
Santos kemudian membawa sang majikan tancap gas menggunakan mobil mewah menuju istana megah sang casanova, di sepanjang perjalanan, keduanya tak mengatakan sepatah kata pun, yang terdengar hanya suara Nando yang sedang berdendang.
Di saat sang majikan merasa senang, dia pasti akan bernyanyi, entah itu di mobil ataupun tempat kerja.
Tapi sayangnya, suaranya terdengar sangat sumbang dan menyakiti telinga Santos, membuat si pelayan setia harus angkat bicara.
"Tuan, telinga saya sakit," keluh Santos.
"Diamlah, aku tahu jika suaraku jelek, tetapi setidaknya hargailah aku ini, na ... na ... na ...." Nando masih saja berdendang meskipun mendapatkan protes.
"Maaf Tuan, tapi lebih baik Tuan menelpon dokter yang bertanggung jawab atas Nona Juli, kau harus merawatnya di rumah." Ide Santos sangat cemerlang, Nando sumringah.
"Iya, kau benar juga, mana ponselmu aku pinjam!" jawab Nando sembari membuat panggilan kepada dokter yang bersangkutan.
"Iya," jawab Santos sembari mengulurkan ponsel miliknya ke arah jok belakang.
Setelah ponsel berada digenggaman, dia melakukan panggilan terhadap nomor ponsel sang dokter, dia mengingat nomor itu.
"Nomornya 08xxxxxx," ucap Nando sembari menyentuh tombol angka di ponsel layar sentuh milik Santos.
Beberapa menit kemudian ...
Panggilan itu mendapatkan jawaban saat menunggu beberapa waktu.
"Halo dok? ini aku, Nando. Teman dari pasien yang bernama Juli, bisakah aku membawa Juli pulang?" tanya Nando.
"Oh ternyata anda, saya kira siapa, maaf saya lama menjawab panggilan telepon dari anda, ehm ... untuk soal itu, tunggu informasi dari saya dua hari lagi ya? tidak masalah kan?" ungkap sang dokter yang harus mengecheck kembali kondisi sang pasien agar benar-benar sehat saat dibawa pulang.
"Lama sekali dok, aku harus menikah dengannya, saya sudah tidak sabar," jawab Nando yang mencoba merayu sang dokter.
"Ehm, kalau masalah ini, bisa di bicarakan lagi. Besok pagi, kau datanglah kemari, kita membahas hal ini," jelas sang dokter.
__ADS_1
"Oke dok, saya sangat ingin menikahinya, dia wanita yang sangat saya sayangi, kasihan jika harus menderita terlalu lama." Nando merasa iba, meskipun rasa iba-nya memiliki maksud lain.
"Wah bagus, dia memang harus memiliki seorang yang sangat mencintainya agar mentalnya, luka hatinya segera sembuh, kau harus pandai menjaga hatinya," saran dokter.
"Kalau itu mudah, aku akan selalu melakukannya, tetapi kau jangan katakan ini kepadanya, tentang rencana pernikahan antara aku dan dirinya, ini rahasia. Aku akan menjadikan ini momen terbaik dalam hidupnya," jawab Nando begitu bahagia lahir dan batin.
"Siap, semuanya akan saya simpan rapat-rapat." Sang dokter dengan mudahnya mau di ajak bekerja sama, ini memudahkan Nando untuk memberikan hari lamaran yang indah untuk sang pujaan hati.
"Oke, maaf sudah mengganggu waktu dokter. Saya juga berterima kasih karena telah menyimpan rahasia ini," ucap Nando.
"Oke, sama-sama Tuan."
Panggilan telepon sudah berakhir, saatnya mengurus persiapan pernikahan.
"Santos, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" tanya sang majikan.
"Iya, aku harus mengubah identitas Nona Juli menjadi Amanda, membantu Tuan mempersiapkan acara pernikahan, serta booking tempat untuk bulan madu," jawab Santos yang sudah memahami segalanya.
"Nah, itu baru benar Tuan, kau harus segera berubah," tukas Santos merasa lega dengan keputusan akhir yang diambil oleh Nando.
"Tapi aku tidak janji seminggu kemudian masih akan puasa tidak," goda sang casanova dengan senyum tipisnya.
"Tuan Muda? kau ya?" Santos menatap tajam wajah Nando lewat spion tengah mobil.
"Aku kenapa? wkwk ... ya aku harus belajar dengan satu wanita saja, mencicipi sedikit kan tidak masalah." Nando selalu saja berkelit, ada saja yang ia pikirkan.
"Terserah Tuan, itu tanggung jawabmu, oh ya ... kau harus membawa Nona Juli ke rumah Nyonya Besar, kita butuh persiapan yang matang Tuan, kita tidak akan mengatakan jika Nona J adalah wanita depresi yang bunuh diri akibat pengkhianatan adik dan suaminya. Kau harus memikirkan ini juga," jelas Santos mengingatkan.
"Iya, nanti aku akan menghubungi ibuku. Kau menyetir lambat sekali, apa kau lupa caranya menyetir?" tanya Nando yang merasa laju mobil mewahnya melambat.
"Bukan karena itu Tuan, tetapi jalanan macet," jawab Santos.
__ADS_1
Nando seketika menoleh ke segala arah, ternyata jalan raya sedang macet, banyak kendaraan yang terjebak. Mau tidak mau, Nando harus sabar menanti.
Sang casanova menatap layar ponselnya, dia mencari nama Nyonya Besar di barisan kontak.
Dia ingin melakukan panggilan, sang casanova mencoba melakukan panggilan keluar menggunakan ponsel milik Santos.
Tapi dia segera mengakhiri panggilan tersebut.
"Santos, ponselmu aku pinjam sebentar," pinta Nando.
"Oke Tuan."
Saat sang pemilik ponsel mengizinkan gawai miliknya Nando pinjam.
Dia kembali menatap nomor ponsel bertuliskan Nyonya Besar.
Kali ini, dia tidak sengaja melakukan panggilan telepon.
Nando terkejut saat panggilan telepon itu mendapatkan jawaban dari sang ibu.
"Halo Santos, ada apa?" tanya sang ibu.
"Kau sudah membujuk anakku untuk pulang? dia harus pulang, suruh dia bawa calon istri jika tidak mau dijodohkan," jawab sang ibu, dia mengomel.
"Ini aku, Steve. Iya aku akan membawa calon istri kepadamu dua hari lagi, tenanglah tidak perlu marah-marah nanti muncul lagi kerutan," goda Nando.
"Anak kurang ajar ya? kerutan ini sebab memikirkan anak ibu yang bandelnya tidak karuan. Kau tahu kan a ...." Belum sempat sang ibu menyelesaikan kata-katanya, Nando sudah menutup panggilan itu.
'Seperti biasa, selalu berisik,' gumam sang casanova.
….
__ADS_1