
Panggilan telepon sang casanova berakhir dengan permintaan gilanya ingin phone se*x dengan Juli yang masih menjadi pasien itu.
“Kau gila?” Juli merasa ide Nando sangat di luar nalar, mana bisa dia melakukan ini kepada pasien yang baru saja siuman.
“Ayolah baby? kau mau kan?” Nando tetap memaksa, pada akhirnya Juli setuju.
“Kita mulai dari mana?” Juli bahkan belum mengetahui caranya bagaimana.
“Kau hanya perlu mendesaah saat melihat milikku menegang, jangan lupa kau buka bajumu,” bisik Nando. Dia memang gila, benar-benar gila. Melakukan pencabulan secara daring.
“Astaga? aku tidak bisa melakukannya, justru aku akan tertawa saat melihat milikmu,” ucap Juli balas berbisik.
“Cih! apa hidupmu dulu di dalam goa? tidak pernah melakukannya dengan mantan suamimu?” Tanpa sadar, Nando membahas mantan suami Juli.
“Tidak, dia bukan pria yang peka sepertimu. Dia hanya akan mencium kening dan bibir saja, selain itu tidak. Meskipun aku sering meminta malam pertama kepadanya, tetapi dia banyak alasan. Sibuk ini, sibuk itu. Lelah rasanya menjadi pengemis,” jawab Juli yang kini lebih tegar dari sebelumnya.
“Bodohnya mantan suamimu itu, kau sangat pandai menyenangkan pria, bagaimana bisa dia mencampakkanmu? benar-benar pria tidak tahu diri.” Nando menjadi emosional kala membahas mantan suami wanita malang itu.
“Haha, mengapa kau menjadi peduli denganku?” tanya Juli heran.
“Karena kita calon pasangan pengantin,” canda Nando.
“Haha ... kau benar juga, Ehm ... maaf aku merepotkanmu. Membawamu masuk ke dalam kehidupan rumit rumah tanggaku,” tukas Juli yang merasa bersalah.
“Bayarannya adalah tubuh mulus nan candu, aku tidak pernah menyesali apapun. Apalagi itu tentang kenikmatan dunia, Javier Fernando akan berdiri di depan untuk membantumu.”
Sang casanova yang mendapatkan kesempatan emas menikmati tubuh Juli yang menurutnya lebih indah dari lima gadis simpanannya.
__ADS_1
“Cih! tak ku kira kau sebrengsek itu Tuan Nando!” ujar Juli.
“Haha ... aku memang brengsek, menjamah lima gadis setiap harinya adalah pekerjaanku. Kurang bajingan apa? aku memang pemuja kenikmatan dan kau pasti sudah memahaminya.” Nando berterus terang tentang jati dirinya. Dia bukan pria baik, dia hanya pria penuh hasrat yang menggebu terhadap gadis cantik dan seksi.
“Aku tidak berpikir sejauh itu, kau sebenarnya orang baik, hanya saja terjebak oleh hasrat yang tak mampu kau kendalikan, aku doakan semoga kau segera bertobat. Meskipun itu sesuatu yang tidak mungkin,” jawab Juli berkata apa adanya.
“Aku akan bertobat jika bertemu dengan gadis kecil yang membuatku jatuh cinta sampai gila,” jelas Nando yang hanya menceritakan tentang J kepada Juli dan Santos.
“Sudah ku duga kau seorang pedofil, mana ada pria gila sepertimu mencintai gadis atau wanita matang? selain mempermainkan mereka, tidak ada yang bisa kau lakukan!” sindir Juli.
“Sialan, bukan itu maksudku, dia adalah gadis kecil di masa lalu ku yang ....
Tut ... tut ... tut ...
Tiba-tiba saja panggilan telepon itu terputus.
“Bateraiku habis, ada saja penghambat! padahal selangkah lagi aku akan melihat dua pegunungan indah miliknya!” Nando kesal, dia membuang begitu saja ponsel yang baru saja ia beli dua bulan lalu. Ponsel merk terbaru dengan harga diatas rata-rata.
Dia membayangkan dengan detail kedua wajah yang terpaut usia yang sangat jauh itu. Nando melihat ada kemiripan.
“J, aku akan kembali mencari keberadaanmu.” Janji Nando yang sempat tersendat karena ulah suami J yang sok berkuasa.
Kini dia bernafas lega karena memiliki bisnis yang mampu membuatnya mengetahui sosok J yang sebenarnya.
Tiga puluh menit dia berendam.
Akhirnya dia beranjak dari bathup dan membilas tubuhnya di bawah air shower.
__ADS_1
Kembali bayangan Juli melintas, dia ingin segera pulang ke dalam negeri agar dapat berjumpa dengan calon pengantin palsunya.
Setelah usai dengan pembersihan diri, Nando segera meraih handuk yang ada di rak kecil.
Dia melilitkan satu handuk di pinggangnya, sedangkan satu lagi untuk mengeringkan rambutnya.
Dengan wajah yang sudah fresh dan tubuh yang wangi, Nando keluar dari kamar mandi.
Tapi saat dia menatap ranjang, tidak ada gadis cantik yang tadi bersamanya.
Justru dia melihat ada secarik kertas di sana.
“Apa ini?” ucap Nando sembari meraih secarik kertas itu dan membaca isinya.
Nando, maaf aku harus pergi.
Aku sudah memutuskan untuk menerima perjodohan kedua orang tuaku karena aku merasa kau akan tetap brengsek untuk selamanya. Aku mengira kau akan berubah saat membawaku ke Paris dan memberiku banyak kejutan. Tapi kau adalah pria casanova, aku bodoh mengharapmu menjadi pria baik dan menjadikan aku satu-satunya gadis dihidupmu. Terima kasih untuk lima tahun ini, aku akan mengingatmu sebagai kenangan pahit! Jangan mencariku, aku akan menjalani hidupku dengan baik. Kita tutup lembaran masa lalu kisah kita.
Bye Nando, jalani hidupmu dengan baik.
Cantika Elish.
Nando tersenyum kecut, dia harus lebih bersabar, kenikmatan duniawinya pergi. Hari ini dia harus menahan diri.
“Sialan! Setidaknya dia pergi setelah membiarkanku menumpahkan lahar panasku di punggungnya!”
Nando benar-benar frustasi, mau tidak mau dia harus menahan diri, paling tidak sampai esok hari.
__ADS_1
“Anggap saja sebagai penebusan dosa,” imbuh Nando sembari membuang secarik kertas yang ditulis oleh mantan pemuas hasratnya yang memilih pergi karena mengharap cinta tak pasti dari pria gila macam Javier Fernando.
….