
Note : Maaf gaes baru update, othor lagi sibuk banget, nanti othor tambahkan satu part di jam 21.00 ya? sebagai ganti jam 9 tidak up.
Terimakasih.
Happy reading 😍😍😍😍
Santos terus saja meledek pak sopir, tapi pak sopirnya hanya bisa mengumpat sekali dan diam setelahnya.
Dia tidak akan mengatakan apapun karena Tuan Muda Nando memang seperti itu kelakuannya. Selalu membuatnya senam jantung.
Apalagi saat kelima gadis itu benar-benar digilir oleh Nando saat berada di outdoor. Lebih menyeramkan lagi.
Pak sopir harus yang masih muda itu hanya akan berkomentar satu, dua kata agar si Tuan Muda berhenti sejenak untuk menjadi pria brengsek, namun apa yang dia katakan seperti angin lalu yang tak akan mendapatkan respon.
Dia akan kena mental menghadapi bunglon kelas kakap yang mampu merubah warna sesuai tempatnya berpijak.
Meskipun pijakannya sudah kabur saja, tidak membuatnya merubah sikapnya yang masa bodoh itu.
Entah apa yang melatarbelakangi sang casanova yang pikirannya tak akan pergi jauh dari dua buah kenyal yang menantang serta lembah sempit nan basah itu.
"Santos, cukup kau meledekku, sekarang aku ingin mengatakan bahwa Tuan Muda akan pulang ke rumah, tetapi sepertinya dia akan check in dulu di hotel bersama Nona Alea," ucap pak sopir.
"Ya, biarkan saja. Cukup kau awasi dia dan bilang padanya, jangan lupa jika dia harus menemui Nona Juli di rumah sakit karena sebelumnya dia sudah menjadwalkannya. Nona Juli akan membahas banyak hal yang penting dengannya," jawab Santos mengingatkan.
"Oke, Santos. Nanti akan aku sampaikan kepada Tuan Muda," tukas pak sopir.
Panggilan telepon itu pun berakhir, kini saatnya pak sopir melanjutkan acara makan yang tertunda.
"Hoam." Terdengar suara menguap si Tuan Muda, pak sopir langsung menawarinya makan.
"Tuan, makan dulu. Aku sudah membelikan makanan kesukaanmu," ucap pak sopir sembari memutar tubuhnya dan menyerahkan makanan serta minuman kepada Tuan Mudanya.
__ADS_1
"Hoam ... kau baik sekali, kapan kau membelinya?" tanya Nando dengan tangan menerima makanan dan minuman itu. Dia perlahan menikmatinya dengan lahap.
"Enak," imbuh sang casanova dengan jajaran gigi putihnya yang mengunyah makanan itu.
"Tentu saja, aku membelinya di sana," jelas si sopir sembari menunjuk Cafe yang dimaksud.
"Oh itu, iya Cafe favorit yang berada di dekat bandara internasional Charles de Gaulle," jawab Nando tanpa menatap sang sopir. Dia sedang menikmati makanan itu dengan menatap para gadis cantik yang berlalu lalang di jalan.
"Aku tergoda untuk mendapatkan gadis-gadis itu pak sopir, menurutmu bagaimana?" Muncul ide gila dari Nando, membuat si sopir kembali nyut-nyutan kepalanya.
Astaga! dia memang casanova sejati. Tapi bagaimana dengan komitmen 5 gadis saja? tidak bisa dibiarkan! aku harus mencegahnya.
Pak sopir berpikir, dia mencari cara untuk menghentikan kegilaan Tuan Mudanya.
Beberapa menit setelahnya, dia mendapatkan ide yang bagus.
"Tuan, tadi Santos menelponku. Dia bilang Nona Juli ingin bertemu." Ide brilian pak sopir. Dia yakin Tuan Mudanya akan berhenti memikirkan hal gila lagi.
Padahal, dengan gadis lain, dia enggan memikirkan semua itu.
Mereka semua terlalu posesif, beda dengan Juli yang akan konsisten dengan ucapannya.
Sepertinya ide sang sopir berhasil, sejak membahas tentang Juli. Nando tidak memikirkan ide gila lagi, dia lega.
Haha ... sekarang aku mengetahui kelemahan Tuan Muda. Ehm ... tapi, siapa sebenarnya Juli? aku harus banyak bertanya kepada Santos.
Sang sopir sudah mendapatkan pawang untuk Tuan Mudanya. Dia berharap, selanjutnya Nando tidak akan mencari gadis lain untuk ia gilir setiap harinya.
....
Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, tidak terasa kurang tiga jam lagi pesawat tujuan dalam negeri akan segera lepas landas.
__ADS_1
Sembari menunggu pukul 07.00, Nando meminta pak sopir untuk melanjutkan jalan-jalannya. Dia belum cukup menikmati udara pagi serta pemandangan indah kota Paris.
Pak sopir segara membereskan bekas tempat makan dan minum miliknya dan Tuan Muda, serta membuang tissue penuh dosa sang casanova di tempat sampah.
Setelah beres, si sopir tancap gas menuruti permintaan Nando.
Di sepanjang perjalanan, Nando diam. Ini tidak seperti biasanya.
Si sopir inisiatif bertanya.
"Tuan memikirkan apa? pasti Nona Juli ya?" tanya si sopir.
"Kau sok tahu!" jawab Nando ketus.
"Lalu apa Tuan?" tanya si sopir kembali.
"Ibuku, terakhir aku dengar dari Santos jika dia sakit. Sebelum dia benar-benar memakiku karena tak kunjung menikah, aku akan membawa Juli bersamaku dan memperkenalkannya sebagai calon menantunya," jelas Nando yang membuat pak sopir menghentikan secara mendadak mobil mewah itu.
"Apa? menikah?" Sang sopir melongo saking terkejutnya.
"Haha, kau kaget seolah-olah aku sudah tobat saja! berhati-hatilah berkendara, jika kau menghentikan mobil secara mendadak, akan membuatmu mendapatkan masalah! semisal hukuman dariku?" Tuan Muda sungguh tenang, dia tidak marah tapi ancamannya sungguh mengerikan.
"Tidak Tuan, aku hanya terlalu excited. Lain kali aku akan berhati-hati. Ngomong-ngomong, apa Tuan akan benar-benar menikah dan bertemu Nyonya Besar?" tanya si sopir kepo.
"Iya, aku akan menjadikan Juli tameng, agar kedua orang tuaku tidak terlalu berisik ingin menikahkan aku dengan gadis pilihan mereka. Ini adalah simbiosis mutualisme antara aku dan Juli. Dia butuh bantuanku, aku pun sebaliknya," jawab Tuan Muda dengan santainya.
Fiuh, aku kira dia akan berhenti bermain-main. Ternyata oh ternyata.
Dia mengelus dada, berharap Tuan Mudanya segera bertobat.
….
__ADS_1