
"Kita harus ke London sekarang juga," kata Peter panik. "Geng Octopus berkhianat, mereka merencanakan penyerangan terhadap Tuan Mayer menggunakan Louisa."
"Apa? Bagaimana bisa?" pekik Simon tak percaya sekaligus bingung, kenapa harus Louisa?
"Katanya diam-diam mereka mengawasi Tuan Mayer selama ini, dan mereka menarik kesimpulan bahwa Tuan Mayer memiliki hubungan yang istimewa dengan Nona Rae," papar Peter panjang lebar.
"Astaga, dan dugaan mereka sangat benar," gumam Simon. "Kita harus memberi tahu Tuan Mayer agar dia bisa menjaga diri."
...🦋...
Setelah melakukan penerbangan selama 8 jam, akhirnya Ethan mendarat di London, lebih tepatnya sekitar jam 12 malam. Tanpa membuang waktu, ia langsung melakukan perjalanan ke Hampstead dimana sekarang Louisa dan kedua orang tuanya tinggal di sana.
Jangan tanya dari mana Ethan tahu, tentu saja karena alat penyadap yang ia pasang di rumah Louisa.
Bagi seorang Don mafia seperti Ethan, hanya perlu beberapa detik untuk menemukan alamat rumah Louisa.
Ethan menatap rumah Nona mudanya itu dari kejauhan, ia membayangkan saat ini Louisa pasti sudah tidur lelap. Tapi ... apakah gadis itu sungguh bisa tidur lelap setelah semua kekacauan yang Ethan buat?
"Sudah cukup, aku akan melihatnya besok!" ucap Ethan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Entah apa yang merasukinya, Ethan merasa sangat merindukan Louisa. Ia merasa tak cukup hanya melihat rumahnya, Ethan ingin melihat wajahnya secara langsung. Keinginan itu begitu besar dalam hatinya, tetapi Ethan berusaha untuk menepisnya.
Ia bertahan dalam mobil, berharap besok bisa melihat Louisa saat gadis itu keluar dari rumah.
Namun, semakin ia mencoba menahan rasa rindu itu, Ethan justru merasa semakin sesak. Rasa itu seperti hantaman ombak yang tak bisa ia lawan.
Pada akhirnya Ethah menyerah.
"Sial, memang ada apa dengan wajahnya? Kenapa aku sangat ingin melihatnya?" geram Ethan sambil melompat turun dari mobil.
Ethan menggunakan kekuatannya sebagai seorang raja kriminal, ia membobol rumah Louisa dengan sangat mudah. Layaknya seorang maling, ia pun berjalan mengendap-ngendap mencari kamar gadis itu.
"Sudah jatuh miskin, tidak punya pelayan lagi untuk melayani," cibir Ethan dalam hati. Membayangkan sang pembunuh ayahnya hidup miskin membuat jiwa Ethan bersorak senang. Namun ....
"Lalu bagaimana dengan keadaan Louisa?" gumam Ethan yang kini justru terlihat cemas. "Dia tidak bisa melakukan apapun sendiri, dia pasti kesulitan menjalani hidupnya yang sekarang." Wajah Ethan berubah mendung, kepuasan itu seolah menguap begitu saja hanya karena dia mengkhawatirkan setan kecil itu.
Saat Tuan Bertrand kembali ke kamarnya, Ethan langsung masuk ke kamar yang berada di sisi kamar itu. Seketika wajah Ethan berseri-seri, bahkan senyum sumringah pria itu itu terbit di bibirnya dengan begitu lepas saat ia melihat Louisa yang tertidur pulas.
Ethan duduk di sisi gadis itu, ia menatap wajah polos Louisa tanpa berkedip sedikitpun. Kini Ethan seperti seorang musafir yang menemukan air sungai di tengah gurun pasir yang gersang.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," lirih Ethan sembari mengusap kepala Louisa. "Kau terlihat semakin kurus Nona Rae, apakah orang tuamu tidak memberimu makan yang cukup? Haruskah aku memberi mereka uang agar mereka merawatmu dengan baik?"
Celotehan itu muncul begitu saja dari mulut Ethan, kali ini ia berbicara apa yang dirasakan oleh hatinya dan ia tak ingin memikirkan itu.
Untuk sejenak, Ethan mencoba menyingkirkan egonya serta tak melawan hatinya.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Louisa, menghirup aroma manis sang Nona muda yang selalu ia rindukan. "Aku bahkan ingin menciummu," bisik Ethan tepat di bibir Louisa.
"Apakah termasuk pelecehan jika aku mencium mu diam-diam, Lou?" Sorot mata Ethan sudah berbeda, tampak sayu. Sementara Louisa masih terlelap dan tampaknya tak merasakan kehadiran Ethan.
Ethan mengusap kepala Louisa dengan sangat lembut, sesuatu yang tak pernah ia lakukan pada siapapun. Bahkan, kini ia juga memberikan diri menyentuh bibir Louisa dengan bibirnya.
Gadis itu mengerang lirih membuat Ethan terkejut. Namun, ternyata mata Louisa a masih tertutup rapat.
"Kau sangat cantik," puji Ethan sembari mengusap bibir Louisa. "Benar-benar cantik."
Sekali lagi Ethan menyapukan bibirnya ke bibir gadis itu, kali ini cukup lama bahkan Ethan sampai menutup mata. Meresapi kehangatan yang tiba-tiba memenuhi hatinya.
"Semoga aku bisa melupakanmu setelah ini," bisik Ethan sembari membelai pipi Louisa. "Aku sudah melepaskan rasa rinduku, Lou. Aku harap aku bisa melupakan wajahmu, suaramu dan aromanya yang seolah selalu menempel denganku."
__ADS_1