Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Kena tilang ibu negara


__ADS_3

"Baby, kau nyaman?" tanya Nando yang tetap menempelkan dagunya di antara dua pegunungan yang tinggi menjulang serta kepala yang mendongak ke arah wajah sang pujaan hati yang terlihat lelah.


"Aku tak merasakan apapun Steve, rasanya lemas sekujur tubuhku," keluh Juli. Pandangannya kabur, kebrutalan Nando membuatnya tak berdaya.


"Lagi ya?" Seakan tak menghiraukan keluh kesahnya, Nando meminta lagi dan lagi.


"Kau ini memang big baby! bagaimana jika aku memiliki anak dan ... ehm, itu tidak mungkin. Kita hanya sebatas 30hari dalam perjanjian partner ranjang. Mana ada pernikahan suci, anak-anak, aku terlalu berhalusinasi." Dalam perasaan yang tidak jelas, Juli tetap menyadari posisinya.


Nando bersimpuh di hadapan Juli masih dengan mempermainkan dua buah itu, memijatnya dengan perlahan dan lembut.


"Baby, aku menyukaimu, mencintaimu, menyayangimu! tanpa batas hari, 30 hari perjanjian pranikah itu kau yang membuatnya. Bagiku, kau adalah segalanya, ingin bersamamu seumur hidup, setiap hari,setiap detik." Nando kembali melahap buah kesukaannya tanpa jeda, tanpa ragu, tanpa bosan.


Seharian saja kuat, dia akan membuat Juli tak bisa melakukan apapun, bernafas saja harus seizin Nando. Pria casanova ini memang tidak waras.


"Hmmp ... cukup! aku lelah," pinta Juli yang tiba-tiba menutup matanya.


Nando panik, dia merasa sudah keterlaluan. Tetapi saat sang pujaan hati membuka mata ...


"Aku masih hidup, maka berhentilah menggila! jangan sampai aku benar-benar menutup mata untuk selamanya karena kebrutalanmu," tukas Juli mencoba meraih kesadarannya.


"Iya ... oke ... aku yang salah. Aku akan membantumu merapikan baju dan riasan mu yang hancur karena ku." Nando bangkit dari posisi awalnya dan duduk di kursi kemudi.


Dia merapikan baju, rambut, hingga riasan tipis itu dengan telaten.


"Sudah rapi, kau siap pergi ke butik?" tanya Nando sembari menatap sang pujaan hati yang masih lelah dan lemahnya.


Juli menganggukkan kepalanya, lidahnya kelu sepertinya.


Nando memahami posisi ini dan langsung tancap gas menuju butik langganan Nyonya Jeslin.


....

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, Nando menatap wajah Juli sembari memegang kendali stir mobilnya.


"Apa aku terlalu gila ya? dia kelelahan sepertinya, dia sangat menggemaskan saat tidur," ucap Nando yang masih belum puas dengan aksinya itu.


Saat dia fokus menyetir, tiba-tiba saja Juli mengigau.


"Kau yang gila Jack! kau yang berkhianat!"


Juli mengigau, Nando menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan.


"Baby! kau baik-baik saja?" tanya Nando. Dia sangat panik.


"Juli? baby?" imbuh Nando sembari memeluk tubuh itu, mencoba menyadarkan sang kekasih hati.


Tapi setelah itu, Juli kembali diam dan tenang.


"Syukurlah, dia hanya mengigau, aku kira dia kenapa," tukas Nando saat mengetahui wanita yang ia cintai tidak mengalami hal buruk seperti yang ada di pikirannya.


Nando kembali melanjutkan perjalanan menuju butik langganan sang ibu.


Perjalanan yang di tempuh selama kurang lebih setengah jam, kini berbuah manis meskipun Juli belum juga membuka matanya.


Nando keluar dari mobil dan membiarkan sang pujaan hati tetap tidur manis di atas jok mobil miliknya yang mewah itu.


Tap ... tap ... tap ...


Saat dia berjalan menuju pintu utama butik, dia di kejutkan dengan kehadiran salah satu partner ranjangnya yang lama tidak berjumpa.


Sang gadis juga sepertinya terkejut, namun dia hanya bisa diam karena dia datang bersama seorang pria yang Nando duga sebagai pendamping hidup si gadis yang pernah menjadi pemuas hasratnya itu.


Aman kalau dia sudah memiliki kekasih dan melupakanku.

__ADS_1


Batin Nando lega, dia ingat beberapa partnernya yang sangat dominan dalam bercinta, salah satunya adalah gadis yang baru saja Ia temui.


Mereka berpisah karena ayah sang gadis mengancam akan menjebloskan si gadis ke dalam jeruji besi jika gadis itu tidak menuruti perjodohan kedua orang tuanya.


Alhasil Nando dan gadis bernama Tania itu harus berpisah, perpisahan yang mengharu biru, dia memberikan servis luar biasa kepada milik Nando yang tidak akan ia dapatkan lagi yang seperti anu-nya si mesum.


Rasa ngilu kembali menggerogoti tubuhnya yang syarat akan permesuman tiada akhir.


Nando menghentikan bayang-bayang salah satu mentan pemuas hasratnya, dia hanya ingin fokus kepada Juli, hanya satu saja.


"Nando fokus kepada Juli dan pernikahan!" ucap Nando mempertegas sikapnya.


Si mesum menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan.


Dia kembali melangkah maju agar sampai di butik langganan sang ibu.


Kini kakinya telah berdiri di depan pintu utama butik yang terbuat dari kaca, tangan kekarnya menggenggam handle pintu kaca, dia berharap ibunya tidak ada di tempat itu karena setahu Nando, sang ibu akan datang di saat rasa gundahnya akibat ulah sang suami. Dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya berbincang di butik itu.


Tapi harapan tinggal harapan, Nando yang sudah terlanjur masuk ke dalam butik, langsung mendapat tatapan mengerikan dari istri nenek moyangnya casanova, Nyonya Jeslin.


"Steve? jelaskan kepada ibu semuanya disini," pinta sang ibu yang langsung mencegat langkah Nando.


"Sialan! kenapa ibu ada tempat ini," keluh Nando, dia pasti akan di tanya banyak hal perihal kehidupan bebasnya selama lima tahun itu.


"Kau mengatakan ibu sialan? kau yang sialan! lihat wajahku banyak keriput di sana sini, ini karena kau. Kau tahu? pria casanova tidak punya aturan! pulang!!!! bawa calon menantu bersamamu!" pekik sang ibu membuat seisi butik heboh.


"Iya ibu, jangan berteriak! aku juga paham apa mau mu ibuku sayang, my sweety! calon menantu ada di dalam mobil. Aku mau mencari gaun dan jas pengantin untuk kami berdua," jelas Nando.


"Ibu sudah siapkan! bawa ibu melihat calon istrimu yang tidak beruntung itu karena harus menikahi pria gila sepertimu!" canda sang ibu.


"Teganya!"

__ADS_1


"Memang kenyataannya! jangan protes!"


….


__ADS_2