
Setelah makan malam, Dokter dan Suster kembali memeriksa keadaan Ethan dan mengganti perbannya di tubuh Ethan.
"Apa kau bisa duduk, Tuan Mayer? Aku harus mengganti perban di punggungmu," kata Dokter.
Ethan hanya mengangguk pelan.
Mungkin, banyak orang yang mengalami luka seperti Ethan dan mereka hanya bisa terbaring di ranjang selama beberapa hari. Namun, tentu saja tidak dengan Ethan.
"Kau sungguh bisa duduk? Atau kau bisa miring saja, Tuan Mayer," ujar Dokter yang merasa kasihan karena Ethan masih terlihat lemah.
Akan tetapi, seperti biasa Ethan tak pernah mendengarkan siapapun. Pria itu berusaha duduk dan Dokter langsung membantunya.
"Apakah kau merasa pusing?" tanya Dokter sembari membuka perban Ethan dengan hati-hati.
"Sedikit," jawab Ethan singkat.
"Baiklah, sebaiknya kau beristirahat total. Bukan hanya fisikmu tapi juga pikiranmu, jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu. Itu bisa berbahaya untuk kesehatanmu."
Ethan enggan menanggapi, bahkan dia seolah takk mendengar nasihat bijak sang Dokter.
Sementara itu, Louisa kembali berniat menemui Ethan untuk berbicara dengan pria itu. Setidaknya untuk kali terakhir, sebab setelah ini Louisa pun sudah bertekad akan melupakan segalanya.
"Apa kau ingin Mommy menemani kamu, Lou?" Nyonya Agatha menawarkan diri tetapi Louisa menggeleng.
"Mom, aku punya sebuah rahasia," kata Louisa sambil mengulum senyum tipis.
"Oh ya? Apakah putriku sudah cukup dewasa untuk memiliki sebuah rahasia?" kekeh Nyonya Agatha untuk menghibur dirinya dan juga Louisa.
"Aku mencintai Ethan."
"Oh, rahasia yang sa__ Apa?"
__ADS_1
Tiba-tiba raut wajah Nyonya Agatha berubah, kedua matanya terbuka lebar begitu mulutnya.
Belum sempat ia bertanya apa maksud Louisa, putrinya itu sudah bergegas pergi dari kamar.
"Lou?" panggilnya tetapi Louisa enggan menyahut.
Gadis itu bergegas ke kamar rawat Ethan dan seperti biasa, ia masuk tanpa mengetuk.
Dokter dan Suster yang baru saja mengobati luka Ethan menoleh karena ada yang masuk begitu saja, sementara Ethan yang berpikir mungkin Peter atau yang lainnya enggan menoleh.
Louisa melangkah masuk setelah sedikit melempar senyum ramah pada Dokter dan Suster yang tampaknya terkejut dengan kehadiran Louisa.
"Ada apa, Peter?" tanya Ethan masih tanpa menoleh.
Louisa sudah membuka mulut untuk bersuara tetapi tiba-tiba ia tak bisa berkata-kata melihat tato yang bertuliskan nama panggilannya di pundak Ethan.
Louisa tercengang, merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Saat merasakan sentuhan tangan kecil Louisa, Ethan mengernyitkan keningnya dan ia pun menoleh.
"Lou?" gumam Ethan. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
Namun, Louisa bungkam. Ia hanya menatap mata Ethan dengan dalam.
"Pergilah jika sudah selesai," ujar Ethan pada Dokternya itu.
"Sudah selesai, Tuan Mayer," kata Dokter. "Kami permisi."
Setelah kedua orang itu pergi, Ethan langsung merubah posisi duduknya hingga kini berhadapan dengan Louisa yang masih berdiri mematung.
"Apa perlu sesuatu, Nona Rae?" tanya Ethan berusaha bersikap tenang meski sebenarnya jantung pria itu berdetak sangat cepat dan dadanya berdebar kencang.
__ADS_1
"Kau__" Tiba-tiba Louisa kehilangan kata-kata, ia lupa akan niat kedatangannya menemui Ethan. Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah kenapa bisa ada namanya di pundak Ethan?
"Katakan saja jika kau butuh sesuatu," kata Ethan.
"Kenapa kau mau aku pergi?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Louisa, bahkan itu lebih terdengar seperti sebuah protes pada Ethan.
"Akan sangat berbahaya jika kau ada di sini, Nona Rae," jawab Ethan. "Kematian Roberto bukan akhir dari konflik ini, melainkan justru awal dari peperangan yang sesungguhnya."
"Tapi aku tidak punya hubungan apapun dengan mereka," tukas Louisa kemudian.
"Aku tahu, tapi masalahnya mereka berpikir kau punya hubungan denganku. Jadi mereka pasti akan membuatmu terlibat dalam konflik ini." Jelasnya.
"Aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa terlibat, padahal kau mendekati kami hanya untuk balas dendam. Lalu kenapa sekarang mereka mengincar kami seolah kami adalah yang paling berharga untukmu?"
Ethan hanya bisa membuang pandangannya saat mendengar pertanyaan Louisa, ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada gadis itu.
"Jika kau sudah makan malam, sebaiknya kau tidur." Ethan mengalihkan topik pembicaraan sementara Louisa yang menyadari itu mengulum senyum tipis.
"Aku berhak tahu apa yang terjadi, bahkan ayahku sampai kehilangan nyawanya di sini," kata Louisa.
"Mereka berpikir kau kekasihku," ucap Ethan akhirnya yang membuat Louisa terbelalak.
"Bagaimana bisa mereka memiliki pemikiran yang seperti itu?" tanyanya dengan alis yang bertaut.
"Sebab aku tidak membunuh kedua orang tuamu," jawab Ethan. "Dan aku menolong mu saat kau hampir dilecehkan. Mereka membaca sikapku itu sebagai sesuatu yang lain."
"Yang lain apa?" Louisa memancing Ethan karena ia pun berpikir dan bisa merasakan perasaan Ethan padanya.
"Cinta," kata Ethan.
"Apa memang cinta itu ada?" tanya Louisa lagi dan tiba-tiba Ethan terkekeh sambil menggeleng.
__ADS_1
"Lalu kenapa ada namaku di belakang pundakmu?"