
Ferdinand telah sampai di alamat yang diberikan oleh sang anak buah.
"Apa benar ini rumahnya? mengapa sepi sekali?" ucapnya sambil turun dari mobil.
Dia memarkirkan mobil di depan gerbang rumah megah itu, Ferdinand mencoba menekan bell.
Tiba-tiba muncul seorang penjaga rumah megah itu dan bertanya kepadanya.
"Siapa kau?"
"Apakah ini rumah Nona Juli?"
"Bukan, ini rumah Tuan Javier, anda salah orang!"
"Tapi saya mendapatkan informasi jika dia ada di tempat ini."
"Nama anda siapa?"
"Saya, Ferdinand Howard."
Sang penjaga rumah terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Santos, ada orang yang mencari Nona Julia, namanya, siapa namamu?"
"Ferdinand Howard."
"Ya, Ferdinand Howard."
"Sebentar, aku bicarakan dulu kepada Nona Julia."
...
__ADS_1
Beberapa menit kemudian ...
"Kau diminta pergi ke Green Resto, Nona Julia ada di sana," jelas sang penjaga rumah.
"Oke, terimakasih atas informasinya."
Sang penjaga tidak mengubris apa yang dikatakan oleh Ferdinand.
Pria itu juga lebih memilih untuk masuk ke dalam mobilnya karena dalamnya sangat ingin bertemu dengan mantan kakak iparnya dulu.
Ferdinand merasa senang bisa bertemu dengan Julia, dia akan mencurahkan segala isi hatinya karena selama ini terlalu memendam rasa sakit akibat luka yang terdalam, luka yang diakibatkan oleh Xia.
Biasanya dia akan mengatakan segalanya kepada Julia, tapi saat Julia telah pergi, dia tidak memiliki teman lagi untuk berbicara.
Waktunya habis untuk bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya agar mendapatkan segalanya, yang terpenting adalah dia tidak diremehkan lagi oleh Jack, pria yang selama ini menghina martabat dirinya.
"Aku akan bertemu dengan kakakku," ucap Ferdinand merasa senang, dia tidak menggambarkan kebahagiaannya.
...
Tidak terasa perjalanan yang cukup jauh itu, kini menemukan titik terang, dia melihat mulai nampak padang rumput dengan segala keindahannya.
Dia memarkirkan mobil di tempat parkir yang tersedia kemudian, turun dari mobil. Dia segera masuk ke area Green Resto.
Entah sudah feeling atau apa, Julia yang menemukan Ferdinand lebih dulu.
"Fer!" pekik Julia.
Ferdinand menoleh, dia menitikan air matanya karena terlalu rindu.
"Kakak?" ucap Ferdinand yang menuju sumber suara sang kakak ipar.
__ADS_1
Kedua orang itu kini bertemu dan saling berpelukan.
"Fer, bagaimana keadaan mu? apa kau sehat?"
"Bagaimana aku bisa sehat jika kau pergi dariku?"
"Maaf Fer, bukannya kakak tidak ingin bertemu denganmu tapi, Jack ... dia."
Sang adik ipar lebih memahami keadaan, dia tidak terlalu memusingkan hal tersebut.
"Tidak masalah kak, aku yang seharusnya minta maaf karena kelakuan Kak Jack, kakak menjadi menderita!"
Ferdinand memang selalu begitu, menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan kakaknya memang salah sangat bersalah.
Dia meminta maaf untuk kesalahan kakaknya.
Di ujung sana, di dalam sebuah gazebo, ada pria yang dibakar api cemburu yang meletup-letup.
Bahkan gazebo itu bisa hangus karena api cemburu sang pria.
"Sabar Tuan, dia itu saudara Nona Julia."
"Sabar apanya Santos? aduh, tubuh calon istriku di peluk-peluk didepan mataku, astaga! apa ini Santos! aku harus membereskannya!"
"Tidak sekarang Tuan, mereka sedang tamu kangen, biarkan saja!"
"Tapi Santos!"
Nando masih terus memaksa untuk bertemu dengan Julia, dia ingin memisahkan pelukan antara Ferdinand dan Julia, tapi Santos terus menghalangi.
'Astaga! cemburu ini begitu dalam, kasihan juga Tuan Steve,' batin Santos yang masih mencekal tangan dan kaki sang Tuan Muda.
__ADS_1
******