Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Sebut namaku saja


__ADS_3

Nando masih merasa nyaman dipelukan hasrat penuh gairah itu. Sementara itu, Nando masih terus menggoda Juli, sampai wanita itu tak mampu bergerak lagi, dia hanya bisa menerima apapun yang dilakukan oleh Nando.


"Baby? apa yang kau ketahui tentang Jack?" Nando mencoba mencari tahu siapa sosok Jack Howard yang sesungguhnya lewat mantan istrinya.


"Dia pria kaya raya yang baik, waktu itu kami berpacaran hanya beberapa bulan saja kemudian menikah, setelah itu aku membantu adikku menyelesaikan kuliahnya. Aku minta tolong kepada Jack untuk memperbolehkan adikku menjadi sekretarisnya karena Xia bilang ingin pengalaman lain. Aku merekomendasikanmu adikku saat Jack ingin merekrut sekertaris baru." Juli mencoba membuka kenangan itu, dia mencoba tetap kuat dan tak bersedih.


"Baby, maaf! aku membuka kenangan buruk itu," ucap Nando yang kini memegang kendali, dia membiarkan tubuh Juli berada di dekapannya. Masih dengan berhati-hati dalam bergerak karena senjatanya belum sembuh sempurna.


"Haisssh! kau ini berlebihan, biarkan saja mereka seperti itu, aku akan menunjukkan bahwa Juli pasti bisa lebih baik dari mereka berdua!"


Juli sangat bersemangat, dia akan bangkit setelah ini.


Beberapa menit kemudian, ponsel Nando kembali berdering.


"Steve, ponselmu berdering, aku akan mengambilnya untukmu," ucap Juli yang keluar dari dekapan sang casanova. Posisinya ponsel yang berada di belakang tubuh Nando, membuat tangannya harus lebih ia majukan agar mampu meraih ponsel tersebut. Dalam satu kesempatan yang sama, dua buah kenyal itu bergelantungan tepat di depan mulut Nando.


Dasar pria mesum, dia mempermainkan pucuk itu lagi dengan lidah basahnya.


"Hmpp ... stop baby, aku sedang membantumu ... mengambil ponsel, tetapi kau ...." Si Juli geli sekali, dia mencoba menahannya, sampai ponsel sudah ada ditangan.


"Haha, maaf! kau yang menggodaku!" Nando menghentikan tingkah nakalnya kala Juli begitu tersiksa. Juli kembali masuk ke dalam dekapan Nando, dia membantu sang casanova memeriksa siapa yang menghubungi saat keduanya sedang bermesraan.


"Jovita? siapa dia Nando?" tanya Juli.


"Sialan, apa Santos memberikan nomor ponselku kepadanya?" Wajah Nando sangatlah masam, dia terlihat tak menyukai ini.


"Memangnya dia siapa?" tanya Juli kembali, dia begitu penasaran.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa baby." Nando sepertinya enggan membicarakan tentang Jovi.


"Steve! jujur, aku tidak mau bekerja sama dengan pria pembohong." Suara Juli terdengar kesal.


"Baby, aku hanya malas membahas masa lalu, dia Jovi, partner ranjangku yang masih saja mengejarku. Dia lebih parah dari yang lain, dia seusiaku. Sudah dua tahun ini kami lost kontak, dia pasti sudah mengancam Santos." Nando menjelaskan segalanya agar tidak ada kesalahpahaman.


"Terserah kau saja!"


Juli keluar dari balik selimut, dia berjalan dengan tubuh polos menuju kamar mandi.


"Baby! tunggu!  ... aw! ****!!!! apa lagi ini, rasanya tiba-tiba perih." Nando merasakan perih di bawah sana, dia sepertinya memang kena karma, dia harus benar-benar menghapus jejaknya di masa lalu.


Nando menelepon Santos untuk meminta konfirmasi.


"Santos! apa kau gila? kau sengaja memberi nomor ponselku yang baru kepada Jovi?" Nando mengatakannya dengan penuh amarah. Dia tidak terima jika pertobatan yang luar biasa sulit akan hancur dengan adanya Jovita.


"Maaf Tuan, dia memaksa." Santos pasrah, dia memang yang salah.


Nando pasrah, dia sedang mengalami masa-masa genting pertobatannya.


"Haisssh! panggil dokter pribadiku kemari cepat! jika aku masih saja sakit, mana bisa melawan Jack!" ucap Nando kesal.


"Baik Tuan."


Panggilan telepon berakhir, beberapa menit kemudian, Juli muncul dari balik pintu kamar mandi, wanita itu diam saja. Dia mulai merasakan apa itu cemburu.


"Baby? kau mau kemana?" tanya Nando lembut.

__ADS_1


"Menemui Jack," jawab Juli ketus.


"Apa? kau mau bertemu dengannya lagi? aku tidak terima baby! kau milikku!" Nando marah, dia tidak rela Juli menemui pria lain, apalagi sang mantan suami.


"Cih! aku sebut pria lain kau sudah marah! itu yang aku rasakan! kau paham kan? aku tidak akan kemana-mana, tidak pula bertemu Jack. Aku hanya ingin ganti baju!" Juli masuk ke dalam ruang ganti baju, di dalam sana, dia tersenyum. Caranya sudah cukup baik.


"Haha, dia cemburu. Aku suka," ucap Juli sembari memilah baju rumahan untuk wanita yang pas dengan ukurannya.


Setelah mendapatnya, ia segera mengenakannya.


"Cukup muat, meskipun terlalu seksi. Biarlah!" Juli tidak terlalu percaya diri dengan baju rumahan yang cukup seksi, kain yang melilit tubuhnya itu sangat ketat namun tidak membuatnya sesak. Baju itu super mahal dan kualitas tinggi.


Saat Juli keluar dari ruang ganti, dia terkejut bukan main kala tubuh kekar Nando tepat berada di depannya.


"Kau tidak bisa pergi dariku!" Bahkan rasa sakit di bagian vitalnya kini tak terasa lagi. Dia merasa cemburu buta.


"S-Steve ... apa yang kau ...." Belum selesai Juli berucap Nando sudah menghimpit tubuhnya, Nando melahap bibir ranum Juli dengan rakus.


"Hmppp!" Juli tak bisa berucap apapun, dia berusaha mendorong tubuh itu, tetapi tak mampu.


Dia hanya bisa pasrah.


"Hah! bagaimana rasanya? kau pahamkan?" Nando menyerang bibir itu hingga lecet, memang super serangan sang casanova.


"Kau gila ya?" Juli kesal, dia memegangi bibirnya yang lecet.


"Iya, aku memang sudah gila, tergila-gila padamu! jangan sebut pria lain saat bersamaku!" ucap Nando.

__ADS_1


"Cih, dasar casanova mesum! kau yang memulai! haisssh ... dasar pria tidak mau di salahkan!"


.....


__ADS_2