
Setelah perdebatan yang lumayan panjang mengenai foto ayah mertua, akhirnya dua sejoli itu sampai di rumah Tuan Heleas.
Nando memarkir mobilnya di garasi lalu, mengajak Julia turun dari mobil.
Setelah itu, kedua orang itu berjalan menuju pintu utama rumah mewah sang kakek casanova.
Dari awal masuk area rumah mewah, Nando sudah curiga ada yang aneh dengan rumah yang katanya tempat untuk acara resepsi pernikahan antara Nando dan Julia.
...Rumah Tuan Heleas tampak depan...
"Baby, sepi sekali, masih mending kuburan, ada batu nisan dan pusara," celetuk Nando.
"Husss! lagi acara pernikahan mana boleh mengatakan tentang pusara dan batu nisan? tidak boleh seperti itu!" cetus Julia memperingatkan seorang suami agar tidak sembarangan dalam bicara.
"Aku kan sedang bercanda, mengapa kau anggap aku serius?" sahut Nando tetap tidak mau disalahkan.
"Hm, kau selalu saja menjadi pria yang keras kepala, hentikan berbicara hal abnormal. Kita fokuskan pikiran agar tetap fokus." Julia terlalu serius dengan keadaan rumah yang sepi, dia takut terjadi sesuatu terhadap kedua mertuanya.
__ADS_1
..
Julia mengajak calon suaminya untuk masuk ke dalam, Julia berpikir mungkin di dalam ada orang.
Baru membuka pintu utama, sudah mendapati pemandangan yang luar biasa.
Nando dan Julia melanjutkan langkah untuk memeriksa bagian dalam rumah itu.
"Hm, semuanya sudah siap tapi orangnya mana? mengapa semua orang pergi begitu saja?" sahut Nando sambil menoleh ke sana kemari mencari sosok Nyonya Jeslin.
"Julia!" pekik seorang wanita dari ujung ruangan.
Teriakan itu, membuat Juli dan Nando menoleh ke arah sumber suara.
"Ibu? akhirnya ada seonggok manusia yang kami lihat," ledek Nando saat melihat Nyonya Jes berjalan menghampiri dirinya dan sang calon istri.
__ADS_1
"Ibu hebat kan? bisa mempersiapkan segalanya sendirian!" Nyonya Jeslin sangat percaya diri karena dirinya memang luar biasa dalam hal menyenangkan semua orang ia sayangi.
"Hm, aku tidak percaya jika ibu yang melakukannya! pasti ibu melakukannya bersama ayah! dan semua tim yang bersembunyi." Nando selalu saja menyangkal apa yang ibunya katakan, membuat sang ibu gemas.
Dia menjewer telinga sang putra yang kurang ajar itu.
"Hey! kau ini anak kurang ajar ya? bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu kepada ibumu yang telah berusaha melakukan hal terbaik untuk pernikahanmu hari ini? apa kau tidak lelah mendengar ibu marah-marah terus-menerus dari kau kecil sampai setua ini! katakan sesuatu Steve! kau ini pria casanova yang tidak tahu diri! mimpi apa aku bisa memiliki anak sepertimu. Seharusnya kau beruntung memiliki ibu yang hebat seperti aku bukannya menyindir saja bisanya, astaga! jadi marah-marah aku ini, menyebalkan sekali! Jeslin ingat kerutan akan bertambah jika kau marah-marah, jaga emosimu!"
Sang ibu berbicara tanpa henti, membuat sepasang sejoli yang ada di depannya hanya mampu bisik-bisik.
"Lebih baik kau diam, jangan mengatakan seperti apapun kepada ibumu, cukup katakan terima kasih dan semuanya usai," bisik Julia.
"Aku bukan dirimu yang menganggap semuanya sederhana, aku merasa ibuku terlalu berlebihan jadi harus disindir terus-menerus," ucap Nando membalas bisikan yang disampaikan oleh sang calon istri.
Nyonya Jeslin merasa dicuekin dan kemudian memperingatkan kedua anaknya itu.
"Hey! ada orang tua bicara mengapa kalian bisik-bisik!"
*****
__ADS_1