
Perbincangan keduanya terasa aneh karena Nando terdengar canggung dan terbata-bata dalam berucap. Kadang ada jeda ingin ini, ingin itu. Ada saja alasan untuk menghindari beberapa pertanyaan yang Juli ajukan.
Tapi keduanya merasa nyaman meskipun tak senyaman saat keduanya bertatap muka, melepas gairah dan kemesraan bersama dalam satu tempat peraduan.
Mereka berdua lebih kepada dua orang yang baru saja mengenal, tanpa mengetahui seluk-beluk kehidupan masing-masing.
Kadang, untuk sekedar tersenyum saja keduanya sungkan, seakan ada debaran lain yang mampu mengoyak hati keduanya, menembus dasar hati yang haus akan kasih sayang dan perlindungan.
Begitu hebatnya perasaan itu, hingga atas nama cinta yang entah berwujud apa, mampu menyatukan dua hati yang memiliki beribu perbedaan, menjadi satu kesatuan dalam harmoni kasih yang belum mereka ketahui.
Semuanya masih misteri, entah Juli atau Nando.
Mereka berdua masih memahami arti cinta sejati yang sesungguhnya.
Di saat Juli mencari Steve yang telah bertransformasi menjadi pria matang penuh pesona bernama Javier Fernando, dia belum menyadari jika orang yang selama ini ia cari ada di depan matanya, dia yang akan menolongnya, membawa wanita malang itu bangkit menuju kebahagiaan yang hakiki bersamanya.
....
Dag ... Dig ... Dug
Terdengar debaran yang sangat kuat di dalam dada, seakan meminta izin untuk melompat dari tempatnya, bahkan Nando kini sudah kehabisan pertanyaan.
Semuanya sudah ia tanyakan, bahkan sampai hewan kesukaan Juli pun ia pura-pura kepo untuk menstabilkan desir yang kadang mampu membuatnya harus berulang kali menghela nafas panjang hanya untuk menanyakan hal sederhana.
Tapi ada satu yang belum ia sampaikan, padahal kata-kata ini sangat ajaib dan vital.
Kata-kata itu semisal, kau mau menjadi temanku?
Dia sudah siap menanyakan hal ini, tapi menunggu Juli menceritakan tentang kucing peliharaan.
"Haha ... aku memang suka kucing, awalnya Jack tidak menyukai hewan imut itu. Tapi aku merenggek dan akhirnya dia mengizinkanku merawatnya di rumah," ucap Juli terdengar antusias dalam menceritakan hewan kesayangannya.
__ADS_1
"Aku kira kau suka buaya atau bunglon, jadi aku ada kesempatan untuk mendekatimu," celetuk Nando mengandung promosi dan pedekate.
"Kwkwk ... buaya? bunglon? itu kan kau! berat urusannya jika aku memelihara dua spesies itu, rumahku akan penuh dengan gairah yang membara wkwkwk pada enaa-enaa terus nanti buaya dan bunglon jadi-jadiannya." Juli sudah memahami arti kiasan dua hewan itu, pasti mengarah ke pria matang yang banyak tingkah itu.
"Astaga! mengapa kau jahat sekali? apa yang kau katakan memang benar," jawab Nando datar.
"Haha ... haha ... haha ... baru kali ini, ada pria brengsek mau mengakui jika dia memang brengsek. Tapi bagus, semoga kau segera bertobat ya Tuan Nando," tukas Julia yang kini bisa tertawa lepas, tertawa bahagia karena pria casanova. Dia belum menyadari jika rasa nyaman itu mampu menjadi cinta. Cinta yang akan tanpa pamrih, tanpa basa-basi.
"Aku bukan pria brengsek, hanya saja terlalu banyak tingkah dan kebetulan cerdas dan tampan. Apalah daya, aku hanya menjalani anugrah Tuhan ini," jawab Nando yang selalu percaya diri dan sombong.
"Astaga ... astaga ... astaga ..., apa ini Tuan Nando? kau harus banyak-banyak meminta ampun kepada Tuhan, kau terlalu sombong menjadi manusia, bertobatlah! hehe ...." Juli menjadi apa adanya saat berbincang dengan pria pemilik suara seksi nan menawan itu.
"Ini sedang menuju jalan itu, Ehm ... Juli? aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, tapi kau jangan menertawakanku." Nando mencoba mengambil ancang-ancang agar saat dia berucap serius, Juli tidak menganggapnya hanya bercanda.
"Pertanyaan ini, serius?" tanya Juli.
"Ya, jadi kau harus menjawabnya dengan serius juga," jawab Nando memberikan aba-aba.
Nando terlihat menutup matanya, mencari ketenangan agar apa yang ia tanyakan tidak menjadi humor lagi.
Setelah itu, dia membuka matanya, menghela nafas panjang kemudian mengeluarkannya dengan perlahan.
"Juli, mau kah kau menjadi temanku?"
Akhirnya, pertanyaan itu berhasil lolos dari mulut penuh dusta Nando yang sedang menuju proses pertobatan yang sesungguhnya.
"Apakah hanya itu pertanyaan yang ingin kau ajukan kepadaku?" Juli tidak menyangka, ternyata pertanyaan Nando begitu simple. Jika menjadi teman Nando, bukan sesuatu yang sulit, dia pasti akan mengatakan," Ya, mari kita mulai berteman."
Hati terdalam Nando membuncah, dia membuang ponsel Santos di atas ranjangnya, kemudian dia bangkit dan berjingkrak di atas bidang empuk tempat peraduan akhir melepas lelahnya.
"Haha ... akhirnya, dia mau menjadi temanku, setelahnya menjadi kekasih dan benar-benar menjadi istriku yang utuh ... Haha ...."
__ADS_1
Nando telah tenggelam di dalam rasa bahagia yang tak terkira, sampai suara pintu yang di ketuk saja ia tidak mendengar.
KLEK!
Terdengar suara pintu terbuka, terlihat Santos muncul dari balik pintu.
Dia terpaksa masuk ke dalam kamar pribadi Nando tanpa seizinnya sebab Santos membutuhkan ponsel miliknya yang dipinjam oleh Nando.
"Tuan?" ucap Santos yang sudah berdiri di sisi ranjang.
Nando menghentikan tingkah kekanak-kanakannya, dan duduk seperti bocah yang kegep melakukan kesalahan.
"Santos? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nando dengan raut wajah polos.
"Aku ingin mengambil ponsel milikku Tuan," jawab Santos santai.
"Oh, oke, sebentar, aku akan mengucap salam perpisahan kepada teman baruku," ucap Nando yang kembali meraih ponsel yang teronggok di ranjangnya.
Tapi saat ia melihat panggilan keluarnya, ternyata sudah tidak terhubung lagi, dia mengacak rambutnya kasar.
"Sial! Juli sudah menutup panggilan telepon dariku." Sesal Nando, dia seharusnya tidak terlalu excited.
"Tuan bisa menghubunginya nanti, jangan risau. Mungkin saja si dokter harus segera pergi dari ruangan Nona Juli, dia ada kesibukan lain." Santos mencoba menenangkan sang majikan yang terlihat kecewa.
"Nanti aku akan membeli ponsel untuk Tuan dan Nona, ponsel couple, biar terasa cinta kasihnya," sindir Santos.
"Haha, ide bagus. Kau memangnya punya uang? sok mau membelikan ponsel?" tanya Nando meremehkan.
"Wah ... Tuan meremehkanku, aku banyak uang saat berkerja denganmu. Aku membeli dengan uangku, tapi nanti Tuan yang menggantinya, haha." Ternyata oh ternyata, Santos sangat cerdik.
"Tetap saja, tidak mau rugi!'
__ADS_1
….