
Nando pergi begitu saja dari meja makan, padahal dia sendiri yang menginginkan curhat dengan Santos.
Dia terlihat berjalan dengan langkah gontai menuju kamar yang khusus ia tempati tanpa terkontaminasi jiwa brutalnya. Ini kamar pribadinya.
"Aku pusing sekali," tukas Nando yang kini berada di kamar pribadinya itu.
Dia memilih untuk merebahkan tubuh kekarnya yang memiliki stamina luar biasa itu di atas ranjang.
"Juli, kau membuat tatanan hidupku menjadi tak tentu arah. Mengapa Juli? sebenarnya kau siapa?" Nando mengusap wajahnya. Dia terlihat sangat frustasi.
Berhubung ponselnya berada di kamar Cantika. Dia menggunakan telepon rumah yang ada di kamarnya.
Dia menghubungi Alva.
"Sob, kau dimana?" tanya Nando yang sedang butuh teman itu.
"Aku ada di bar pusat kota," jawab Alva. Terdengar suara gadis yang memanggil namanya.
"Kau sedang bersenang-senang?" Nando curiga, sahabatnya itu sedang bersama para gadis yang mengelilinginya.
"Iya, memangnya mau apa lagi? ada apa kau meneleponku?" tanya Alva, masih terdengar suara gadis di sambungan teleponnya tetapi suara itu terdengar mendes aa h.
"Tidak ada apa-apa sob! kau lanjutkan saja!"
Tut ... Tut ... Tut ...
Nando tidak enak hati harus mengganggu sang sahabat.
"Sial! dia sedang menggarap seorang gadis, mana bisa aku minta tolong padanya. Hah! menyebalkan!" Kali ini Nando benar-benar buntu, memang hanya Santos yang bisa ia jadikan teman curhat.
Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju ruang makan.
Awalnya dia ragu, tetapi karena tekadnya sudah bulat, dia mantap untuk menemui Santos.
__ADS_1
Langkahnya terhenti kala Santos menatapnya dengan tatapan ramah penuh senyum.
"Tuan? kau pergi begitu saja?! ada apa?" tanya Santos yang ternyata masih di meja makan.
"Aku lelah, tetapi aku ingin melanjutkan ceritaku!" Nando memang seperti bocah meskipun usianya sudah menginjak kepala tiga.
Santos sudah memahami hal ini, jadi dia tidak terlalu ambil pusing.
Nando duduk di samping sang pelayan setia. Dia tidak menghabiskan sisa makanannya karena tiba-tiba napsu makannya menghilang.
"Santos, apa kau bisa membantuku menjaga Juli saat aku berlibur di Paris bersama Cantik?" Nando langsung mengatakan inti permasalahannya.
"Boleh Tuan, tapi Tuan janji mau berbicara dengan Nyonya Besar," ucap Santos meminta imbalan atas permintaan sang Tuan Muda.
"Haisssh kau ya Santos!" Nando mengacak rambutnya, berpikir sejenak untuk membuat kesepakatan dengan Santos, sebuah kesepakatan yang membuatnya kesal.
"Hanya ibu saja, jangan ayah. Aku tidak mau berbicara dengannya." Pada akhirnya, Nando mau juga melakukan apa yang diinginkan oleh Santos, si pelayanan setia bisa bernafas lega. Akhirnya setelah 5 tahun berlalu, Nando mau berbicara dengan sang ibu, Nyonya Jeslin Heleas.
Santos mengeluarkan ponsel dari saku celananya kemudian membuat panggilan kepada sang Nyonya Besar.
"Tuan, ini!" ucap Santos sembari menyerahkan ponsel miliknya.
Dengan berat hati, Nando menuruti ucapan Santos.
Dia mengambil ponsel pria itu dan menempelkan di telinganya.
"Hay anak kurang ajar!"
Suara sang ibu menggema di alat pendengarannya.
Kata-kata awal sudah menyeramkan, Nando kembali menyerahkan ponsel itu kepada Santos, tetapi pria itu menggelengkan kepalanya.
"Jawab Tuan," ucap Santos berbisik.
Nando menghela nafas panjang dan kembali menempelkan gawai itu di telinganya.
__ADS_1
"Ibu? bagaimana kabarmu?"
"Aku akan mati jika kau tidak kembali! anak kurang ajar kau ya? setidaknya hubungi aku, kabari aku! bagaimana bisa lima tahun pergi begitu saja!" Nyonya Jeslin mengomel tanpa henti, membuat Nando sedikit menjauhkan gawai itu dari gendang telinganya.
Dia meletakkan gawai di atas meja kemudian meloudspeker nya.
"Steve? apa kau dengar apa yang ibu katakan?" Nyonya Jeslin merasa diabaikan, dia semakin kesal.
"Aku dengar ibu, maaf aku salah!"
"Iya kau memang salah dan banyak dosa dengan ibumu ini, aku sudah melakukan banyak perawatan agar awet muda, tetapi karenamu, wajahku menjadikan berkerut! Nando, kau harus pulang!" Seketika Nando memutuskan panggilan telepon itu.
"Ini gawaimu, aku sudah menepati janjiku, kau harus membantuku menjaga Juli. Oh ya, sekalian kau pesankan tiket ke Paris untukku, cari tempat terbaik untuk berlibur." Nando kini menagih janji Santos.
"Ya, kau tidurlah dengan nyenyak, aku akan mengurus segalanya." Santos benar-benar menepati janjinya. Dia tidak kaku lagi seperti sebelumnya.
"Kau baik Santos! Haha, terimakasih." Nando bisa bernafas lega, kini dia tidak galau lagi. Semua masalah sudah mampu ia selesaikan.
"Oh ya, tadi Tuan Besar mengatakan jika dia ingin anda cepat kembali ke rumah, Nyonya besar sakit," cakap sang pelayan hampir saja melupakan berita penting ini.
"Tuan Heleas itu hanya ingin pernikahan bisnis, dia tidak memikirkan kebahagiaanku, soal ibu, nanti aku akan merencanakan bertemu dengannya setelah J berhasil aku temui, aku akan mengenalkannya sebagai calon istriku," pungkasnya.
Nando beranjak dari tempat duduknya, dengan senyum yang mengembang di bibirnya, masalah sang ayah, dia tidak terlalu menghiraukannya.
Sang casanova meninggalkan Santos sendirian.
Nando telah enyah dari meja makan.
Saatnya dia beraksi.
Santos mencari tempat berlibur yang menyenangkan di Paris melalui situs tiket online.
"Ini saja, pasti cocok untuk Tuan Muda dan Nona Cantik."
Santos melakukan transaksi pembelian tiket dengan cara online.
__ADS_1
"Done! esok hari aku harus pergi ke rumah sakit, menjenguk wanita bernama Juli itu," ucap Santos lega, akhirnya semua tugasnya mampu terselesaikan tanpa ada halangan.
….