Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Menantu idaman


__ADS_3

Sang ibu menjewer telinga sang putra mesumnya dan menyeretnya sampai di depan mobil mewah Nando.


"Mana calon menantu?" tanya sang ibu dengan jari yang masih mengait di telinga si Nando.


"Itu yang sedang duduk di jok depan! astaga! lepaskan aku ibu! mengapa ibu menyakiti telingaku!" pekik sang anak sialan, dia bahkan meminta pengampunan saat berada di titik tidak nyamannya. Akan tetapi di saat Nando melupakan kedua orang tuanya, dia menyepelekan sang ibunda. Dasar pria mesum tidak tahu aturan.


"Mana? kau jangan berbohong?" Sang ibu tidak melihat apapun di jok depan, tapi saat dia melihat di jok belakang, ada seorang gadis cantik yang terbaring lemah di sana.


"Astaga! kau mau membunuh orang ya? coba kau buka pintu mobilmu, di sana ada gadis yang terkapar!" Sang ibu yang menelisik dari awal isi dari mobil itu, mendapati penampakan yang tak biasa.


*


*


*


Nando membuka pintu jok belakang dengan santainya.


"Nona? apa kau baik-baik saja?" tanya sang ibu yang tiba-tiba saja memeluk Juli yang sedang tidur.


"Dia tidur ibu, dia kelelahan." Nando menjawab pertanyaan yang harusnya di ajukan kepada Juli.

__ADS_1


Juli yang merasa dirinya hanya mengantuk, tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya diam saja.


"Nona ... nona, katakan sesuatu Nona?!" pinta Nyonya Jeslin, dia panik.


"Beri dia nafas buatan Steve." Sang ibu memang terlalu berlebihan.


"Dia tidak pingsan ibu, dia masih dalam keadaan sadar." Steve geleng-geleng kepala mendapati kekhawatiran berlebih dari sang ibu.


Juli mencoba meraih kesadarannya, kemudian dia menguap.


"Hoam ...." Suara Juli membuat Nyonya Jeslin lega.


"Astaga! aku kira kau pingsan! sadarlah nak," ucap Nyonya Jeslin sembari mengusap punggung Juli lembut.


Nyonya Jeslin senang saat mendapati wajah calon menantunya yang sangat cantik.


Dia menatap wajah itu dengan seksama, tidak ada sedikit pun noda. Semuanya nampak indah dan mulus.


Jeslin tidak menyangka jika sang putra pandai mencari calon pendamping hidup. Dia mengira hanya para jala*Ng saja yang akan mengelilingi sang putra, tetapi masih ada wanita yang tampilannya anggun mau dengannya, meskipun tak akan merubah apapun untuk masa depan sang gadis yang akan tetap suram.


*

__ADS_1


*


*


"Namamu siapa?" tanya Nyonya Besar.


"Saya Amanda Heinz, nyonya. Salam kenal," ucap Juli dengan sangat sopan.


Kesan pertama yang Juli tampakkan sangatlah menyenangkan, membuat Nyonya Jeslin tertarik.


"Rumahmu mana? apa orang tuamu juga seorang yang hebat?" tanya Nyonya Jeslin, mencoba mencari tahu tentang Juli.


Tentang informasi ini, Juli belum mengatakan apapun kepada Nando. Rasanya kagok sekali jika harus berkata bohong. Tetapi jika tidak, akan membuat semuanya menjadi rumit.


"Dia adalah anak dari seorang pebisnis terkenal, dia berada di luar negeri selama ini, jadi tidak bisa menjenguk anaknya setiap hari." Nando membantu memberikan jawaban.


Nyonya Jeslin yang hanya mengetahui bahwa itu semua adalah kebenaran, merasa bahagia. Dia akan mendapatkan menantu yang luar biasa.


"Wow! saat ini aku akan mengakui kau sebagai keturunanku, putra tunggal dari Tuan Heleas dan Nyonya Jeslin. Haha ...." Sang Nyonya besar bangga dengan pengakuan itu, padahal di balik itu semuanya hanyalah kebohongan.


Sial! mengapa aku asal bicara? sudahlah sudah terlanjur. Biarkan saja! kelak, aku akan memperbaiki segalanya.

__ADS_1


….


__ADS_2