
Julia dan Nyonya Jeslin memutuskan untuk memejamkan mata karena esok hari akan lebih menguras tenaga dan emosi.
"Juli?" panggil Nyonya Jeslin.
"Ada apa Nyonya?" jawab Julia dengan posisi punggung keduanya yang saling membelakangi.
"Kau mencintai anakku kan?" tanya Nyonya Jeslin lagi.
"Iya, memangnya ada apa?" sahut Julia.
"Hm ... aku hanya ingin tahu saja, aku melihat jika raut wajahmu sangat marah ketika menatap mata anakku, ya memang benar anak itu banyak salah. Namun, sebenarnya dia itu orangnya sangat baik, apalagi denganku. Steve yang merubah diri menjadi Javier Fernando, tidak lepas dari rencananya ingin membuktikan bahwa dia bisa berdiri sendiri dan membawamu ke rumah kami sebagai seorang istri, itu yang Santos katakan kepadaku. Aku awalnya tidak mempercayai hal ini karena anakku itu adalah pria yang tidak bisa hidup dengan satu wanita, aku hanya meminta padanya jangan pernah menyakiti para wanita yang dekat dengannya, aku memintanya untuk terus memberikan apa yang mereka inginkan, tetapi tak kusangka apa yang kukatakan itu disalahgunakan oleh Steve. Dia yang tidak berhubungan dengan banyak gadis diluar yang sudah aku katakan padanya, namun dia justru menyimpan 5 gadis yang tidak bisa lepas darinya, ini sangat menyebalkan bagiku!" ujar Nyonya Jeslin panjang lebar.
"Awalnya, aku tidak terlalu mempermasalahkan hubungan Steve bersama banyak wanita, aku hanya tidak menyukai dia itu berbohong, aku sangat benci pembohong. Aku sudah terlalu sering dikhianati dan dibohongi, rasanya sangat sakit, belum bisa Steve di dalam hatiku yang telah hancur berkeping-keping ini, semoga Nyonya memahami apa yang aku rasakan, maaf Nyonya saya lelah. Saya ingin tidur terlebih dahulu, selamat malam," ucap Julia dengan menahan rasa sakit di dadanya.
Beberapa menit berlalu, terdengar isak tangis yang membuat Nyonya Jeslin iba.
Diam-diam Nyonya Jeslin turun dari ranjang, dia keluar dari kamar utama.
Setelah itu, dia menutup pintu secara perlahan agar tidak ketahuan jika dirinya tak berada satu ranjang dengan Julia.
Dia segera menghubungi Santos menggunakan ponsel yang ada ditangannya.
"Santos? Steve dimana?" tanya Nyonya Jeslin.
"Ada di kamarku Nyonya, ada apa? anda membutuhkan sesuatu?" sahut Santos.
__ADS_1
"Minta anakku ke kamarnya, cepat! ini urgent," pinta sang Nyonya Besar.
"Siap Nyonya, laksanakan!" jawab Santos.
Nyonya Jeslin kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, dia menunggu kehadiran sang putra di depan pintu kamar utama.
"Dimana dia? lama sekali!" gerutu Nyonya Jeslin.
Beberapa kemudian muncullah sosok sang putra.
"Ada apa ibu? Julia sakit? atau Ibu merasa tidak enak badan? aku akan membeli makanan untuk kalian berdua," ucap Nando yang sangat panik.
"Hey anak muda, bisa tenang? diam dulu! aku tidak memintamu datang kemari tidak untuk banyak bicara, akan tetapi aku memintamu untuk tidur di samping Julia, tapi dengan syarat jangan melakukan apapun, sebelum mendengarkan segala isi hatinya," pinta Nyonya Jeslin.
"Hm ... bersama wanita cantik mana bisa diam saja?" gerutu Nando.
"Aduh! sakit tahu, mengapa ibu selalu kejam padaku! sejak kecil selalu memukul kepala aku," timpal Nando.
"Itu karena isi otakmu hanya mesyum terus, aku memukul kepalamu agar kau sadar bahwa hidup ini bukan enaa-enaa saja, paham?" jelas Nyonya Jeslin.
"Paham ibu," jawab Nando malas-malasan, sambil mengusap bagian kepalanya yang sakit.
"Cepat masuk! sebelum Ibu berubah pikiran," ucap sang ibu yang terlihat sangat garang.
"Iya ... iya ... aku masuk, aku terima tidak enaa-enaa tapi jangan marah-marah, dia selalu marah-marah, mesyum sedikit tidak boleh sedikit tidak boleh, apa lagi mesyum banyak, pasti bukan hanya marah-marah, pasti lebih kejam lagi," ujar sang anak ngedumel sendiri.
__ADS_1
Nyonya Jeslin tersenyum saat sang cassanova berbicara sendiri seperti seorang gadis yang sedang marah.
"Dia gila atau apa? ampun dah! setidaknya aku harus bersyukur karena memiliki putra yang tampan, haishsh! anak dan ayah membuatku pusing!" ungkap Nyonya Jeslin.
Dia memilih untuk pergi ke dapur, dia merasa sangat haus dan lapar.
....
Di dalam kamar utama ...
Nando telah membuka pintu utama dan masuk ke dalam kamarnya, dia perlahan melangkahkan kakinya menuju ranjang.
Setelah sampai di tepi ranjang, dia naik ke atas ranjang, kemudian menatap punggung Julia.
Tiba-tiba saja, terdengar suara Julia yang mencurahkan isi hatinya.
"Ibu, apakah aku salah jika mencintai seorang cassanova? aku merasa sangat terpuruk kala mengetahui pria yang aku cintai, tergoda oleh Xia. Ini mengingatkanku kepada masa laluku, Jack."
Julia sudah mengawali sesi curhatnya, Nando mendengarkan dengan seksama.
"Nyonya, maaf jika mengganggu tidurmu, aku hanya ingin menyampaikan keluh kesah ini, tapi rasanya sangat aneh, aku merasa menjadi wanita munafik karena tetap mencintai Steve padahal hati sangat sakit, aku harus bagaimana ibu? haruskah aku berkorban lagi? sakit hati lagi?"
Saat kata-kata terakhir itu terucap.
Nando langsung memeluk tubuh Julia, tapi Julia mengira itu Nyonya Jeslin.
__ADS_1
"Terimakasih Nyonya, ini sudah lebih dari cukup. Dalam dekapan Nyonya, rasanya tenang dan damai," jelas Julia.
******