Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Bertemu lagi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, dia merasa senang, Julia yang selalu memenuhi otaknya akan segera berada di dalam pelukannya.


Dia mempercepat laju mobil miliknya.


Beberapa menit kemudian ...


Mobil mewahnya telah berada di depan rumah sakit, dia segera menuju lift. Berharap tidak akan mendapatkan khilaf lagi.


"Semoga tidak ada gadis gila itu lagi," ucapnya saat menunggu pintu lift itu terbuka.


Ting!


Setelah pintu lift terbuka, Nando menatap ruang lift yang kosong, dia merasa lega. Kali ini Nando memiliki nasib yang mujur.


Nando menekan tombol angka 1 dan 0, setelah itu dia menunggu lift naik ke lantai 10, tidak sampai lima menit, lift itu telah berhenti. Secara otomatis pintunya terbuka.


Dia keluar dari lift itu dan berjalan menuju kamar rawat inap Juli.


"Tuan Nando!" panggil seseorang yang suaranya sangat familiar.


Nando menoleh.


"Oh dok, ya, ada apa?" tanya Nando yang kini berhadapan dengan sang dokter.


"Aku sudah menunggumu," pungkasnya..


Kedua orang yang tidak saling mengenal namun sudah dekat, masuk ke dalam ruang rawat inap VVIP.


Deg!


Deg!


Deg!


Nando menatap Juli dari kejauhan, jantung itu memang tak tahu diri, bagaimana bisa? pria casanova sekelas Javier Fernando alias Steve Heleas tidak mampu mengontrol diri?


Ini bukan dirinya, tetapi sisi lain pria yang rapuh.


Dokter terus mendesak agar Nando berada di samping Julia.


Kini mereka berdua tak lagi berjarak, tanpa ada yang mempersilahkan, dia duduk di kursi yang berada di samping brankar, tempat Juli terbaring lemah.


"Sapa dia," bisik sang dokter.


"Tapi dia tidur," jawab Nando dengan berbisik pula.


"Kau ikuti saja ucapanku."

__ADS_1


"Baik dok."


Nando tidak ingin mengganggu waktu istirahat Juli, tetapi rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya, tak terbendung lagi.


Dia harus menyapa Juli.


"Hm ... Hay Juli, aku Nando. Bagaimana kabarmu?" tanya Nando dengan senyum sumringahnya.


Tanpa ia duga, netra si wanita cantik perlahan terbuka, membuat hatinya adem seperti saat kita tersesat di padang pasir kemudian menemukan oasis.


"N ... A ... N ...," ucap Juli, dia kesusahan memanggil nama Nando. Dia masih sangat lemah.


"Tidak perlu dipaksakan baby, kau sudah siuman saja, aku lega sekali." Nando menghibur diri dan wanita sakit di depannya, meskipun dia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan di depan wanita yang mampu mengobrak-abrik suasana hatinya.


Mampu membuatnya gila karena selalu terbayang wajah cantiknya saat bermain bersama kelima gadis simpanannya.


"Baby, aku ingin pergi ke Paris. Kau mau titip apa?" Pertanyaan konyol yang Nando sampaikan membuat Juli tersenyum simpul.


Sang dokter bahagia, respon kecil seperti ini akan mampu menyembuhkan luka mental yang pasien derita.


Ting!


Terdengar nada pesan singkat dari ponsel Nando, dia meraih ponsel yang ada disaku celananya, kemudian membuka layarnya.


Dia membuka menu pesan singkat, di sana tertulis.


Nando menahan tawanya saat membaca pesan singkat dari Santos, rasanya aneh harus berbohong kepada partner ranjangnya jika dia sedang berada di rumah sakit menjenguk Juli. Wanita asing yang baru saja ia kenal.


Sang casanova secepatnya membalas pesan singkat tersebut.


Aku akan kembali dalam waktu dua puluh menit. Gajimu aku tambah lagi 200persen, jika kau mampu membujuk Cantik.


Belum sampai sepuluh detik, Santos sudah membalas pesan singkat dari sang Tuan Muda.


Oke, awas kau Tuan, jangan ingkar janji seperti dua bulan yang lalu.


Nando cekikikan membaca balasan pesan dari Santos, sampai melupakan dokter dan pasien yang hanya menatapnya sedari tadi.


Namun tatapan ceria itu perlahan redup, si pemilik manik mata indah sudah terpengaruh obat yang dokter berikan.


"Dok? sudah lima menit ya?" tanya Nando berbisik.


"Iya, lebih baik kita keluar saja," jawab sang dokter sembari mengajak Nando ikut beranjak dari ruangan VVIP itu.


....


KLEK!

__ADS_1


Sang dokter membuka pintu VVIP dengan pelan agar tidak mengganggu istirahat Juli.


Nando mengekor langkah sang dokter.


Kini keduanya sudah berada di luar ruangan.


"Dok, aku titip kekasihku. Jaga dia, aku ada urusan, ada perjalanan bisnis ke Paris. Kau katakan ini padanya, dan ini, kau bawa kartu namaku. Jika ada apa-apa dengan kekasihku, kau laporkan saja padaku." Nando sangat serius menjaga Juli, membuat sang dokter semakin kagum.


"Oke, aku terima kartu nama anda. Ehm, baru kali ini aku melihat seorang pria sangat memperhatikan kondisi wanitanya yang terbaring lemah, biasanya para pria muda kaya raya macam anda, akan meninggalkan kekasihnya yang sudah tidak berguna," tutur sang dokter memberikan argumen sesuai dengan apa yang ia ketahui.


"Tidak semua pria muda kaya raya itu brengsek. Contohnya aku, Haha," jawab Nando dengan tawa khasnya. Gigi putih tertata rapi nan mempesona, selalu nampak saat dia tersenyum seperti itu.


"Iya, kau memang salah satu yang terbaik.Oh ya, silakan jika anda ingin pergi Tuan, saya juga masih ada tugas lain. Selamat berjumpa esok hari." Sang dokter berpamitan dan berjalan berlawanan arah dengannya.


Nando membiarkan sang dokter pergi, karena dia harus segera kembali ke rumah megahnya untuk menjemput Cantik dan bersiap menuju bandara.


Langkahnya sangat mantap, dia tersenyum selalu. Ada rasa bahagia yang tertahan.


Dia berdiri tepat di depan lift.


Ting!


Hanya menunggu beberapa detik saja, lift itu sudah terbuka.


Dia segera masuk ke dalam lift.


Dia merasa terganggu dengan suara berisik pria dan wanita di sampingnya yang entah mengapa tak mampu menahan birahiinya.


Keduanya saling bercumbu mesra, membuat Nando harus angkat bicara.


"Bung, bisa kau tahan sebentar?" ucap Nando tanpa melihat si pria yang sejenak menghentikan aksi brutalnya membuka kancing baju si wanita yang sudah memperlihatkan buah kenyal yang menantang.


"Apa masalahmu?" Si pria mendekat ke arah tubuh Nando dan mencoba memukulnya tetapi si wanita mencegahnya.


"Sayang, jika kau berlaku kasar, lebih baik aku bercumbu dengan pria ini. Dia sangat tampan dan gagah," ucap si wanita yang semakin membuka tali pengikat br@nya dan membuat buah kenyal itu jatuh tanpa bungkusannya.


Nando hanya mampu menelan ludah melihat pemandangan ini. Sedangkan si pria, langsung meraih tubuh seksi si wanita dan melahap buah kenyal itu.


Mereka berdua bermain yang iya-iya tepat di depan matanya, Nando yang seorang casanova itu juga ingin menikmati kekenyalan buah nan lembut, putih, bersih itu. Tapi dia mengingat akan komitmennya, dia tidak akan sembarangan bermain dengan wanita yang belum ia kenal. Suara desaahaan, eraaangan terdengar menyiksa gendang telinganya.


Ting!


Lift terbuka, penyiksaan atas mata dan telinga yang penuh dosa itu telah berakhir.


"Sialan! mengapa rumah sakit ini penuh adegan dewasa? akh ... mata dan gendang telingaku ternodai," ucap si casanova yang pura-pura sok polos.


….

__ADS_1


__ADS_2