
Juli bersama sang calon ibu mertua berjalan menuju ruang tamu, sedangkan Nando mengekor langkah keduanya.
Tidak beberapa lama kemudian, ketiga orang itu telah sampai di ruang tamu yang sangat mewah dengan desain interior yang sangat luar biasa. Semua yang ada di sana bernilai ratusan juta, dari kursi, meja, lampu, hiasan pernak-pernik yang terbuat dari emas, serta figura berukuran cukup besar melekat di tembok ruang tamu itu.
"Silakan duduk," pinta Tuan Heleas yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka bertiga.
"Suamiku, aku akan membuatkan teh untukmu," ucap Nyonya Jeslin.
"Baik my honey," jawab Tuan Heleas sembari mencium pipi sang istri.
"Haish ... kau ini tidak ada malu-malunya sama anak-anak," tegur Nyonya Jeslin yang merasa malu akibat tingkah lucu sang suami.
"Kita sudah menikah, dua orang itu juga sudah dewasa, tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi." Tuan Heleas menciumi punggung tangan sang istri, membuat Juli terkesan.
Dia hanya tersenyum kala melihat perlakuan manis dari Tuan Heleas.
"Ayahmu mirip denganmu, manis sekali," bisik Juli. Dia tidak tahu saja, setelah ini kedua orang yang sedang bermesraan itu bisa adu mulut sampai adu kekuatan di ranjang kala Nyonya Jeslin telah kalah atas rayuan gombal sang suami.
__ADS_1
"Kau belum mengetahui kebiasaan mereka, nikmati saja sebelum kebenaran terungkap," jawab Nando sembari berbisik pula.
"Keluargamu penuh misteri Steve, bagaimana bisa dua orang yang romantis dan penuh kasih bisa di terpa isu Tuan Heleas main mata dengan gadis lain?" Julia masih belum mempercayai hal ini, dia merasa semua isu itu bohong.
"Astaga! kau polos sekali, ayahku itu kakek moyangnya casanova, jangan puji dia, dia akan menjadi pria sok cool nanti," jelas Nando kesal.
Kata-kata Nando cukup nyaring di telinga Tuan Heleas, membuat pria tua yang masih gagah itu perlu memberikan konfirmasi.
"Hey anak sialan! kau ini baru saja masuk rumahku setelah lima tahun lamanya dan kembali menjelek-jelekkan ku? cari mati kau Steve!" Tuan Heleas sudah terbiasa ribut dengan sang putra, tapi kadang itu hanya interaksi antara ayah dan anak yang kelewat saling menyayangi.
"Sesama casanova di larang berisik! kalian ini sama saja, dan selalu begitu, meributkan hal tidak penting. Apa tidak merasa kasihan dengan calon menantu kita yang sedari tadi hanya bengong saja?"
Nyonya Jeslin turun dari pangkuan Tuan Heleas dan menghampiri Juli.
"Perkenalkan dirimu," pinta Nyonya Jeslin.
"Baik ibu," jawab Juli menghela nafas.
__ADS_1
Setelah merasa tenang, dia berdiri dan memperkenalkan diri.
"Nama saya Amanda Heinz, salam kenal." Pertemuan yang tiba-tiba ini, membuat Juli dan Steve tidak bisa merencanakan apa yang harus dikatakan olehnya di depan kedua orang tua Steve, terutama ayahnya.
"Wajahmu unik, bodymu juga bohay, tapi satu, sepertinya kau lupa akan standarisasi menjadi menantu keluarga Heleas, menantuku harus cantik dan berpendidikan tinggi. Kalau dilihat dari penampilanmu, kau bahkan lebih buruk dari pelayan di rumahku." Sambutan awal yang kurang mengenakkan.
Nando tidak terima sang ayah mengatakan itu semua, namun Juli menghentikan tindakan yang akan merugikan sang calon suami.
Nyonya Jeslin yang memahami kondisi ini, langsung menengahi.
"Suamiku, wajahnya cantik, hanya sedikit unik. Kau hanya perlu mengujinya, kau ingin dia melakukan apa," pinta nyonya Jeslin.
"Menjadi menantu harus pandai dalam hal berbicara di depan umum, besok kau harus menggantikan aku memimpin rapat di perusahaan, apa kau sanggup?" Tuan Heleas menantang Juli.
Dengan keyakinan penuh, Juli menjawab," Saya terima tantangan anda, Tuan Heleas."
….
__ADS_1