
Untuk menyambut kedatangan Varian Castanov, Ethan mengatur makan malam bersama dengan pria yang sudah ia kenal sejak lama itu.
Mereka akan makan di salah satu restoran milik Ethan yang menyediakan makanan khas Italia, negara asal Varian.
"Kau tidak perlu kami temani?" tanya Peter saat Ethan sedang bersiap.
"Tidak, kalian istirahat saja," ujar Ethan sembari mengeluarkan senjatanya, mengisi dengan amunisi kemudian memasukan kembali ke dalam celananya.
Berbeda dengan Don mafia lainnya yang pasti akan selalu dikawal, Ethan lebih suka pergi sendiri jika hanya untuk urusan yang kecil dan masih dilingkup yang aman.
Di Moscow, tak akan ada musuh yang mendekati Ethan apalagi membunuhnya apalagi setelah Ethan pernah membantai musuhnya di siang bolong, di tempat umum dan disaksikan oleh puluhan orang. Hal itu membuktikan bahwa tak ada yang bisa mengalahkan Ethan.
"Itu bukan senjata mu, Tuan Mayer, di mana senjata aslimu?" tanya Peter yang baru menyadari senjata Ethan berbeda.
"Aku pergi dulu," ujar Ethan tanpa menanggapi pertanyaan Peter.
"Mungkin rusak," tukas Simon setelah Ethan pergi.
"Tidak mungkin," bantah Peter. "Selama ini Tuan Mayer selalu membawa senjata peninggalan ayahnya itu."
"Mungkin dia hanya menyimpannya, lagi pula kita tahu dia punya banyak jenis senjata," pungkas Simon yang enggan memikirkan masalah sepele itu.
...🦋...
Diam-diam Louisa mencoba mencari tahu tentang Ethan Eduardo Mayer di internet, tetapi Louisa tak menemukan apapun.
Kini ia memasukan nama The Eagle di Google pencarian, kening Louisa berkerut dalam saat melihat sejarah berdirinya organisasi yang memiliki markas utama di Moscow, Rusia. Organisasi itu sudah menyebar di seluruh penjuru dunia tak terkecuali Inggris.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seorang kriminal seperti ini," gumam Louisa tak percaya. Namun, kedua alis Louisa berkerut saat menyadari sesuatu.
"Ethan berasal dari London, latar belakang keluarganya adalah pengusaha. Bagaimana bisa dia menjadi Don mafia di organisasi yang sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu?"
...🦋...
"Nasib kita sama," ujar Varian sambil menuangkan bir ke gelas Ethan. "Sama-sama bukan dari keluarga mafia tapi terjebak di puncak organisasi ini."
"Kejamnya hidup memaksa kita masuk pada lembah yang paling kejam," sahut Ethan. "Seperti racun yang terkadang harus dilawan dengan racun."
Varian mengangguk setuju.
Kedua pria tampan tetapi berdarah dingin karena dendam itu kini bersulang.
"Aku harap kau bisa berkunjung ke Sisilia suatu hari nanti, aku akan menjamu dengan jamuan terbaik," kata Varian.
"Aku akan mengabari jika aku ke sana," jawab Ethan.
__ADS_1
Keduanya pun makan malam sambil membicarakan bisnis mereka, sesekali bercerita tentang keluarga yang membuat suasana sedikit melow.
"Apa kau tidak akan menikah?" tanya Ethan tiba-tiba yang membuat Varian terkekeh.
"Orang-orang sepertiku tidak sempat memikirkan pernikahan, apalagi jika dalam misi balas dendam."
Ethan mengangguk mengerti, sebab itu juga yang terjadi padanya. Bahkan, selama ini ia tidak pernah tertarik dengan wanita meskipun hanya untuk dibawa ke ranjang.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sempat memikirkan itu?"
"Aku jatuh cinta padamu, Bodyguard"
Pertanyaan Varian membuat Ethan langsung teringat dengan pernyataan cinta Louisa yang ia tolak mentah-mentah.
"Aku ingin makan bersama calon pacarku."
"Jika kita menikah nanti, kita hanya punya dua pilihan. Pilihan yang pertama kita harus punya banyak anak. Supaya anak kita tidak kesepian jika kita sibuk bekerja,"
"Aku juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu, karena dengan memilikimu hidupku akan sempurna."
"Kau baik-baik saja, kawan?" tanya Varian yang melihat Ethan melamun.
"Ah ... iya," sahut Ethan, ia meneguk bir untuk menenangkan perasaannya yang tiba-tiba saja kembali berdebar.
"Jadi apa kau tidak memikirkan tentang pernikahan? Adakah wanita yang menarik perhatianmu?"
"Aku rasa itu memang lebih baik," ujar Varian sambil tersenyum miring, seolah ia juga menyembunyikan sesuatu di hatinya.
Setelah makan malam, Varian kembali ke hotel tempatnya menginap. Sementara Ethan justru pergi ke sebuah bar yang tak jauh dari restoran.
Ethan memesan beberapa bir di sana dan meminumnya hingga ia mabuk.
"Kenapa aku tidak bisa melupakannya?" geram Ethan yang sudah kehilangan setengah kesadarannya.
Ia kembali meneguk bir dari botolnya langsung sampai membuat perutnya terasa penuh.
"Aku harus bisa melupakannya, tapi kenapa dia seperti menempel di dalam otakku?"
"Sialan!"
PYARRRRR
Semua orang memekik terkejut saat Ethan melempar botol bir ke lantai, tetapi tak ada yang berani menegur seorang Ethan Mayer.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia selalu ada di kepalaku?" racau Ethan sambil beranjak dari kursinya dengan sempoyongan, ia hampir jatuh tetapi seseorang langsung menangkap tubuhnya.
__ADS_1
Alih-alih berterima kasih atas bantuannya, Ethan justru mendorong orang itu dengan kuat.
"Menyingkir kalian dariku!" seru Ethan dengan kesal, ia kembali berjalan sempoyongan keluar dari bar. Masuk ke dalam mobil dan mengemudi tanpa takut itu akan mencelakainya atau orang lain.
"Aku bekerja sebagai Bodyguard, aku ... melayaninya untuk__" Tiba-tiba Ethan merasa mual, perutnya bergejolak dan sejurus kemudian ia memuntahkan semua yang sudah ia makan dan minum di mobil sport nya itu.
Ethan menghentikan mobilnya tepat di sebuah tempat untuk membuat tatto.
Tiba-tiba Ethan tersenyum saat mendapatkan sebuah ide, senyum yang persis seperti orang hilang akal.
Dengan langkah yang masih sempoyongan, Ethan masuk ke dalam yang membuat orang-orang langsung tampak ketakutan. Apalagi ketika Ethan membuka bajunya, memamerkan tubuh atletisnya dan tatto yang merupakan simbol The Eagle.
"Jangan takut!" seru Ethan sambil terbatuk-batuk.
"A-ada yang bisa saya bantu, Tuan Mayer?" tanya pemilik tempat tatto itu.
"Apa kau bisa menggambar kupu-kupu?" tanya Ethan.
"Bisa, Tuan Mayer.
"Kalau begitu buat gambar-gambar kupu-kupu ...." Ethan duduk bersila di lantai padahal tak jauh dari sana ada kursi khusus untuk pelanggan.
"Di sini!" Ethan menepuk pundak kanannya. Sang pemilik tempat itu pun langsung menyiapkan alat yang mereka butuhkan.
"Kupu-kupu tanpa sayap dan otak," ujar Ethan kemudian yang membuat semua orang melongo bingung.
"Ayo cepat lakukan!" titah Ethan.
"Ta-tapi kupu-kupu tanpa sayap itu ... tidak seperti kupu-kupu, Tuan Mayer. I-itu seperti ulat," cicit pria itu yang sudah tampak sangat ketakutan.
"Da-dan saya tidak tahu bagaimana menggambar kupu-kupu tanpa otak," ringis pria itu.
Kupu-kupu tanpa sayap mungkin masih masuk akal. Tapi kupu-kupu tanpa otak?
Apa dia harus menggambar kupu-kupu dengan kepala yang terbelah dan mengosongkan bagian isi kepalanya?
"Hei, itu sangat gampang!" seru Ethan dengan mata yang setengah terpejam dan kesadaran yang sudah seujung kuku.
"Kupu-kupu ... itu adalah Lou. "
"L ... O ... U!"
...🦋...
Ada yang belum kenalan dengan Varian Castanov rupanya.
__ADS_1
Sini, kenalan dulu.