Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Jumpa dengan mantan


__ADS_3

Ferdinand terlihat kebingungan kala sang ibu melakukan panggilan telepon dengan Naina.


"Halo Naina? apa kabar nak?" tanya sang ibu.


"Oh, bibi. Kabarku baik, bibi sendiri bagaimana?" sahut Naina.


"Aku baik, Naina apa masih jomblo?" cetus Nyonya Jeslin membuat si tampan menelan salivanya. Dia terlihat jelas jika salah tingkah.


"He.em, aku masih sendiri. Memangnya kenapa ya? tumben bibi menelponku lalu menanyakan status? wah pasti mau mencarikan aku jodoh ya?" ungkap Naina.


"Wah, kau ini sangat peka ya? bisa mengetahui apa yang ada dipikiranku, betul sekali. Aku sedang mencari jodoh untukmu. Kau mau ya dengan pria pilihan bibi. Dia tampan lho, pinter lagi. Mau ya?" Begitu gencarnya Nyonya Jeslin promosi sampai-sampai Ferdinand senyum-senyum sendiri.


Dia kelihatan sangat senang saat ada wacana perjodohan ini, tapi dia merasa tidak pantas bersama gadis secantik dan sebaik Naina.


"Hm, jika ini adalah keinginan bibi, pasti aku setuju tapi jangan langsung nikah ya?" ucap Naina.


"Oke, beres. Kau tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Semuanya sudah menjadi tanggung jawabku." Nyonya Jes sangat yakin jika dua orang itu berjodoh, jadi sebisa mungkin dia akan menyatukan Naina dan Ferdinand.


"Oke, tapi maaf bibi. Aku tidak bisa berlama-lama mengobrol, aku masih ada pasien, seekor anjing yang tertabrak mobil." Sang dokter hewan ternyata sedang berada dalam pekerjaan penting. Padahal Nyonya Jes ingin si dokter berbicara dengan Ferdinand.


Namun, biarlah pertemuan saja yang akan menjadikan mereka dekat, bukan hanya mengobrol lewat panggilan telepon.

__ADS_1


"Ya, aku paham. Bekerjalah, semoga anjing itu segera sembuh," ucap sang ibu.


"Terima kasih Nyonya."


"Ya."


Panggilan telepon itu pun berakhir.


Ferdinand bisa bernafas lega.


Dia merasa tenang untuk sementara waktu.


"Huft, akhirnya aku bisa melihatmu menikah," celetuk Nyonya Jeslin.


"Aku pantau kau sejak Heleas mengatakan si Christin memiliki seorang tampan yang masih berkuliah, entah saat itu Heleas menceritakan Jack atau tidak, tapi aku hanya fokus padamu saja. Kau mengingatkanku pada Steve saat masih muda. Dia kan pembangkang dan kabur, jadi saat rindu, aku diam-diam memantau dirimu, maaf ya. Aku bukannya suka dengan brondong, hanya saja waktu aku kesepian saja. Anak satu-satunya kabur dan Heleas menggila, astaga! pusing. Haha ... tapi itu dulu, sekarang aku santai, tinggal menunggu cucu lahir saja," ungkap sang ibu.


Ferdinand teringat akan bayi yang ada dikandungan Xia, dia ingin sekali jujur, tapi takut ibunya marah.


Ferdinand tiba-tiba saja diam tanpa menanggapi apa yang sang ibu katakan.


Dia terlalu fokus menyetir.

__ADS_1


"Hey? ada apa?" tanya Nyonya Jes.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya .... ibu, aku ingin bercerita suatu rahasia, tapi ibu jangan membenciku saat aku bercerita kepada ibu ya?" ungkap Ferdin mencoba jujur kepada sang ibu.


"Ya, katakan saja."


"Oke, ini mengenai aku dan Xia."


"Astaga, kau juga suka dengannya?"


"Tidak hanya suka, aku dan dia terjebak hubungan terlarang. Dia mengandung anakku."


Deg!


Jantung sang ibu seakan berhenti berdetak. Rasanya tidak mungkin jika pria baik dan sopan, melakukan hal yang tidak bermoral semacam itu.


"Kau jangan bercanda Fer."


"Ini serius ibu."


Ferdinand sepertinya memang harus jujur kepada ibunya mengenai kehamilan Xia.

__ADS_1


******


__ADS_2