau mati."
"Anak itu juga tidak seharusnya mati, kasihan sekali dia masih kecil."
"Aku mohon, jangan biarkan aku mati sekarang. Setidaknya biarkan aku melahirkan dulu, ini anak pertama ku."
Louisa terus memohon tanpa henti karena untuk saat ini ia sungguh tak bisa melakukan apapun. Waktu terus berlanjut, yang artinya semakin sedikit pula waktu yang ia miliki.
Ia juga terus menatap gadis kecil itu yang masih tak kunjung membuka mata, padahal Louisa sangat penasaran siapa anak itu dan kenapa bisa ada di tempat ini, dalam keadaan yang sama pula dengan Louisa.
Air mata Louisa mengalir tanpa henti di pipi nya, membayangkan keadaan ibu nya yang sudah pasti mencari nya saat ini. Dan mungkin orang tua gadis itu juga mencari nya.
"Apa mungkin dia putri rekan kerja Ethan?"
Tak berselang lama, seorang pria yang bertubuh kekar dan berwajah sangar masuk, membuat Louisa semakin ketakutan.
Pria itu membawa satu potong roti dan satu gelas air. Louisa mulai berpikir bagaimana cara nya ia melepaskan diri dan lari dari tempat ini.
Pistol, Louisa melihat ada pistol di pinggang pria itu. Otak nya mulai bekerja, jika pria itu melepaskan tangan nya, ia akan langsung mengambil pistol itu.
Namun, pria itu justru berlutut di depan Louisa, membuka bungkus roti dan menyodorkan nya ke mulut Louisa.
"Aku mau makan sendiri!" seru Louisa. Namun, pria itu hanya menatap nya dengan tajam. Louisa pun memasang wajah marah nya, tetapi pria itu langsung mencengkram pipi Louisa dengan kuat. Membuat Louisa meringis, tulang pipi nya seperti akan remuk. Kemudian pria tersebut memaksa Louisa makan, tetapi Louisa mencoba memberontak.
Kesal dengan perlakuan pria itu, Louisa menendang nya dengan kaki sekuat tenaga hingga pria itu terjungkal ke belakang. Pria itu melotot tajam, dan ....
PLAKKKK
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi Louisa, membuat nya shock bahkan langsung menahan napas. Keras nya tamparan itu membuat sudut bibir nya sampai berdarah.
Tanpa berbicara, pria itu menunjuk wajah Louisa, seolah memperingatkannya. Setelah itu ia pergi dengan membawa roti dan air nya, membuat Louisa menyesali perbuatan nya karena sebenarnya ia juga sangat lapar.
"Mommy!" lirih Louisa setelah pria itu pergi. Tangis nya semakin pecah, yakin kini ia berada dalam bahaya yang begitu besar. "Hiksss .... hiks, Mommy, tolong aku."
Mata Louisa buram karena air mata yang memenuhi pelupuk mata nya, hingga tanpa sengaja ia melihat ponsel pria itu yang tergeletak di lantai. Louisa yakin ponsel itu pasti jatuh dari saku pria itu saat ia jatuh tadi.
Louisa langsung mencoba meraih ponsel itu dengan kaki nya. Namun, pria itu kembali masuk yang membuat Louisa langsung terdiam takut.
Pria itu menatap ponsel nya yang ada di kaki Louisa, ia melangkah cepat dan lebar kemudian menyalakan ponsel nya seolah untuk memastikan sesuatu.
Louisa terbelalak saat menyadari ponsel itu menunjukkan tempat di mana Louisa berada sekarang.
__ADS_1
Di London, Inggris.
"Oh Tuhan!" pekik Louisa panik. Ia bertanya-tanya bagaimana diri nya yang ada di Madrid tapi tiba-tiba kini ada di London?
Apalagi waktu menunjukkan pukul 10 pagi, sementara terakhir kali ia tersadar masih sore hari.
"Ini di London?" teriak Louisa.
Pria itu lagi-lagi tak menjawab, ia hanya menatap Louisa dengan tajam setelah itu bergegas pergi.
"Ethan?" lirih Louisa yang merasa semakin putus asa, diri nya berada di tempat yang begitu jauh dengan Ethan. "Aku di sini, aku mohon tolong aku!"
...🦋...
Ethan sungguh tidak tahu harus melangkah ke mana untuk mencari Louisa, sampai detik ini masih tak ada petunjuk sedikit pun ke mana orang-orang itu membawa Louisa.
Simon yang masih sakit pun juga mencoba mencari Louisa dengan cara nya sendiri, mencoba melacak gadis itu melalui GPS ponsel nya. Namun, itu tak menghasilkan apapun. Terakhir ponsel Louisa aktif di tempat Ethan menemukan Andres.
Seluruh anak buah Ethan yang ada di berbagai negara pun telah bergerak mencari Louisa, tetapi mereka benar-benar menemui jalan buntu saat ini.
Hal itu membuat Ethan semakin takut dan panik, sampai ia tak sanggup lagi untuk berpikir.
Ia berlutut, menggenggam tangan dan menutup mata nya.
"Sampai detik ini, aku tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah pada ku," lirih Ethan. "Dan Louisa-ku sungguh tidak bersalah, dia tidak berdosa pada siapapun. Jadi aku mohon pada-Mu, lindungi dia, jaga dia."
Ethan berdiam diri cukup lama, bahkan tanpa terasa ia menitikkan air mata nya. Ia terus berpikir kira-kira di mana Louisa berada sekarang.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Louisa-ku, aku tidak akan pernah datang pada-Mu lagi. Kau tidak melindungi orang tua ku, apakah sekarang Kau juga tidak akan melindungi istri ku?"
Ia mulai marah dengan keadaan yang ada, apalagi selama ini ia tak pernah mengalami jalan buntu seperti sekarang.
"Kau mengancam Tuhan?"
Ethan yang mendengar suara itu langsung mendongak dan membuka mata, pendeta yang telah menikahkan nya dengan Louisa kini berdiri tepat di hadapan nya sambil tersenyum lembut.
"Kau?" Pria itu tampak terkejut melihat dan tentu ia ingat jelas dengan wajah Ethan.
"Kau mengingat ku?" tanya Ethan sembari beranjak berdiri.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah bisa melupakan pria yang tiba-tiba datang untuk menikah, tanpa gaun pengantin dan tanpa cincin," kekeh nya.
__ADS_1
"Pengantin ku belum memakai gaun nya, belum memakai cincin nya juga. Dan sekarang dia menghilang entah ke mana, seseorang menculik nya." Ethan menjelaskan tanpa ragu, hal pertama yang tak pernah ia lakukan selama ini, curhat pada orang asing.
"Dia sangat berarti dalam hidup ku, aku tidak akan bisa hidup tanpa nya." Ia menambahkan sembari mengucek mata nya.
"Itu adalah konsekuensi dari apa yang kamu lakukan," ucap sang pendeta yang membuat Ethan mengernyit bingung.
"Kemarin malam, saat semua orang sibuk berpesta, istri mu justru duduk di sini selama berjam-jam, sampai tengah malam hanya karena dia tidak bisa berhenti memikirkan mu," ungkap pendeta itu lagi yang membuat pupil mata Ethan melebar.
"Dia bercerita beberapa hal tentang diri mu, dan itu membuat nya hidup dalam kecemasan. Takut terjadi sesuatu pada mu yang mungkin tidak akan bisa pulang."
Ethan langsung tertunduk sedih mendengar cerita itu. "Aku sudah berjanji akan selalu pulang," lirih Ethan sembari mengucek mata nya yang sudah terasa begitu panas."Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu dia ada di mana, aku tidak tahu ke mana para bajingan itu membawa istri ku. Aku bingung harus pulang ke mana." Lanjut nya.
"Biasanya sesuatu akan berakhir di mana itu dimulai," ujar pendeta itu lagi.
Ethan seketika terdiam, ia berpikir sejenak sembari mengingat bagaimana semua ini terjadi.
Ada begitu banyak musuh dalam hidup nya, semua tempat menjadi awal peperangan. Namun, untuk yang sekarang hanya ada dua kemungkinan.
"Aku akan kembali bersama istri ku!" seru Ethan kemudian ia bergegas pergi dari gereja, membuat sang pendeta hanya bisa melongo bingung.
Ethan melangkah lebar sembari menghubungi Joel.
"Ya, Don Mayer? " sahut Joel dari seberang telfon.
"Cari istri ku di setiap sudut kota London!" titah Ethan sembari masuk ke dalam mobil nya.
Setelah itu, ia menghubungi Simon.
"Aku belum menemukan Louisa, Ethan, maafkan aku."
"Fokuskan pencarian hanya di Moscow, jangan sampai ada tempat yang terlewat!"
"Apa Louisa di bawa ke Moscow?"
"Dexter dan Amber punya markas di Moscow, sementara ayah mereka di London. Louisa pasti ada di salah satu tempat itu!"
"Lalu bagaimana dengan putri Dante?"
Seketika Ethan terdiam, ia masih tak dapat memikirkan apakah putri Dante dibawa bersama Louisa atau tidak?
"Perluas pencarian di semua tempat, cari segala petunjuk terutama dari rumah sakit tempat Angel di rawat!"
__ADS_1