Partner Ranjangku Pria Casanova

Partner Ranjangku Pria Casanova
Belum Tuntas


__ADS_3

Cantika merebahkan tubuh moleknya di atas ranjang, dia tidak ingin membuat mood Nando kembali buruk, dia harus menerima jika Nando harus pergi sebelum menuntaskan hasrat menggeloranya.


Beberapa menit kemudian, Nando keluar dari kamar mandi, dia sudah lebih fresh dari sebelumnya.


"Baby? kau mau kemana?" tanya Cantika saat mendapati si pria sedang memilah pakaian yang akan ia kenakan.


"Ada orang yang membutuhkan bantuanku, baby, kau mandilah! setelah aku pulang, aku akan menuntaskannya. Kau belum mendapatkan jatahmu hari ini." Nando memang gila, dari sekian gadis yang ia peluk dalam dekapannya, sebagian besar dari para gadis, hanya mampu merasakan tumpahan lahar itu di mulut dan wajah mereka. Jarang sekali Nando menumpahkannya di rahim pada gadisnya.


"Tapi kau mau kemana? tempatnya?"


"Ya ada lah, kau tunggu aku,"


"Oke!"


....


Si casanova, kini tengah memakai stelan jas berwarna abu-abu. Dia sudah siap untuk menemui Juli yang sedang berada di rumah sakit. Namun, sebelum ia pergi, terlebih dulu mendekati Cantika yang sedang cemberut di atas ranjang.


"Sayang? kau marah?" tanya Nando sembari meraih dagu runcing Cantika dengan jari telunjuknya.


"No baby, hanya saja aku merasa ada yang aneh padamu. Hmmm, biasanya kau akan menuntaskan permainan kita, ini pertama kalinya kau pergi begitu saja," gerutu Cantika.


Nando merengkuh tubuh mulus itu di dalam dekapannya, kemudian mencium pucuk kepalanya.


"Baby, aku kan sudah bilang, setelah urusanku usai, kita lanjutkan lagi. Oke?" ucap Nando sembari mengusap rambut yang tergerai indah milik Cantika.


"Hm, oke. Hati-hati." Cantika melepas kepergian Nando dengan terpaksa.


Sang pria beranjak dari ranjang, dia segera keluar dari kamar kelima milik Cantika.


Sedangkan si gadis hanya mampu melihat punggung pria tampan itu tanpa bisa mencegah kepergiannya.


....


Langkah Nando terhenti saat ponsel miliknya tertinggal di kamar Kiara.


Dia segera mengambil ponsel itu di kamar sang gadis yang berada di sebelah kamar Kiara.

__ADS_1


KLEK!


Pintu terbuka, langkahnya ia perlambat karena tidak ingin membangunkan Kiara.


Dia segera mengambil ponsel yang ada di atas nakas.


Setelah itu, Nando segera keluar dari kamar Kiara tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Sial! demi apa aku melakukan semua ini, harusnya aku sudah meledak sejak tadi. Tetapi karena wanita malang itu, aku harus menunda kenikmatan yang harusnya aku dapatkan," umpat Nando.


Di balik pintu kamar Kiara dia mengumpat, dia tidak mengerti dengan dirinya yang begitu memperdulikan gadis yang baru saja ia kenal.


Untuk mempercepat langkahnya, dia bergegas menuju mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.


Tap ... tap ... tap


Langkahnya begitu yakin.


Dalam hatinya berkata bahwa dirinya harus menolong gadis bernama Juli. Dari sekian gadis yang memuaskan hasratnya, hanya wanita itu yang bersuami tetapi tidak merasakan kebahagiaan saat bersama.


Nando bukan pria kejam atau menyebalkan, dia hanya pria tampan penuh pesona yang mampu mengikat hati para gadis agar tidak pergi darinya.


Pemuja kenikmatan pantang untuk menjalani kehidupan yang lebih terikat, seperti menikah misalnya.


Nando sejak dulu hanya menikmati para gadisnya, merawat mereka dan bersenang-senang. Uang miliknya yang tak pernah habis itu, ia dapatkan dari kerja kerasnya membangun sebuah bisnis yang bergerak di bidang properti.


Nando, pebisnis muda yang memiliki kelebihan lain, mampu menyenangkan para gadis setiap harinya tanpa rasa lelah. Bahkan sampai berjam-jam melakukannya.


Bahkan dia mendapatkan julukan sebagai dewa kenikmatan oleh lima gadis pemujanya yang siap digilir untuk mencapai puncak berkali-kali.


....


Nando kini telah berdiri di samping mobilnya, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering.


Dia segera menjawab panggilan itu.


"Tuan, kami sudah merawat wanita yang melakukan tindakan bunuh diri itu. Biayanya bagaimana?" tanya si penelepon yang ternyata adalah pemilik bar.

__ADS_1


"Sebutkan nominalnya, aku akan mentransfer ke rekeningmu," jawab Nando sembari masuk ke dalam mobil mewahnya.


"200 juta Tuan," tukas pemilik bar.


"Bukan masalah besar, kau sebutkan nomor rekeningmu."


"xxxxxx."


"Oke, dua menit lagi, uang itu akan aku kirim ke rekeningmu."


"Baik Tuan, kau harus segera datang, aku kasihan dengan kondisinya," ujar si pemilik bar iba.


"Ya."


Nando menutup panggilan telepon itu, kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya.


Wussshh!


Mobil Nando melesat jauh menuju rumah sakit yang ada dia sendiri tidak mengetahui tempatnya, dia hanya menggunakan instingnya, karena hanya ada satu rumah sakit besar di sekitar bar itu.


Dia melajukan kuda besinya menuju rumah sakit yang ada di perkiraannya.


Jarak dari rumah menuju rumah sakit tidak terlalu jauh, jadi dia tidak terlalu terburu-buru sampai di sana.


"Wanita itu," ucap Nando sembari mengenang kembali sisa pergumulan keduanya yang menurutnya lebih menyenangkan daripada kelima gadisnya.


"Biasanya aku tidak terlalu berminat dengan wanita yang sudah bersuami, tetapi berbeda dengan wanita satu ini," imbuh Nando yang masih fokus menyetir mobilnya.


Dia membayangkan betapa indahnya jika bisa kembali menyentuh bibir ranum Juli, serta menindih tubuh mulus serta memompa wanita itu tanpa henti.


Bahkan suara desahaan Juli, masih tergiang di telinga Nando.


Juli adalah wanita yang berbeda, dia mampu membuatnya menikmati lenguhan demi lenguhan itu dengan kenikmatan tiada tara.


"Apakah karena dia wanita yang bersuami? jadi rasanya berbeda? ini yang di nama kan rumput tetangga lebih hijau. Haha, dia sedang menderita tetapi aku terus saja berfantasi tentangnya," batin Nando dengan senyum termanisnya, dia geleng-geleng kepala dengan dirinya sendiri yang selalu saja menggila saat memikirkan gadis yang memujanya. Sepertinya tidur dengan banyak wanita adalah hobinya, seperti ada yang kurang jika tidak melakukannya.


*******

__ADS_1


__ADS_2