
Simon dan Filly serius memutuskan menikah minggu depan, tentu saja semua orang terkejut mendengar keinginan pasangan yang sudah lebih dari cukup usia itu. Namun, mereka juga sangat bahagia dan menyetujui permintaan Filly dan Simon.
Mereka hanya perlu menikah lebih dulu, sedangkan pesta pernikahan akan mereka pikirkan belakang.
Status Simon yang kini tiba-tiba berubah menjadi calon pengantin membuat nya sangat bahagia. Ia seperti remaja yang sedang kasmaran.
Tentu saja kebahagiaan itu menular pada Ethan dan Peter, tak terkecuali Louisa. Gadis itu merasa sangat bahagia karena kini Simon akan punya arah hidup yang lebih jelas, dia akan punya istri yang akan mengurus dan merawatnya dengan baik. Dan yang akan memberikan cinta yang tulus.
Saat Louisa memandangi foto keluarga baru nya yang baru saja di pasang di mansion, itu adalah foto kebersamaan mereka di hari pernikahan Louisa. Semua orang tampak sangat bahagia, bahkan Peter juga tersenyum lebar di sana.
Namun, Louisa merasa masih ada yang kurang mengingat di sana tidak ada ayah nya dan juga kedua orang tua Ethan.
"Kau terus memandangi nya sejak beberapa menit yang lalu."
Ethan tiba-tiba datang dan langsung memeluk Louisa dengan mesra dari belakang. "Peter dan Simon sangat tampan di sana," kata Peter yang kini mengaitkan dagu nya ke pundak sang istri.
"Ini akan lebih sempurna ada mereka juga ada di sini," lirih Louisa.
Ethan mengerti apa yang di maksud sang istri, ia pun memikirkan hal yang sama. Tapi mau bagaimana lagi? Kesedihan mereka tidak akan mengubah keadaan atau memutar waktu, masa lalu telah berlalu.
"Di dunia tidak akan pernah ada yang sempurna," ujar Ethan dengan bijak. "Kita hanya perlu bersyukur dengan apa yang ada."
Louisa tersenyum dan mengangguk, ia pun berbalik badan hingga kini berhadapan dengan sang suami. "Aku ingin tanya sesuatu tentang uncle Peter dan uncle Simon," kata Louisa dengan raut wajah yang serius.
__ADS_1
"Apa kau ingin tahu kenapa mereka tidak juga menikah?" kekeh Ethan, ia tahu sudah sejak lama Louisa merasa penasaran kenapa dua pria itu tak pernah menikah. Bahkan, hanya hidup seolah menjadi bayangan Ethan.
"Iya," jawab Louisa. "Aku merasa sangat bahagia karena sebentar lagi uncle Simon akan menikah, aku berharap uncle Peter juga segera menemukan tambatan hatinya meski di usia yang sekarang."
"Sebenarnya selama ini bukan nya tidak ada yang menaruh hati dan perhatian pada Simon dan Peter, Sayang," kata Ethan. "Hanya saja mereka berdua terlalu baik sebagai seorang teman." Ethan menghela napas berat, teringat kembali dengan janji yang di ucapkan kedua pria itu pada orang tua nya dulu.
"Mereka berjanji akan merawat ku dengan baik, sampai mereka lupa bahwa diri mereka juga perlu di rawat," kata Ethan. "Kata nya, Simon itu anak yatim piatu, dia tinggal di jalanan sampai akhir nya dia bertemu dengan ayah ku. Sementara uncle Peter juga hidup di jalanan, tetapi bukan karena dia yatim piatu, tapi karena dia tidak suka hidup bersama orang tua nya yang memiliki hubungan toxic."
Louisa tampak terkejut mendengar cerita Ethan tentang Peter, cerita yang sama sekali tak pernah terpikir oleh nya.
"Ibu nya seorang wanita yang nakal, sementara ayah nya pemabuk, main judi dan kasar. Jadi mungkin itu lah yang membuat Peter tidak pernah memikirkan pernikahan."
Kini Louisa mengerti kenapa Peter jauh lebih dingin dari Simon, karena kedua nya punya masa lalu yang berbeda meski pada akhirnya hidup bersama dalam lingkungan yang sama.
"Aku juga ingin sekali melihat Peter tersenyum dan bahagia seperti orang lain, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk itu selain mendoakan nya." Lanjut Ethan.
"Semoga saja." Ethan menyahut penuh harap.
Ketika Ethan dan Louisa sedang membicarakan sesuatu yang menyentuh hati, Peter justru menggerutu kesal karena Simon tak mau di ajak latihan di ring tinju.
Teman nya itu sibuk telfonan dengan Dokter Filly tanpa henti. Membuat Peter sampai bingung, ia bertanya-tanya bagaimana bisa kedua orang itu selalu menemukan topik pembicaraan?
"Awas ponsel mu meledak!" seru Peter.
__ADS_1
"Tidak, ini ponsel terbaru dan sangat bagus," kata Simon.
"Oh Tuhan, Ethan sibuk bersama Louisa. Kau sibuk bersama si Dokter, lalu aku harus latihan dengan siapa nanti?"
Peter masih menggerutu sembari melompat ke ranjang Simon.
"Menikah saja," celetuk Simon. "Kau bisa latihan bersama istri mu."
"Ah, aku tidak tertarik punya seorang istri." Peter membuka laci di sisi tempat tidur, kemudian menutup nya dengan kasar, sengaja agar menimbulkan suara untuk mengganggu Simon.
"Peter, keluar!" usir Simon kesal. Akan tetapi tentu saja Peter tak mau keluar begitu saja, hingga akhirnya Simon menarik paksa pria itu keluar dari kamar.
"Jangan mengganggu ku atau aku akan memukul bokong mu itu!" desis Simon yang membuat Peter tertawa, setelah itu Simon kembali ke kamar nya, mengunci pintu seperti seorang gadis yang ingin telponan dengan pacar nya.
"Kenapa, Uncle Peter?" tanya Louisa yang entah bagaimana tiba-tiba ada di belakang Peter.
"Simon aneh," jawab Peter. "Sudah berjam-jam dia berbicara dengan si Dokter, apa dia tidak bosan? Aku penasaran apa saja yang mereka bicarakan, saat meeting saja paling lama 1-2 jam itu pun dengan topik yang pasti dan terarah. Tapi Simon mengoceh tidak jelas lebih dari tiga jam, apa ponsel nya tidak panas? Bagaimana jika nanti meledak?"
Louisa hanya bisa menahan senyum geli mendengar pertanyaan beruntun Peter, berpikir pria itu benar-benar tidak punya warna dan belokan dalam hidup nya.
"Topik tentang hati dan cinta itu memang tidak ada habis nya, Uncle," kata Louisa. "Bahkan meskipun di bicarakan selama 48 jam tanpa henti."
"Itu mengerikan!" ringis Peter.
__ADS_1
"Ah, dari pada kau sibuk kesal dengan uncle Simon, apa kau mau membantu ku memilih menanam bunga? Aku membeli beberapa jenis bunga untuk di tanam, aku ingin membuat taman mini di halaman samping rumah, bagaimana?"
"Ide bagus."