
Theo, Peter dan Simon kini sedang dalam perjalanan menuju desa Hampstead karena itu adalah lokasi terkahir kali ponsel Ethan aktif.
Meskipun panik, dan khawatir. Peter tetap berusaha tenang dan berpikir jernih agar ia tak mengambil keputusan yang tergesa-gesa.
"Apa yang dia lakukan di tempat itu?" gumam Peter bertanya-tanya.
"Aku tidak tahu," jawab Simon. "Tapi dia bilang mau ke London untuk menemui Nona Rae. Apa artinya mereka juga tinggal di sana?"
"Mungkin saja mereka berpindah ke Hampstead setelah tragedi malam itu," sahut Theo.
Simon langsung mengambil laptopnya kemudian ia mencoba melacak keberadaan keluarga Rae tetapi hasilnya nihil.
"Aku tidak bisa menemukan mereka," kata Simon yang mulai cemas.
"Coba retas cctv jalanan, pusat perbelanjaan, resto atau semacamnya. Siapa tahu mereka terlihat di sana," saran Theo.
"Ah, kau benar juga," seru Simon. "Tapi kita membutuhkan foto salah satu dari mereka bertiga untuk mencocokan dengan siapa saja yang ada di video rekaman cctv," tambahnya.
"Ambil saja di file Tuan Mayer, bukankah dia punya banyak foto-foto keluarga Rae?" kata Peter.
"Ah, benar juga," sahut Simon lagi.
Namun, saat ia mencoba masuk ke dalam file yang disimpan oleh Ethan, ia tak menemukan berkas keluarga Rae. "Anak itu menghapusnya," kata Simon berdecak kesal.
"Pulihkan saja, kau jagonya melakukan itu, kan?"
Simon mengangguk mengerti, ia segera memulihkan file yang pernah Ethan hapus dan ia langsung bernapas lega saat menemukan kembali foto-foto Louisa yang dan kedua orang tuanya.
Dengan menggunakan foto Louisa, Simon mencoba melacak keberadaan gadis itu lewat beberapa rekaman ccttv. Namun, masih tak ada yang cocok hingga akhirnya ada satu rekaman yang cocok dengan foto Louisa.
"Dia di pusat perbelanjaan, itu Louisa!" seru Peter. Simon mengambil gambar Louisa dan memperbesarnya. "Sial, itu Jose!" seru Peter saat ia juga melihat Jose di sana.
"Mereka sudah bergerak rupanya," gumam Simon.
"Tapi mereka belum tahu Tuan Mayer ada di tempat ini, jadi rencana mereka tidak akan di eksekusi dalam waktu dekat," kata Theo.
"Kalau begitu kita yang harus mengeksekusi mereka terlebih dahulu," sinis Peter. "Aku senang menghabisi pengkhianat. Itu seperti memberiku energi baru."
__ADS_1
"Kau sungguh psycho," cibir Simon.
"Itu lebih baik dari pada kau yang sok bijak."
...🦋...
"Aku rasa sudah cukup." Ethan berkata pada dirinya sendiri, dia tak ingin terus menerus mengikuti kata hatinya yang ingin melihat Louisa lagi dan lagi. Dia seolah meras tidak puas padahal tadi malam Ethan sudah memandangi wajah Louisa dalam waktu yang cukup lama.
Akan tetapi ... bukannya merasa puas, ia justru merasa kurang lagi dan lagi. Seperti sebuah morfin.
Hari sudah siang, sudah setengah hari ia mengintip setan kecil itu dan sampai sekarang Louisa tak lagi keluar dari rumahnya.
Ethan memutuskan akan kembali ke mansion dan setelah itu ia harus kembali ke Moscow.
"Selamat tinggal, Lou," kata Ethan sambil menatap rumah Louisa.
Bersamaan dengan Ethan yang melajukan mobilnya menjauh dari rumah Louisa, kedua orang tua Louisa datang dengan wajah yang tampak menahan amarah.
Bagaiamana tidak?
Mereka datang menemui temannya dengan harapan mendapatkan bantuan dana, tetapi mereka justru di permalukan dengan video palsu yang mengatasnamakan Louisa.
"Ethan sialan! Semua ini gara-gara dia!" geram Tuan Bertrand. Wajahnya memerah dan darahnya terasa mendidih.
"Ada apa, Dad?" tanya Louisa yang melihat sang Ayah tampak sangat marah. Namun, bukannya menjawab pertanyaan Louisa, Tuan Bertrand justru langsung masuk ke kamarnya. Bahkan, pria paruh baya itu juga membanting pintu membuat Louisa dan Nyonga Agatha tersentak.
"Mom, Daddy kenapa?" cicit Louisa.
"Tidak apa-apa, Sayang," jawab Nyonya Agatha.
"Tidak apa-apa bagaimana? Dia mengamuk begitu," seru Louisa.
"Kami dipermalukan," kata Nyonya Agatha kemudian.
"Karena kalian bangkrut?" tebak Louisa.
"Bukan," bantah Nyonya Agatha sembari melepas sepatunya. "Tapi karena video sialan itu, mereka benar-benar mengira itu kamu," ujarnya penuh penekanan. Hal itu membuat Louisa terhenyak, kini satu video itu telah menjadi bumerang bukan hanya untuk dirinya tetapi juga kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Apa Mommy tidak menjelaskan kalau itu bukan aku?" tanya Louisa.
"Tentu saja kami menjelaskannya, Lou, tapi apa ada yang mau mendengar kami? Tidak ada!" geram sang Ibu yang tampak tak kuasa mengontrol emosinya.
Tentu saja, selama ini mereka selalu dihormati, dijunjung dan disegani. Tapi sekarang mereka berada di titik yang sangat rendah, titik di mana semua orang seolah punya hak untuk merendahkan mereka.
"Mom, sudahlah! Tidak penting apa yang orang pikirkan tentang kita," kata Louisa mencoba menenangkan hati sang Ibu.
Namun, ibunya itu justru tampak semakin kesal.
"Semua ini gara-gara kamu, Lou, bagaimana bisa kamu pergi begitu saja dengan Ethan waktu itu, huh?" teriaknya yang membuat Louisa terperanjat. Gadis itu tampak terkejut dengan suara sang Ibu yang berada tinggi itu.
"Mommy menyalahkan aku?" lirih Louisa.
"Kamu pergi dengan suka rela waktu itu, Lou, lalu aku harus menyalahkan siapa? Kalau saja kamu tidak memberikan kesempatan pada Ethan waktu itu, mungkin hidup kita tidak akan berubah menyedihkan seperti sekarang."
Louisa menitikan air matanya mendengar kata-kata sang Ibu, tak menyangka kini semua yang terjadi justru dilimpahkan padanya padahal ia sendiri tidak tahu apa-apa.
"Okay, aku memang salah karena terlalu percaya pada Ethan," kata Louisa sembari menyeka air matanya. "Tapi siapa yang membuat Ethan merencanakan balas dendam ini?"
Nyonya Agatha terhenyak saat mendengar pertanyaan Louisa. Ia terdiam seribu bahasa, sementara Louisa langsung pergi begitu saja dari rumah.
...🦋...
Ingin berhenti di salah satu toko roti untuk membeli roti karena ia tak makan apapun sejak pagi. Sambil menunggu rotinya dibungkus, Ethan mengaktifkan kembali ponselnya. Keningnya berkerut dalam saat mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Simon, Peter bahkan Theo.
Ethan terbelalak saat membaca satu pesan dari Peter.
"Sial!" geram Ethan.
Dia langsung berlari masuk ke dalam mobilnya dan kembali ke rumah Louisa. Sementara pemilik toko hanya bisa tercengang melihat Ethan pergi sangat terburu-buru.
Sambil menyetir, Ethan menghubungi Peter untuk mengkonfirmasi informasi tentang Roberto.
"Apa kau sudah mengkonfirmasi, Peter?" tanta Ethan saat panggilannya dijawab.
"Sudah, Tuan Mayer. Dan aku sudah mengirimkan foto salah satu anak buah Roberto, namanya Jose. Dia terlihat berbicara dengan Nona Rae di salah satu pusat perbelanjaan."
__ADS_1
"Sial! Berani mereka menyentuh Louisa, akan aku bakar mereka sampai menjadi debu."