
Nando yang sangat menunggu momen berdua dengan Juli, langsung membuka pintu kamarnya, tidak membutuhkan waktu lama, pintu itu pun terbuka.
"Baby?" sapa Nando.
"Astaga! mengapa kau ada di depan pintu? kenapa tidak kau buka pintu kamarmu ini? kau sengaja ya mengerjaiku?" Juli kesal, dia sudah berteriak sampai suaranya mau habis, tetapi Nando hanya diam saja.
"Raja tega kau Steve!" ucap Juli. Dia ingin pergi, tetapi Nando mencegahnya.
"Tunggu baby! aku harus bicara banyak hal kepadamu, ikut aku masuk ke kamar. Oke?" Nando mencoba membujuk Juli.
"Terserah kau saja, pada intinya, aku sedang malas denganmu." Juli memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap sikap Nando yang menurutnya sangat keterlaluan.
Juli terpaksa mengikuti apa yang dikatakan oleh Nando.
....
Kini keduanya telah berada di dalam kamar sang casanova, Nando dan Juli duduk di satu sofa yang sama dengan jarak yang berjauhan.
Suasana menjadi membosankan karena Juli hanya diam saja, padahal Nando sudah merayunya habis-habisan.
"Baby, ini ide ibuku. Aku hanya ikut apa kata ibu." Nando mencoba mengatakan hal yang sebenarnya.
"Meskipun begitu, kau bisa katakan dengan baik-baik kepada ibumu agar tidak mengunciku di dalam kamarmu, kalau kau khilaf bagaimana? aku yang repot." Juli bahkan memikirkan sejauh itu.
"Oh, jadi my baby honey ingin daku khilaf?" Nando semakin mendekat ke arah tubuh wanita pujaannya.
"Bukan itu maksudku, tapi ...." Tubuh Juli berada di bawah cengkraman sang singa betina. Dia tidak bisa bergerak lagi.
"Tapi apa?" Bibir Nando hanya berjarak satu sentimeter dari bibir Juli, satu dorongan hasrat, sudah mampu melahap bibir ranum itu dengan kekuatan maha dahsyatnya. Akan tetapi, karena melihat wajah sang kekasih yang gugup dan terkesan takut, Nando menghentikan tindakannya yang bak pemangsa itu.
Nando duduk di sebelah Juli, dia merapikan bajunya.
"Jika takut, jangan mendekatiku. Aku spesies alligator yang mengerikan, jika kau mendekatiku kau akan habis ku santap." Nando mencoba menggoda Juli dengan cara yang berbeda, lebih cool dan terkesan berkharisma.
"Steve, maaf! bukannya aku tidak mau, tetapi aku sedang kesal. Maaf ya?" Kini Juli yang meminta maaf kepada Nando. Ini adalah saatnya sang pemangsa beraksi.
__ADS_1
Nando menatap wajah sang kekasih dengan seksama, tatapannya sangat tajam, begitu juga Juli.
"Baby ...." ucap Nando lirih.
"Ya?" jawab Juli dengan penuh kelembutan.
"Menikahlah denganku!"
Deg!
Deg!
Kata-kata yang ingin ia dengar selama ini, dia selalu berharap Nando yang menginginkan dirinya, dia merasa cinta berada di dua pihak. Juli terharu.
"Hiks ...." Suara isak tangis tiba-tiba terdengar, membuat Nando kebingungan.
"Baby? kau baik-baik saja? kenapa? apa aku salah bicara?" Nando langsung mendekap tubuh Juli dengan erat, dia takut terjadi sesuatu kepada sang pujaan hati.
"Bodoh! kau hanya pintar merayu tetapi tak pandai memahami perasaan wanita. Aku menangis karena bahagia. Aku senang kau memintaku menikah denganmu."
"Oh, aku kira ada apa." Nando melepaskan pelukannya, niat hati ingin mengambil minum, justru Juli mencegahnya.
"Tunggu," pinta Juli.
"Ada apa baby?" tanya Juli heran.
"Kiss me."
Nando sekarang yang jual mahal, dia pura-pura tidak mendengar apa yang di katakan oleh sang kekasih.
Dia peegi begitu saja tanpa pamit kepada Juli.
Astaga! pria itu, bagaimana bisa aku mencintai orang tidak masuk akal itu. Seharusnya aku sudah tidak terlalu memperhatikan wajahnya saja tetapi harus memikirkan masa depan yang lebih baik.
Juli di kacangin karena Nando tiba-tiba keluar dari kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
"Alligator sialan!" umpat Juli, kini dia memilih untuk berbaring saja di atas ranjang. Dia berpikir, setelah tidur semua rasa kesalnya akan menguap dan hilang.
....
Sepuluh menit berlalu, Nando kembali masuk ke dalam kamar pribadinya dengan membawa dua gelas jus jeruk serta camilan.
Dia menatap ke arah sofa dan tidak mendapati Juli di sana.
Saat pandangan matanya beralih ke arah ranjang, nampak selimut yang bergerak-gerak.
"Hm ... kau mau main petak umpet denganku ya? oke, aku akan melayanimu." Nando yang tidak memahami apapun, berjalan perlahan menuju ranjang, sebelum menggoda Juli, dia meletakkan nampan di atas meja nakas.
Setelah itu, dia naik ranjang dan masuk ke dalam selimut bersama Juli.
"Baby? tatap aku, izinkan aku mengatakan sesuatu kepadamu." Nando memeluk tubuh Juli yang tak menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Katakan saja."
"Tatap aku, masak iya aku bicara dengan punggung?"
Karena tak ingin berlama-lama marah, membalikkan tubuhnya.
Kini keduanya beradu pandang.
"Kau ingin aku menciummu?" tanya Nando lirih.
Juli menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Tanpa basa-basi ...
Cup!
Bibir keduanya bertaut, desir itu mulai terasa kembali.
...
__ADS_1