Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 116 - Siasat


__ADS_3

Dari Moscow ke London membutuhkan waktu penerbangan selama empat jam lebih, beda hal nya dari Madrid ke London yang hanya membutuhkan waktu dua jam tiga puluh menit.


Hal itu membuat Simon, Peter dan Dante semakin cemas karena mereka akan sampai di London lebih lamat dua jam dari Ethan.


Ketiga pria itu masih dalam penerbangan, sementara Ethan sudah pasti telah mendarat di London.


Mereka juga telah mengetahui bahwa Louisa dan Angel ada di tempat yang berbeda. Namun, Simon memiliki penilaian yang sama dengan Ethan setelah mendengar seperti ada suara ombak di video Louisa sebelum nya, mereka yakin Angel ada di sisi pantai atau laut.


"Kita akan langsung ke pelabuhan nanti," kata Simon sembari menyiapkan semua senjata nya, bahkan tak lupa ia juga menyiapkan granat ke dalam tas nya, setelah itu memasukkan pisau lipat ke dalam kaos kaki nya.


Sementara Dante hanya bisa menatap tangan kanan nya yang telah kehilangan dua jari nya, menyebabkan ia tak mungkin bisa bertarung dengan kedua tangan nya nanti. Yang artinya ia akan kurang maksimal dalam melawan musuh.


"Sekarang aku ingin marah," geram Dante. "Bagi seorang penembak, pelukis, pemain musik, jari adalah yang paling di butuhkan."


Seketika Simon terdiam, teringat kembali bagaimana Ethan memotong dua jari Dante memang dengan tujuan agar pria itu tak lagi bisa menembak.


"Itu salah mu," sambung Peter yang masih memperlihatkan kekesalan nya pada Dante. "Kau hanya tak bisa menembak, sementara aku hanya bisa bernapas."


Dante seketika mengulum senyum, berpikir bahwa sebenarnya Peter sedikit cerewet seperti ibu-ibu. Sangat berbeda dengan Ethan yang tidak pernah banyak bicara apalagi mengeluh, Simon juga tidak banyak bicara tetapi juga tidak terlihat menyeramkan.


"Aku akan mencarikan mu istri supaya ada yang merawat mu," celetuk Dante kemudian yang membuat Peter terperangah.


"Kau!" geram Peter marah.


Sementara Simon yang sudah mempersiapkan senjata nya kini kembali memeriksa foto terakhir Louisa dan Angel.


"Bom jenis apa yang mereka pakai dan bagaimana cara menjinakkan nya?" tanya Simon yang tampak nya tak mempedulikan perdebatan Peter dan Dante.


Dante pun melihat foto putri nya, dan seketika hati nya terasa begitu perih melihat Angel yang lagi-lagi di ambang kematian.


"Penyakit jantung nya sudah siap merenggut nyawa nya, dan sekarang iblis itu memakaikan bom ke tubuh nya," desis Dante. "Kenapa takdir seolah ingin mempermainkan nyawa nya?"


"Kau dan Simon juga Joel harus pergi mencari Angel," seru Peter kemudian. "Aku akan menyusul Ethan mencari Louisa."

__ADS_1


"Tidak, aku akan ikut dengan mu," bantah Simon. "Atau begini saja, kau yang pergi mencari Angel bersama Dante dan Joel, aku yang akan menyusul Ethan mencari Louisa."


"Apa kau bisa bisa menjinakkan bom nya?" tantang Peter yang seketika membuat Simon kembali terdiam.


Yeah, ini lah alasan nya Peter juga bersikeras dalam misi penyelamatan ini meski semua orang melarang nya. Peter sangat mampu menjinakkan bom sementara tidak dengan Ethan atau pun Simon.


"Aku memang tidak bisa bergerak, tapi aku tahu cara menjinakkan bom."


*********


Ethan yang kini sudah ada di London langsung bergerak, begitu juga dengan Joel.


Mereka bergerak pada arah yang berbeda untuk mencari titik lokasi Louisa dan Angel.


Namun, Ethan kembali mendapatkan pesan dari Amber yang meminta nya pergi sesuai instruksi Amber, bahkan wanita itu juga mengancam Ethan jika ia tak mengikuti instruksi nya.


"Aku ingin dia datang sendiri, supaya aku bisa membunuh nya dengan mudah," geram Amber sembari menatap Louisa dengan tajam.


Ucapan Louisa mengingatkan Amber pada anak buah nya yang telah di bantai di markas Ethan, sementara sisa nya kini entah ke mana sehingga Amber terpaksa memanggil semua anak buah sang Ayah.


"Kau tidak mengerti dunia yang kami jalani, gadis kecil!" desis Amber sambil tersenyum miring. "Semua memang seperti ini, penuh siasat, kecurangan, dan sebagainya. Kami tidak peduli seperti apa proses nya, yang kami kejar hanya hasil nya. Dan hasil itu harus memuaskan dan menguntungkan kami."


Louisa hanya meringis mendengar celotehan Amber yang menurut nya sangat sadis.


"Dengan pemikiran yang seperti itu, kau sangat tidak cocok menjadi penjabat negara," cetus Louisa dengan polos nya yang seketika membuat Amber tergelak. "Kejujuran dalam proses itu sangat penting, agar apa yang kita capai menjadi berarti."


"Oh Tuhan, kau lahir dari pengkhianat, kemudian menjadi istri seorang gangster. Bagaimana bisa kau punya pemikiran seperti peri putih begini, eh?" cibir Amber.


"Tuhan memang mengirim peri putih pada orang yang salah, agar mereka kembali pada jalan yang benar," sahut Louisa dengan tenang.


"Oh, Nona Rae__"


"Nyonya Mayer." Louisa meralat dengan cepat, bahkan ia sudah berani menatap Amber dengan tajam .

__ADS_1


Amber pun menyadari hal itu, menyadari tak ada ketakutan di mata Louisa pada nya dan itu mengingatkan ia pada Ethan Mayer.


"Aku akan membunuh suami mu tepat di depan mata mu, Nyonya Mayer," desis Amber dengan tajam. "Atau juga sebaliknya, aku akan membunuh mu tepat di depan mata suami mu."


"Aku punya pemikiran yang berbeda," sahut Louisa. "Aku akan membunuh mu di depan mata suami ku, kau wanita jadi seharusnya melawan wanita."


Amber terdiam, dia menatap Louisa dengan dalam sebelum akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. Sementara Louisa tampak sangat serius dengan ucapan nya itu.


"Aku bersumpah akan membunuh mu jika kau menyakiti Ethan, aku tidak mau anak ku tumbuh tanpa sosok ayah."


...🦋...


"Aku harus pergi sendiri karena Amber dan Dexter mengancam," tukas Ethan pada Joel. "Gunakan segala cara untuk menemukan Angel, jangan lupa terus hubungi Peter."


"Kau tidak bisa pergi begitu saja, Don Mayer. Bisa jadi ini jebakan, siasat telah di atur dengan sangat rapi."


Suara Joel terdengar cemas, tetapi Ethan tak peduli.


"Yang mereka inginkan hanya aku, Joel, bukan Dante atau yang lain nya. Itu lah sebabnya Amber memisahkan Louisa dan Angel, agar kita berpencar."


Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil Ethan. Sebuah pesan pun kembali masuk, meminta Ethan meninggalkan mobil dan ponsel nya di sana.


Apalagi anak buah yang sejak tadi mengikutinya kini juga sudah di kepung.


"Aku mengawasi mu jadi jangan coba-coba untuk melawan sekarang, atau istri mu akan mati."


"Sial!" geram Ethan memukul setir dengan kuat.


Dengan sangat terpaksa ia pun turun dari mobil, meninggalkan ponsel nya di sana dan ia masuk ke mobil yang ada di depan nya.


Di dalam sudah ada empat orang pria, kemudian memaksa Ethan duduk di antara dua pria yang ada di belakang.


Benar saja, saat berada di jalan yang sepi, pria yang ada di sisi nya mengeluarkan pistol dan langsung melesatkan peluru nya. Namun, itu bukan hal baru bagi Ethan sehingga dengan mudah ia bisa menghindari tembakan itu bahkan itu melukai teman nya sendiri. Alhasil pergulatan dalam mobil dengan lawan yang tak seimbang pun terjadi di dalam mobil yang begitu sempit.

__ADS_1


__ADS_2