
"Sudahlah ayah, aku tidak mau kau mengangguku lagi, bye!"
Sang casanova terlihat membuang ponsel keluar jendela dan meneruskan apa yang sudah ia mulai.
Namun sayangnya, sang istri sudah lelah dan dia ingin pulang ke rumah.
"Baby, ayo kita ulangi lagi."
Sang suami terus saja memaksa istrinya hingga panggilan telepon kembali berdering.
"Astaga, ada apa lagi ini."
Sang suami ngambek, dia lebih memilih untuk keluar dari mobil.
Julia menjawab panggilan telepon itu.
"Halo ibu, ada apa?"
"Pulang nak, aku akan memberikan pesta kejutan saat kalian berdua pulang nanti."
"Ya Bu, setelah ini kami akan kembali ke rumah dan menemui ibu dan ayah."
"Bagus, jangan membiarkan suamimu menggila di jalanan. Sampai rumah tepat waktu dan kau akan mendapatkan sesuatu yang sangat luar biasa dari kami."
"Wah ini sangat mengasikkan ibu, aku tidak tahu jika ibu memikirkan kami."
"Lho, aku ini ibumu, mana bisa aku meninggalkan kalian berdua meskipun sudah menjadi pasangan suami istri dan mandiri, apalagi hari ini adalah hari dimana suamimu dinyatakan sembuh atau masih melakukan terapi, aku terlalu mencintaimu dan anakku, tidak akan pernah bisa melepaskan begitu saja tanpa pengawasan."
"Ibu, kami sangat mencintaimu dan ayah."
"Sama, kami juga."
"Nanti kami akan pulang tepat waktu, tunggu kami pulang ya Bu!"
"Oke."
Panggilan telepon itu akhirnya berakhir.
Nando duduk di kursi kemudi dengan gayanya yang kaku," Aku tahu, jika mereka sangat mencintai kita tetapi tidak selayaknya mengganggu kesenanganku!"
Sang suami sungguh kesal, dia benar-benar ngambek.
Rasanya tidak ingin ada yang mengganggu hubungan keduanya setelah beberapa minggu melakukan terapi dan dinyatakan sembuh dari sakitnya.
Dia ingin merasakan kegembiraan itu lagi, hanya saja tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersabar menunggu istrinya mau menerima sepenuh hati setiap kasih sayang yang dia berikan.
Sang istri memahami hal ini, dia tidak suka berbasa-basi dan hanya semuanya cepat selesai ketika sampai di rumah mertuanya.
"Kita pulang, ayah dan ibu memberikan kejutan untuk kita."
"Oh."
"Hanya Oh?"
"Kau mau jawaban apalagi?"
"Marah ya?"
__ADS_1
"Tidak, hanya saja aku malas."
Nando terlihat langsung menancap gas mobil itu dan tidak memperdulikan apapun yang dilakukan oleh sang istri meskipun Julia meminta suaminya agar tetap tenang, jatahnya pasti akan terpenuhi.
Namun, Nando tetaplah Nando, ia sudah menunggu waktu untuk bersama beberapa minggu yang lalu dan hari ini adalah kesempatan pertamanya menyentuh sang istri tanpa sebuah halangan.
Pada kenyataannya, dia harus lebih memahami perasaan istrinya yang tidak bisa diganggu gugat mengenai suatu hal yang lebih intim dari kebersamaan keduanya.
Keduanya tetap diam tanpa pembicaraan satu katapun, hingga satu jam berlalu mobil itu telah sampai di depan rumah Ibu Nando.
"Masuklah dulu, nanti aku akan menyusul."
"Aku tidak mau masuk sebelum kau ikut bersamaku."
"Jangan manja, aku harus mengurus sesuatu dengan rekan kerjaku. Kau masuklah dulu."
"Sayang, kok jangan marah seperti itu karena kedua orang tuamu."
"Aku tidak marah."
Sang suami turun begitu saja dari mobil lalu membukakan pintu untuk sang istri.
Istrinya menuruti apa yang dikatakan oleh sang suami namun dia menarik pinggang suaminya.
Mereka berdua begitu dekat hingga ...
Cup!
Sang istri memberikan satu hadiah untuk sang suami agar tidak marah, tapi pria itu menjadi patung dan tidak berselera.
"Maaf, aku sedang tidak ingin."
Sang suami perlahan melepaskan diri dari istrinya, sepertinya Nando benar-benar kecewa.
Dia segera meninggalkan sang istri yang berdiri mematung ketika melihatnya menaiki mobil yang perlahan keluar dari area rumah mewah Tuan Heleas.
Julia tidak merasa terserah atas apa yang dia lakukan kepada sang suami namun dia juga harus patuh kepada kedua mertuanya.
Dia lebih memilih untuk berada di tengah-tengah dan menelpon sang suami agar segera pulang, dia mencoba melakukan panggilan telepon, Nando matikan panggilan itu tanpa menjawab terlebih dahulu.
"Aku tahu kau kesal, tapi kedua orang tuamu juga penting untuk kita. Aku harap kau bisa melakukan bakti pada ayah dan ibumu dengan baik."
Sang istri dalam kegalauan dan seorang wanita paruh baya menepuk pundaknya.
"Sudah dari tadi berdiri di sini?"
"Astaga, aku terkejut. Baru saja."
"Nando dimana?"
"Dia pergi, ada urusan."
"Oh, tidak perlu memikirkan suamimu itu yang kadang masih labil. Padahal kami akan memberikan tiket berlibur di Eropa kepadamu dan suami, aku dan suamiku memilih untuk menghadiahkan hal ini karena sangat mencintai kalian berdua."
"Huft, kadang suamiku itu tidak sabaran dan menyimpulkan segalanya tanpa berpikiran lebih jauh lagi."
"Sudahlah, jika dia sudah merindukanmu pasti akan pulang."
__ADS_1
"Kira-kira kemana dia pergi ibu?"
"Santos, dia hanya akan menemui Santos ketika merasa patah hati ataupun diasingkan oleh seseorang."
"Oh, baiklah. Aku mau istirahat dulu saja daripada memikirkan suamiku yang marah, kadang salah juga jika menghibur suamiku dan dia tidak menyambutku dengan baik."
"Tidak perlu merasa sendiri, Nando itu sama seperti Heleas, mereka sama-sama cemburuan, sama-sama suka perempuan, sama-sama suka kabur ketika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Ayah mertua juga melakukan yang hal sama?"
"Iya, dia seperti itu."
"Oh oke, aku masuk saja ke dalam rumah untuk memasak, Apakah aku ingin makan sup daging?"
"Aku mau."
"Baiklah, aku akan masak makanan itu untuk ibu."
Dua orang wanita berbeda usia yang merupakan anak menantu dan mertua terlihat berjalan menuju pintu utama rumah mewah milik Tuan Heleas.
Mereka cukup bahagia meskipun Nando sengsara di luar sana.
...
Di dalam mobil ....
"Santos, Aku kan sudah bilang padamu jangan sampai lupa jika aku akan ke rumahmu!"
"Maaf Tuan, tapi aku sedang ada di Eropa. Istri dan anak-anak aku ingin berlibur juga kan? masak iya, aku kerja terus. Apalagi tuan sudah tidak butuh aku lagi!"
"Haha ... aku selalu membutuhkanmu kapanpun dan kau harus ada setelah aku memberikan perintah, supaya tidak aku akan mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Hukum saja tuan Heleas, dia memintaku berlibur di Eropa dan ini memang keinginan istriku, suatu kebetulan yang cukup bagus."
"Aku juga mau berlibur."
"Minta tiket kepada ayahmu dan kita akan bersama-sama di Eropa."
"Cih, di Eropa hanya sendirian saja mana seru?"
"Istrimu?
"Dia lebih memilih bersenang-senang bersama ibuku daripada pergi bersamaku padahal saat kami bersama akan segera memiliki seorang cucu untuk kedua orang tuaku, Huft! apa salahku!"
"Cobaan bos, ini memang cobaan."
"Hahaha ... sialan!"
Sang pria lebih tua, sangat senang menghina bosnya meskipun lewat panggilan telepon.
Rencana pergi ke Eropa merupakan agenda tuan Heleas.
Ini tidak terlalu penting, hanya saja ada keseruan disana.
Sang mantan casanova, mulai puyeng saat hasrat tak segera tersalurkan.
*****
__ADS_1