
Ashley memberi warna yang baru dalam hidup Peter, bahkan gelas Tuan kanebo kering sepertinya perlahan mulai memudar dari pria itu.
Dua minggu ia berada di Singapore, dan selama dua minggu itu juga ia memiliki beberapa waktu yang ia habiskan dengan sang putri cinderella.
Ashley memang tak bisa selalu menghabiskan waktu bersama Peter karena ia harus bekerja, tetapi setiap kali ada waktu kosong. Kedua insan itu selalu menghabiskan waktu bersama.
Ah, jangan lupakan juga si kecil Angel yang terus bertingkah hingga tak jarang gadis kecil itu membuat Peter tertawa geli. Peter tak pernah menyangka, putri seseorang yang hampir membunuhnya kini justru menjadi orang yang begitu hangat dan mampu membuatnya tertawa.
Namun, semua keindahan itu harus Peter tinggalkan karena sekarang ia sudah harus kembali ke London karena urusannya sudah selesai di Singapore. Anehnya, ia merasa sedih bahkan terlihat murung. Seperti ada sesuatu yang kurang dalam diri Peter.
Sebelum pulang, Peter menyempatkan berbelanja untuk Louisa dan calon bayinya. Sama seperti Simon, sebenarnya ia tidak tahu harus membeli apa untuk mereka. Yang Peter tahu, Louisa dan calon bayinya tidak boleh kekurangan apapun jadi Peter membeli semua barang bayi. Bahkan, pria itu juga membeli roda dan mainan bayi.
Sesampainya di London, Louisa hanya bisa tercengang melihat semua barang-barang itu yang harus menganggur selama 9 bulan.
"Nyonya Mayer, saya rasa harus ada ruangan khusus untuk menyimpan barang-barang calon bayi Anda," kata Joel sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku rasa begitu," sahut Ethan. "Peter, apa kau tidak bahagia dengan kehamilan Louisa?" tanyanya pada Peter yang tampak murung.
"Tentu saja aku bahagia," jawab Peter dengan cepat. "Hanya saja ... aku sedikit merasa sedih sejak kemarin." Ia berkata dengan lirih.
"Kau pasti bersedih karena berpisah dengan gadis bunga mawarmu itu, kan?" tebak Louisa yang membuat Peter melotot terkejut, mulut pria itu bahkan menganga. Louisa yang melihat reaksi kakek calon bayinya itu hanya bisa terkekeh.
"Hubungi saja, Uncle Peter, dia pasti merindukanmu juga."
"Tidak perlu," tolak Peter. "Aku tidak memikirkan Ashley sedikit pun, aku juga tidak memikirkan saat pertemuan pertama kami di mana aku melihat ada banyak bunga yang menghujaninya. Aku juga tidak memikirkan saat kami berkencan dan dia memberiku mawar, jadi aku tidak perlu menghubunginya."
Sekuat tenaga Louisa menahan tawa mendengar celotehan sang calon Kakek muda yang masih kekar dan tampan itu.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu Uncle Peter tidak perlu menghubunginya," kata Louisa yang masih menahan tawa.
"Memangnya wajah wanita itu seperti apa, Peter?" goda Ethan.
"Emm aku tidak terlalu memperhatikan, Ethan." Peter menjawab sambil menggaruk hidungnya, tanda ia berbohong.
"Oh, apakah matanya kecil?" Ethan masih ingin menggoda.
"Tidak, matanya besar dan berbinar," jawab Peter secara spontan.
"Lalu bagaimana dengan bibirnya?" Kini giliran Louisa yang bertanya.
"Indah, seperti kelopak bunga mawar saat mekar. Apalagi saat tersenyum."
"Oh, jadi kau tidak memperhatikan wajahnya?" kekeh Ethan yang seketika membuat Peter tersadar bahwa ia telah mendeskripsikan wajah Ashley.
"Apakah itu bisa?" Tiba-tiba Peter memekik, dan tentu reaksinya itu seperti orang bodoh. Tetapi mata pria itu berbinar saat Ethan mengatakan akan membawanya ke London.
"Selama ini kita bisa melakukan itu, kan?" Ethan melemparkan tatapan menggodanya pada sang Ayah angkat, kini Ethan semakin yakin akan membawa Ashley ke London karena hanya gadis itu yang akan membahagiakan Peter.
"Benar." Peter menggumam sambil tersenyum salah tingkah, ia merasa seperti anak remaja yang tertangkap basah memikirkan gadis pujaannya.
"Baiklah, sebaiknya kau istirahat di kamarmu Uncle Peter," seru Louisa. "Dan jangan lupa hubungi gadis itu jika kau masih memikirkannya."
Peter hanya mengulum senyum, dadanya berdebar hebat membayangkan ia akan menghubungi Ashley. Tapi bisa 'kan ia menghubungi wanita itu sekali saja?
...🦋...
__ADS_1
Ethan serius saat mengatakan akan mengurus segala sesuatunya agar Ashley bisa ia pindahkan ke London, apalagi ketika Ethan bahwa ternyata gadis itu hidup malang di Singapore.
Jadi, Ethan segera mengurus segala sesuatunya. Bahkan, dia juga sudah menyiapkan pekerjaan untuk Ashley di London.
Sementara Peter yang mengetahui hal itu tentu saja sangat senang, dan soal menghubungi gadis itu ... yeah, Peter melakukannya dan sekarang ia kecanduan berbicara dengan Ashley di telpon.
Seperti saat ini, ia menemani Ethan dan Louisa yang jalan-jalan. Namun, Peter justru terus berbicara dengan Ashley di telpon. Membuat Ethan bingung bagaimana bisa pria tua itu selalu menemukan topik yang untuk dibicarakan.
"Aku rasa ponselmu akan segera meledak," cibir Ethan tetapi Peter tak peduli. "Oh Tuhan, dia bahkan membawa ponselnya ke kamar mandi," gerutu Ethan.
"Biarkan saja," kekeh Louisa yang kini menggandeng tangan suaminya itu. "Biarkan Uncle Peter bahagia dengan caranya sendiri, Sayang, bukan kah menyenangkan melihat dia banyak berbicara dengan seseorang? Bahkan, dia selalu senyum-senyum sendiri."
"Aku khawatir dia jadi gila," sahut Ethan yang seketika membuat Louisa tertawa geli.
"Dia sudah gila saat melihat ada wanita yang dihujani bunga," kekeh Louisa. "Definisi cinta itu adalah gila, bukan kah kamu juga begitu, Hem?"
"Aku tidak gila," bantah Ethan.
"Oh ya?" goda Louisa. "Kau meminta Uncle Joel membuang meja hanya karena aku sedikit terluka karenanya, apakah itu tidak gila?"
"Tidak, itu adalah bentuk kepedulianku"
"Lalu bagaimana dengan rencanamu memasang lift di rumah hanya karena kamu takut aku jatuh dari tangga? Itu juga bukan hal yang gila?"
"Bukan, aku hanya memperhatikan keselamatanmu."
Louisa langsung meringis, ia baru sadar tidak seharusnya dia bertanya seperti itu. Memangnya sejak kapan orang gila menyadari dan mau mengakui diri mereka gila?
__ADS_1